Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Cincin Emas


__ADS_3

Lampu strobe milik fotografer sedari tadi terus berkedip. Jedanya hanya ketika objek foto menganti pose atau mengganti orang yang dipotret.


Keluarga besar Ruri berkumpul di satu ruangan besar berdinding putih. Walau ukuran ruangan tersebut cukup untuk menampung beberapa kepala keluarga, tetapi suasana di dalamnya sesak karena mereka saling berebut oksigen.


Ruri jengkel menatap Lecia yang sedari tadi tidak bisa diam. Hampir sebagian besar lensa kamera menangkap gambar dirinya dengan kedua mempelai. Tingkahnya yang pencicilan dan penjilat, melengkapi rasa kesal Ruri kepadanya. Dia heboh sendiri, apakah dia tidak menyadari atau tidak peduli anaknya–Gagas– tidak hadir di tengah mereka?


Ruri terus melirik pintu masuk ruangan kosong bernuansa putih yang telah diatur menjadi latar belakang pemotretan, sedari tadi Gagas belum juga menampakkan batang hidung. Semakin lama waktu berjalan semakin gelisah Ruri dibuatnya.


"Gagas sialan! Ngapain lu bawa Alita ke kebun bunga! Awas kalau lu macam-macam. Kesepakatan busuk ini seharusnya tidak ada dari awal," umpatnya sendirian.


"Ruri, apa yang kamu katakan?"


Roland memperhatikan bibir anaknya komat-kamit. Dia penasaran dan bertanya. Ruri menggeleng sebagai jawaban.


Setelah sesi foto selesai, Ruri langsung berlari menuju taman bunga, menghiraukan tatapan para tamu ketika dia berlari di antara mereka. Belum lama Ruri melangkah, sorak-sorai kebahagiaan disertai gemuruh tepuk tangan saling sahut-menyahut ketika kedua mempelai keluar dari rumah.


Ruri menoleh sebentar ke belakang. "Ck! Gue terlalu lama menghabiskan waktu!"


***


Alita masih terdiam mencerna perkataan Gagas barusan. Dia yang semula duduk menyamping, beralih memperbaiki posisi duduk hingga kakinya menghadap ke arah tembok putih di depan.


"Ah, maaf, aku keceplosan," bela Gagas sambil membuang wajah.


"Keceplosan?" tanya Alita mengernyitkan kening.


"Sedari tadi aku gelisah ingin mengatakannya, pikiranku dipenuhi dengan kalimat tersebut. Jantungku berdebar tak karuan, karena sudah terlalu tidak sabar aku jadi mengacau seperti ini." Gagas mengaruk tengkuknya. "Tapi, aku serius, Alita. Ucapanku barusan tidak bohong," tambahnya dengan raut serius.


Alita tercengang beberapa saat. "Kita ke sini mau menunggu Ruri. Dia akan datang, kan?" Dia mengubah topik pembicaraan, napasnya perlahan memberat.


Bola matanya kembali liar menelusuri sekeliling. Sosok Mirai, Kagami dan Ruri seakan hilang ditelan bumi, setelah Gagas datang menghampirinya.


Irama detak jantung Alita kembali kacau ketika ekor matanya menangkap pergerakan dari Gagas. Bukannya menjawab pertanyaan yang dia layangkan, laki-laki tersebut malah mengeluarkan ponselnya, meletakkan benda pipih itu di kursi yang tadi dia duduki. Kemudian berdiri di depan Alita.

__ADS_1


Tubuh Alita menegang, karena Gagas berdiri cukup dekat dengannya. Hanya berjarak satu meter.


"Ke–kenapa, Gagas? Ada apa?" Alita tergagap, punggungnya merinding melihat senyum aneh yang Gagas layangkan.


Gagas menatap Alita intens, disertai sudut bibir yang tidak berhenti terangkat. Tangannya merogoh sesuatu dari saku dalam jas yang dia kenakan. Sebuah kotak kecil berwarna hitam terangkat ke udara tepat di depan wajah Alita. Kemudian sebuah cincin emas terlihat berada di dalam sana setelah Gagas membuka kotak tersebut.


Gagas menelan ludah yang terasa sangat kental. Dalam sekali tarikan napas, dia menyampaikan isi hatinya untuk yang ke sekian kalinya. "Alita, sudah lama aku mencintaimu. Izinkan aku menjadi pelengkap hari-harimu. Jadilah pacarku, Alita," ungkapnya dengan mata penuh harap.


kemudian Gagas berlutut di depan Alita, untuk mempertegas perasaannya kepada gadis tersebut. Bahwa dia benar-benar mencintainya.


Bunga warna-warni yang bergoyang diterpa angin sore, seolah terlihat menari-nari di belakang kursi yang Alita duduki. Suasana sore tersebut menambah kesan romantis di antara mereka. Kicauan burung di pohon besar yang berada di sana seolah mendukung tindakan Gagas.


Alita tidak bisa bereaksi apa-apa kecuali mata yang membelalak. Pikirannya kosong, dirinya bahkan sampai lupa bernapas saking terkejutnya.


Gagas masih berlutut di depannya, celana laki-laki tersebut kotor setelah bersentuhan langsung dengan tanah. Tangannya terus terangkat seraya menunjuk cincin di depannya, senyuman tulus terus dilayangkan. Napasnya memburu, tidak sabar mendengar jawaban dari pertanyaan barusan. Hati Alita tertegun tidak berdaya.


Cinta? Jatuh cinta? Dua hal itu tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran Alita. Dia terlalu terobsesi dengan uang, isi kepalanya jauh berbeda dari remaja kebanyakan. Alita bahkan tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.


