Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Sebuah Rahasia


__ADS_3

Ruri hendak pergi menuju Gagas, tetapi langkahnya terhenti ketika Syanala mencekal tangannya.


Tubuh Ruri ditarik, mendekat ke arah Lecia.


"Sapa tante Lecia dulu," titah Syanala.


Ruri menghela napas, menatap wanita paruh baya di hadapannya. Lecia tersenyum ramah menatap Ruri. Tatapan wanita itu membuatnya jengkel karena wajah miliknya persis sekali dengan Gagas. Bagai pinang dibelah dua.


"Halo, Tante. Apa kabar?" tanya Ruri dengan nada terpaksa.


Lecia merentangkan tangannya, memeluk Ruri seerat mungkin. Gadis bermata empat itu mencebik, mendapati perlakuan dari tantenya.


Lecia mengusap punggung Ruri, kemudian melepas pelukannya. Tatapan mereka bertemu. "Ternyata Ruri sudah besar, ya. Seumuran dengan anak tante, kan?" Dia melirik ke arah Gagas sebentar.


Ruri tersenyum kaku. "Iya, Tante."


"Nah, sekarang mari kita masuk ke butik. Di sini panas banget." Lecia merangkul Ruri disertai tangan sebelahnya menarik Syanala. "Ini butik langganan aku, loh. Kualitas kain di sini nggak usah diragukan lagi," kata Lecia melanjutkan sambil menatap ke arah Syanala.


Niat Ruri untuk berbicara dengan Gagas telah gagal. Lecia terus merangkulnya hingga mereka memasuki butik dan berhenti di hadapan seorang wanita paruh baya. Sebelum itu, saat di pintu masuk tadi, Ruri sempat melirik ke arah Gagas yang tampak sengaja tidak melihatnya sama sekali. Ruri semakin dongkol dibuatnya.


Wanita paruh baya di hadapan mereka tersenyum. Lalu menunjukkan beberapa bahan baju. Lecia dan Syanala antusias memilih, dengan Ruri yang berada di tengah-tengah mereka.


"Warna ini bagus, sekali. Sesuai dengan tema pestanya," kata Lecia sambil menunjuk bahan kain berwarna lavender.


"Terlalu mirip sama dekorasi pesta. Nanti kita nyatu sama warna yang ada di sana," balas Syanala dengan nada bercanda. "Bagaimana kalau dipadukan dengan warna ini, pasti bagus." Dia menunjuk bahan kain berwarna maron.


Ruri gelisah mendengar pembicaraan mereka. Matanya terus melirik ke arah Gagas yang masih belum beranjak dari posisi. Laki-laki itu duduk di depan butik sambil bermain game.


Setelah memilih bahan baju dan sepakat dengan perpaduan warna yang dipilih, kini tiba waktunya mereka untuk mengukur ukuran baju yang akan dijahit nanti.


Perempuan dan laki-laki berada di ruangan terpisah. Hal ini bertujuan agar penjahit bisa leluasa mengukur ukuran baju pelanggan yang akan mereka jahit nantinya.


Gagas pergi ke ruangan sebelah, bersama seorang pria yang merupakan seorang penjahit di butik itu juga. Sedangkan Ruri, Syanala dan Lecia memasuki ruangan lain, mengikuti seorang penjahit wanita paruh baya.


Mereka terus bercengkerama dengan akrab, sedangkan Ruri tidak berbicara satu kata pun sejak tadi. Dia diselimuti gelisah.


"Panjang lengan bajunya segini aja, gimana?" tanya Syanala kepada Ruri yang tengah diukur.

__ADS_1


Ruri tidak bergeming, gadis itu terus melirik ke arah pintu keluar, walau pintu tersebut tertutup, Ruri menatapnya dengan harapan supaya Gagas tidak pergi dari butik ini sebelum dia menanyakan maksud dari pesan yang laki-laki itu kirimkan.


"Ruri?"


Syanala kembali bersuara, kali ini disertai dengan mengguncang pelan bahu putrinya. Ruri mengerjap, menatap bingung ke arah sang mama.


"Ruri lagi lihatin apa dari tadi? Fokus sekali?" Lecia melirik ke arah pintu ruangan tempat mereka berada.


Ruri menggeleng. "Ada apa, Ma?" Dia menatap Syanala.


"Lengan bajunya segini aja, nggak apa-apa?" Syanala mengulang pertanyaannya, Ruri mengangguk.


Setelah selesai mengukur baju, Ruri langsung bergegas menuju ke arah Gagas. Gadis itu menendang kaki kursi yang tengah Gagas duduki.


