Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Berjalan Selangkah


__ADS_3

Ruri tersenyum ramah membalas perkataan Hendro.


"Baik, Pak. Terima kasih sudah mengizinkan Mirai bergabung bersama kami."


Selsi tersenyum mendengarnya. Tangannya mengusap rambut Mirai sekali lagi sebelum mereka pamit dari sana.


Kabar Mirai yang sudah mendapat izin dari paman dan bibinya telah sampai ke telinga Alita dan Kagami.


Alita bersorak bahagia mendengarnya. Begitu juga Kagami yang memberi respons baik. Melihat raut bahagia teman-temannya, Mirai seakan tidak percaya dengan dirinya sendiri, dia benar-benar bersyukur telah hidup sampai hari ini.


Saat jam istirahat, Kagami menyuruh Ruri dan Alita pergi duluan ke kantin. Sedangkan dia dan Mirai masih berdiam diri di kelas. Setelah ekor mata laki-laki tersebut memastikan jika Alita sudah benar-benar jauh meninggalkan kelas, baru dia bersuara menghilangkan keheningan di antara dia dan Mirai.


"Mirai, aku akan mengatakan sesuatu kepadamu. Tolong dengarkan aku tanpa menyela dengan pertanyaan apa pun."


Jantung Mirai langsung berdebar mendapat tatapan serius dari Kagami. Laki-laki itu tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya. Pikiran Mirai berkelana, kira-kira apa yang akan Kagami katakan hingga membuat suasana tegang di antara mereka?


***


Hari pernikahan Bik Venya telah tiba. Pestanya diadakan pada hari Sabtu, tepat saat Alita dan Kagami libur kerja. Mereka bisa hadir tanpa takut dimarahi bos karena izin dari pekerjaan.


Ruri melangkah cepat ke arah parkiran, menyapa seorang laki-laki yang tengah kebingungan memilih parkiran kosong.


"Kagami. Gimana? Aman?" tanya Ruri sesampainya di sana.


Kagami mengerti apa yang Ruri maksudkan. Dia mengangkat jempolnya seraya tersenyum.


"Mirai. Hari ini kita pergi ke pesta pernikahan bibik Ruri. Aku sudah sangat tidak sabar!" Alita berseru di depan Mirai. sedari tadi gadis kucir kuda itu tampak sangat bersemangat, jauh lebih bersemangat dari biasanya.


Bibir Mirai terasa kaku mendengarnya. Pikirannya berkelana setelah mendengar perkataan Kagami padanya beberapa minggu yang lalu. Walau sudah sangat lama, tetapi setiap kata, ekspresi dan nada bicara Kagami saat itu masih melekat di ingatannya.


"Iya, Alita. Benar sekali. Aku sudah tidak sabar untuk berada di sana," balas Mirai seadanya.


Ruri merasa waktu berjalan sangat lama hari ini. Bahkan saat bel masuk berbunyi, hingga dirinya menunggu bel pulang, kaki gadis tersebut tidak berhenti gemetar sedari tadi. Irama detak jantungnya kacau, pikirannya langsung tidak bisa fokus dengan pelajaran.

__ADS_1


Matanya tidak berhenti melirik jam dinding. Perlahan waktu berjalan, hatinya perlahan juga terasa perih. Kesepakatannya dengan Gagas hari ini akan terjadi dan Alita akan terlibat dengan keputusan yang dia ambil. Bohong jika Ruri bisa tenang sekarang, justru dirinyalah yang paling merasa ketakutan, mengingat dia telah mengorbankan salah-satu temannya.


Hari ini mereka pulang satu jam lebih cepat dari jadwal biasanya. Pukul satu siang bel pulang berbunyi, dengan napas yang sudah menggebu-gebu Ruri langsung menarik Alita menuju mobilnya.


"Pelan-pelan, Ruri. Kenapa buru-buru sekali?"


Alita berupaya menyeimbangkan langkah dengan Ruri yang sangat tidak sabaran saat ini. Sedangkan Kagami dan Mirai menatap kepergian mereka dari jauh.


Mereka telah membuat kesepakatan. Alita akan pergi bersama Ruri ke tempat pesta, karena ada gaun bagus yang Ruri ingin Alita kenakan. Sedangkan Kagami akan pergi menjemput Mirai dan pergi bersama ke tempat pesta, menggunakan sepeda motor bebek miliknya.


Ruri terlebih dahulu mengantar Alita pulang, setelah gadis tersebut mendapat izin dari keluarganya mereka melanjutkan kembali perjalanan yang sempat terhenti.


Setelah sampai di hunian mewah Ruri, tanpa ada jeda di setiap pergerakan mereka, Alita langsung disuruh menggunakan gaun berwarna lavender yang Ruri berikan. Setelah itu, dirinya dimakeup oleh perias yang telah disewa oleh ibu Ruri.


