
Pita mendengkus kesal, lalu menatap ke arah Kagami yang tengah kebingungan melihatnya.
"Kagami! Angkat akordeon ini ke sana, kamu, kan, cowok!" perintah Pita kemudian.
Tanpa banyak alasan Kagami langsung mengangkat akordeon tersebut dengan kotak hitam yang menutupinya. Sedangkan tas sekolah miliknya dibawa oleh Alita.
Ruri, Alita dan Pita berjalan di belakang Kagami yang tengah kewalahan membawa benda berat di pelukannya.
Pak Arka berekspresi datar melihat kelakuan keempat remaja di depannya.
"Maaf membuat Bapak menunggu lama di sini," kata Kagami setelah sampai di dekat Pak Arka. Napasnya tidak beraturan.
"Pita!" Pak Arka melirik Pita yang tengah cengengesan di belakang Alita.
"Bawa akordeon ini kembali ke tempat semula. Bukannya kamu yang menyembunyikan benda ini di sana?" perintah Pak Arka dengan sorot mata mendelik.
Gadis berponi itu memajukan bibir, lalu meraih akordeon yang berada di pelukan Kagami.
"Eh, benda ini berat, loh. Apalagi jika kamu angkat bersama dengan kotaknya. Serius nggak apa-apa? Mau aku bantuin bawakan?" tawar Kagami cemas.
"Tidak usah, Kagami. Pita itu kuat, kok, kayak raksasa. Dia cuma malas aja. Buktinya setiap hari akordeon itu dia bawa ke sini, dan setiap hari juga saya suruh dia kembalikan ke tempatnya! Ha ha ha!"
Pak Arka tertawa kecil dengan ucapannya. Sedangkan Pita berlalu dari sana sambil membawa akordeon di pelukannya. Terlihat jelas, kekesalan tercetak di wajah gadis itu.
"Sepertinya kalian menemukan teman baru, ya?" ucap Pak Arka seraya melirik ke arah Pita yang tengah sempoyongan karena membawa beban berat di pelukannya.
"Nggak. Kami kebetulan saja berteman dengannya. Suara yang dia miliki sangat mencolok," balas Ruri dengan nada dingin.
Pak Arka tertawa menatap ke arah gadis kacamata tersebut. "Kamu benar-benar mirip dengan ayahmu!" Dia memukul pundak Ruri, membuat gadis itu meringis.
"Ayo kita berkeliling sangar ini dulu. Karena sangar ini sangat luas, saya tidak bisa janji jika bisa menunjukkan setiap bangunan dan ruangan kepada kalian hari ini. Jika belum puas. Kalian boleh datang ke sini lagi, kapan-kapan."
Ketiga remaja tersebut mengaguki ucapan Pak Arka, kemudian mereka mulai berjalan mengikuti langkah pria tua tersebut dari belakang.
Pak Arka mengenalkan setiap bangunan yang kebetulan berada di jalan setapak yang mereka lewati. Tidak banyak, hanya beberapa yang bisa dia jelaskan. Napas pria tua tersebut tersengal-sengal karena usianya yang sudah semakin tua. Walaupun begitu dia masih memiliki semangat untuk mengajar di sangar miliknya
"Gimana, Kagami? Kamu tertarik ingin belajar di sangar ini?" tanya Pak Arka secara tiba-tiba.
__ADS_1
Laki-laki yang ditanya terdiam beberapa saat. "Sepertinya tidak sekarang, Pak. Saya mau fokus sekolah dan kerja dulu," jawabnya, terbesit keraguan di nada bicaranya.
"Kalau kamu mau belajar di sini, kamu bisa berhenti kerja, Kagami. Kenapa kamu tidak menerima tawaran Pak Arka?" Alita bersuara.
Kagami menatap gadis manis berpipi tembam itu sesaat. "Aku rasa bukan sekarang, Alita. Aku masih ingin fokus sekolah dan kerja. Menjalani hari-hari seperti biasanya." Dia tersenyum tipis.
Ruri menyenggol lengan kekar milik Kagami. Tatapan mereka bertemu. "Asalan aja lu! Bilang aja nggak bisa jauh dari Alita!" bisik Ruri sambil menjulurkan lidah mengejeknya.
Kagami tersipu mendengarnya.
"Ha ha ha! Kalian benar-benar remaja yang baik. Walaupun ayahmu pemilik panti asuhan, kamu masih tetap mau mandiri dengan cara bekerja sendiri, ya, Kagami? Luar biasa sekali!" puji Pak Arka disertai tawanya yang terdengar garing.
Kagami menunduk, sorot matanya meneduh mendengar perkataan Pak Arka. "Iya, Pak," jawabnya pelan.