Bibir Alita bergemetar, perlahan dirinya bersuara. "Maaf, Gagas. Aku tidak ingin berpacaran," jawabnya ragu.


Entah kenapa detak jantung Alita bereaksi cepat mendengar penuturan Gagas barusan. Jemarinya perlahan terasa dingin, padahal matahari masih bersinar menyinari mereka. Seluruh tubuhnya merinding. Apakah ini rasanya jatuh cinta atau Alita hanya ketakutan?


"Tidak. Aku, tidak menginginkannya. Aku betah sendiri," balas Alita cepat seraya menghindari kontak mata dengan Gagas.


Dirasa lelah terus berlutut sedari tadi, Gagas perlahan bangkit. Tangannya menepuk-nepuk lutut, mengusir noda dari sana. Kotak hitam berisi cincin tadi masih terbuka. "Kenapa begitu? Apakah sebenarnya kamu sudah mencintai orang lain, atau kamu sudah dimiliki orang lain?" Matanya menyipit.


Alita menggeleng beberapa kali, tangannya meremas gaunnya semakin kuat. "Tidak. Aku tidak ingin mencintai atau dicintai. Lebih tepatnya, aku tidak ingin memiliki hubungan romantis dengan seseorang. Apakah itu salah." Matanya masih menunduk.


Senyum di bibir Gagas menghilang. Matanya yang semua memancarkan aura ketulusan beralih mengintimidasi. Kotak hitam yang dia pegang dilempar paksa ke sebelah Alita. Suara dentuman benda yang dilempar membuat Alita terkesiap.


Gagas melipat tangan di depan dada. Dia masih berdiri di depan Alita. "Bohong. Alasan konyol seperti apa itu." Nada bicaranya datar.


Sikap dan cara bicara Gagas berubah seratus delapan puluh derajat. Aura mengintimidasi darinya langsung membuat sekujur tubuh Alita bergetar.

__ADS_1


"A–Aku serius. Apakah aku salah memiliki pola pikir seperti itu?"


Gagas menulikan telinganya. Dia menatap nyalang wajah Alita yang mulai berkeringat dingin.


"Aku mencintaimu, Alita. Jadilah pacarku, pelengkap hari-harimu, bagian dari hidupku. Jadilah istriku. Apakah aku salah, Alita? Aku mencintaimu!" Gagas mengulang ucapannya dengan nada tinggi.


Darah Alita berdesir, bulu kuduk kembali meremang. Wajahnya semakin dalam menunduk. Rasa dingin perlahan menjalar di bagian kaki. "Tidak Gagas, aku tidak ingin memiliki hubungan romantis dengan seseorang. Aku masih SMA dan betah sendiri!" bentak Alita akhirnya.


Hati Gagas terasa sakit, napasnya memberat. "Lu suka sama Kagami, kan? Lu cinta sama dia, kan? Mustahil kalian bersama tanpa ada rasa!"


Ini pertama kalinya, Gagas berbicara dengan Alita menggunakan lu-gue. Suaranya barusan benar-benar menyiratkan emosi yang teramat dalam.


Alita menggeleng cepat. "Tidak, kamu salah!"


Gagas langsung mencekam kuat rahang Alita tanpa ampun. Mata penuh emosi menatap intens gadis di depannya yang tengah menahan sakit. Cekamannya semakin dipererat tatkala Alita meringis. Urat leher gadis itu timbul.


"Brengsek! Apa yang lu lihat dari Kagami, ha? Laki-laki buruk rupa seperti dia tidak pantas untuk lu. Gue punya uang, gue punya kuasa. Gue bisa jamin lu hidup bahagia sama gue. Apa lagi yang lu mau? Gue bisa kasih!" Hardik Gagas bertubi-tubi.


Alita tidak bisa bersuara, tangannya mengambil ancang-ancang melakukan perlawanan, tetapi refleks Gagas lebih cepat. Kedua kaki Alita diinjaknya selagi kedua tangan gadis tersebut ditahan ke atas.


"Kalau lu nggak mau terima gue, lu nggak boleh dimiliki laki-laki lain!" Bola mata Gagas membara, dia tersenyum licik di waktu bersamaan melihat Alita semakin menderita.


"Simpan air mata lu, Bangsat! Lu harus ma—"


Suara Gagas terpotong ketika seseorang mendorong tubuhnya sekuat mungkin hingga tersungkur ke tanah. Gagas yang tidak tahu siapa yang telah mendorongnya langsung mendapat pukulan bertubi-tubi di wajah hingga tidak dapat kesempatan sedikit pun untuk membuka mata.


Setelah cekaman Gagas terlepas, Alita menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Wajah manisnya berhias air mata, menatap ke arah laki-laki berbaju hitam yang tengah memukul Gagas secara membabi-buta.


Alita menyeka kasar air matanya, menatap laki-laki berbaju hitam itu sekali lagi.


Punggungnya yang lebar, perawakan tubuh yang tinggi. Lengan yang kekar, rambut yang senantiasa tersisir rapi serta aroma parfum dari tubuh laki-laki itu membuat air mata Alita kembali mengalir deras. Tanpa melihat wajahnya, Alita sudah bisa menebak siapa dia. Seseorang yang selalu bersamanya hampir setiap hari. Seseorang yang selalu duduk di depannya sebagai pengemudi motor.


Bibirnya bergemetar. "Ka–Kagami?"

__ADS_1


Alita semakin terisak ketika Kagami menoleh ke arahnya.


"Maaf aku terlambat."


__ADS_2