Sebenarnya Alita tidak enak hati menerima perlakuan istimewa ini, ditambah ini pertama kali bagi dirinya dimakeup dan mengenakan gaun mahal. Namun, Ruri tetap bersikeras memaksanya, hingga Alita luluh dan mengikuti saja apa yang Ruri pikirkan.


Saat Alita sedang dimakeup, Ruri mondar-mandir di ruang tamu, matanya gelisah menatap layar ponsel. Dia sedang menelefon Gagas sekarang. Setelah dua kali memanggil, akhirnya panggilannya diangkat.


"Gue bawa Alita ke pernikahan Bik Venya sesuai kesepakatan kita. Tapi sebelum itu sesuai janji lu katakan semua informasi tentang Dion tanpa terkecuali."


[Gue tahu lu nggak akan bohong. Baiklah, gue akan datang lebih cepat ke rumah Bik Venya. Gue mau memastikan, bahwa Alita benar-benar pergi sendiri.]


Panggilan telefon langsung berakhir, Ruri menggigit jempolnya. Dirinya semakin dilanda gelisah.


Sorot matanya yang semula gelisah, tiba-tiba meneduh setelah mendapat pesan dari seseorang.


Persiapan kedua gadis tersebut telah selesai. Jam menunjukkan pukul tiga sore sekarang, acara puncak seharusnya diadakan dua jam lagi, tetapi Ruri memilih untuk datang dua jam lebih cepat sesuai kesepakatannya dengan Gagas.


"Kira-kira, Mirai dan Kagami sudah sampai di sana belum, ya?"


Ruri melirik ke arah Alita yang tampak gelisah dengan penampilannya sekarang.


"Lu nggak usah khawatir. Mereka sudah di sana. Mungkin."

__ADS_1


Nada bicara Ruri terdengar ragu, kabut kegelisahan kembali melanda pikirannya. Agar Alita tidak mengendus kesepakatannya dengan Gagas, dia semaksimal mungkin bersikap dingin seperti biasanya.


"Gaunnya cocok buat lu." Ruri bersuara lagi.


Tanpa mengalih pandangannya dari luar jendela. Alita menyahut. "Aku kurang nyaman sebenarnya. Maaf selalu merepotkan kamu, Ruri." Matanya teduh menatap ke arah Ruri.


Saat netranya beradu dengan Alita, hati Ruri tiba-tiba bergetar. Sudah terlambat jika dia membatalkan kesepakatannya dengan Gagas sekarang. Semua sudah berjalan lima puluh persen dari rencana mereka.


***


Gagas sengaja menghentikan sepeda motor sportnya di depan pos satpam yang berada di depan rumah bibiknya. Hunian mewah berwarna putih di depannya beransur-ansur ramai dikunjungi tamu undangan. Dekorasi mewah dan berbagai menu yang tersedia di sana, menarik perhatiannya. Namun, pupil matanya bergerak liar mencari sosok orang yang jauh lebih menarik baginya.


Diliriknya jam tangan yang telah menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh sore. Dia meraih ponsel, lalu mengirim pesan kepada Ruri.


[Gue tunggu di depan pos satpam. Motor gue terparkir di depannya.]


Tepat setelah pesan tersebut dikirim. Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depannya. Kemudian seorang gadis yang tengah kesulitan dengan gaun yang dia kenakan keluar dari sana. Gadis tersebut melangkah pelan menuju sisi lain mobil menyapa gadis lain yang telah menunggunya.


Gagas mengangga melihat penampilan Alita barusan. Meski sekilas, dia seolah melihat sosok yang berbeda. Matanya tidak berkedip sedikit pun, hingga tidak sadar ponselnya bergetar. Sebuah pesan balasan dia terima dari Ruri.


[Gue udah di sampai. Setelah gue anterin Alita duduk, gue samperin lu.]


Ruri mengatur napasnya, secara perlahan memimpin Alita yang kesulitan dengan high heels yang dia kenakan. Pupil mata Ruri mengitari sekitar selagi mereka berjalan menuju tempat duduk.


"Aku benar-benar tidak nyaman. Rasanya semua orang memperhatikan aku," keluh Alita kembali.


"Abaikan saja. Anggap aja mereka kodok."


Setelah menempatkan Alita di salah satu kursi tamu, Ruri izin pergi sebentar untuk menghadiri foto keluarga. Alita mengizinkan tanpa resah sedikit pun, karena gadis berkacamata tersebut janji akan kembali secepat mungkin.


Belum banyak langkah yang Ruri ambil, tiba-tiba saja Gagas muncul di depannya. Netra mereka beradu, dia memandang dengan tampang dingin sedangkan Gagas tersenyum licik kepadanya.


Laki-laki berjas maron itu ternyata diam-diam mengikuti langkah mereka dari belakang.

__ADS_1


 


"Bagus. Lu lakuin semua yang gue minta," kata Gagas seraya melayang smirk.


__ADS_2