Di penghujung tour mereka, Pak Arka mengajak ketiga remaja tersebut menuju ruang pribadi miliknya. Bisa dibilang itu adalah kantor yang berisikan barang-barang dan berkas-berkas berharga miliknya. Tidak sembarangan tamu yang bisa memasuki ruangan tersebut, tetapi karena besar harapannya dengan Kagami, Pak Arka tidak ragu menujukan ruang tersebut kepadanya.
Saat pintu terbuka, terlihat Pita tengah duduk sambil memetik ukulele dengan nada sembarangan. Mata mereka bertemu dengan gadis berponi tersebut.
"Pita, jangan merusak apa pun!" tegur Pak Arka, kemudian dia menyuruh ketiga remaja itu duduk di sofa panjang yang berada di sana.
Setelah mereka duduk di sofa tersebut, Pak Arka masuk ke sebuah ruangan kecil yang berada di ruangan itu. Kemudian keluar sambil membawa beberapa minuman instan.
Pita mencebik melihat jumlah minuman yang Pak Arka keluarkan. "Kenapa hanya tiga? Untukku mana? Tadi aku udah capek-capek bawa akordeon ke sini!" kesalnya lagi.
"Ambil sendiri. Kamu bukan tamu," jawab Pak Arka.
Pita berlalu dari sana untuk mengambil minuman.
"Pita, tolong bawakan dua foto yang berada di meja kerja saya," perintah Pak Arka lagi sambil berteriak.
Tak lama setelah itu Pita keluar dari ruangan kerja Pak Arka, sambil membawa dua buah bingkai foto dan tiga minuman instan di pelukannya.
"Banyak banget minumannya." Kagami keheranan.
"Buat aku semua! Kalian jangan minta!" ketus Pita lalu dia duduk di tempatnya kembali.
Ruri, Alita dan Kagami duduk di sebuah sofa panjang, menghadap Pak Arka yang duduk di sofa lainnya di depan mereka. sedangkan Pita duduk di sofa yang berada di samping.
__ADS_1
Foto yang berada di tangan Pak Arka ditelungkup satu ke meja, kemudian foto satunya ditunjukkan kepada ketiga remaja tersebut.
"Lihat. Dia adalah teman saya dan rival yang sebelumnya pernah saya ceritakan kepadamu, Kagami."
Pak Arka menunjuk sebuah foto. Di sana terlihat Pak Arka yang masih muda tengah berdiri di sebelah seorang pria lain yang terlihat jauh lebih muda darinya. Mereka memegang gitar di foto tersebut seraya tersenyum lebar menghadap kamera.
"Itu ayah aku!" timpal Pita kemudian.
"Eh, jadi teman bapak sekaligus rival bapak dulu adalah ayah Pita. Dan Pita adalah anak perempuan semata wayang teman bapak, yang sempat bapak bandingkan dengan saya?"
Suara Kagami membuat Pita mendelik. "Bandingkan? Maksudnya?" Dia tidak mengerti.
"Pria ini lebih mirip Kagami daripada Pita," tutur Ruri santai, Pak Arka tertawa mendengar pendapatnya.
"Anak Roland Nagemi benar-benar jeli, ya. Persis sepeti ayahmu!"
Lagi dan lagi, Ruri mencebik jika mendengar dirinya disamakan dengan sang papa.
"Iya, nama teman saya ini Sanjaya Loka Noa. Selain rival dia juga yang bantu saya mengurus sanggar ini jika saya sibuk keluar kota. Dan dialah orang yang saya bilang, sangat mirip dengan kamu, Kagami. Lihat, wajah kalian mirip!" Pak Arka kembali terbahak-bahak, tawanya membuat remaja di sana keheranan.
Pita mengerutkan dahi, dia meneliti wajah Kagami lebih detail lagi. Kemudian membandingkan lagi dengan foto ayahnya.
"Mata Pak Arka udah rabun. Mata Ruri juga sama. Mana bisa dipercaya. Jelas-jelas itu ayah aku!" celetuknya kemudian.
"Terlihat sama bukan berarti sedarah, Pita," timpal Alita menjelaskan.
Perdebatan mereka berhenti ketika seseorang mengetuk pintu ruangan yang mereka tempati.
"Sepertinya ada tamu. Pita, buka pintunya," titah Pak Arka.
Pita dengan wajah merengus berjalan menuju pintu masuk.
"Siapa, sih?" katanya sembari membuka pintu.
Setelah pintu tersebut terbuka, sosok yang berada di balik sana membuat Pita terkejut. Matanya membelalak dengan mulut mengangga.
"Aaa ...!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja dia memekik histeris.