"Lo mau ngomong apa?" tanyanya dengan nada tegas.


Gagas mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Ruri sebentar. Kemudian sorot matanya kembali fokus dengan game yang tengah dia mainkan.


"Kalau ngomong di sini, nanti rahasia lo terbongkar," jawab Gagas.


"Kembalikan," balas Gagas dengan tatapan dingin.


"Apa yang lo maksudkan. Kalau ngomong jangan setengah-setengah!" Suara Ruri meninggi.


Gagas menyengir mendapati wajah kesal dari Ruri. "Kebalikan ponsel gue, baru bisa gue beritahu." Nada bicaranya terdengar serius.


Ruri menuruti apa yang Gagas katakan. Kemudian duduk di bangku kosong yang berada di sebelahnya.


"Brutal banget jadi cewek. Kenapa lo nelfon gue berkali-kali, ha? Berisik tau nggak!" Jemari Gagas bergerak lihai di layar ponsel miliknya.


"Lu kalau ngomong jangan setengah-setengah. Bikin mood gue hancur aja." Ruri menatap ke arah jalanan.


Setelah menemukan apa yang dia cari, Gagas menunjukkan sebuah foto kepada Ruri. Foto tersebut langsung membuat gadis itu terkejut, matanya membelalak, kemudian menatap Gagas seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat.


"Dari mana lu dapat foto itu?" selidik Ruri dengan mata memicing.


Gagas menunjukkan sebuah foto lainnya. Terlihat di foto tersebut, seorang laki-laki berseragam SMP sedang duduk di tanah, sambil memandangi langit biru. Foto tersebut hanya menampakkan bagian punggung laki-laki itu, tetapi Ruri tahu siapa yang berada di dalam foto tersebut.

__ADS_1


Gagas mematikan ponselnya. "Jadi benar, ya, Dion nggak pernah cerita sama lu, kalau dia ketemu gue."


Ruri terdiam sesaat, tangannya mengepal menahan emosi. "Jadi, apa maksud foto dan ucapan lo barusan?" Dia masih tidak mengerti.


Gagas melihat ke dalam butik, lewat dinding kaca di depan toko. Terlihat mamanya dan Syanala masih sibuk dengan bahan baju.


"Kita nggak bisa bicara di sini. Lu nggak mau, kan, kalau rahasia lu terbongkar?" kata Gagas dengan ekspresi angkuh. "Lu pacaran sama Dion, kan?" tambahnya kembali.


Ruri merasa waktu di sekitarnya berhenti berputar. Ucapan Gagas berhasil membuatnya terkejut untuk yang ke sekian kalinya. Sorot matanya sendu beberapa saat, kemudian menatap lagi ke arah Gagas yang tengah tersenyum bangga. Seolah dia baru saja memenangkan sebuah lotre.


"Apa yang mau lu katakan, Sialan? Jangan bertele-tele seperti ini."


Suara Ruri terdengar bergemetar. Matanya penuh amarah sekarang.


Gagas bangkit dari duduknya. "Seperti yang gue Bilang tadi. Kita nggak bisa bicara di sini. Lu nggak mau siapa pun tahu tentang hubungan lu sama Dion, kan? Ikut gue, kita pergi ke tempat aman."


Gagas masuk ke dalam butik, menemui Syanala dan mamanya yang masih sibuk di sana.


"Ma, aku pulang dulu, ya, bareng sama Ruri. Nggak apa-apa, kan, Tante?" tanya Gagas kepada Syanala.


Syanala mengangguk. Kemudian menatap Ruri yang berdiri tepat di belakang Gagas.


"Nggak apa-apa, dong. Kalian, kan, seumuran. Berteman yang akrab, ya." sela Lecia sebelum Syanala bersuara.


Gagas pamit, diikuti oleh Ruri di belakangnya.


"Anak kita udah besar aja, ya. Semoga mereka bisa berteman baik," kata Lecia menatap kepergian dua remaja tersebut. Syanala tersenyum sebagai jawaban.


Ruri terus mengekori Gagas hingga berhenti di dekat sepeda motor laki-laki tersebut. Ruri terlihat sepeti kerbau yang ditusuk hidungnya, menurut tanpa banyak perlawanan


Gagas menyodorkan helm kepada Ruri. "Ngapa lu tiba-tiba diam? Biasanya mulut lu pedas banget." Dia terkekeh kecil. "Kalau membahas soal Dion, lu benar-benar nggak bisa banyak berkutik, ya."


Ruri memutar bola mata mendengar penuturan Gagas. Laki-laki tersebut menghidupkan sepeda motornya setelah Ruri naik di jok belakang.


"Jangan dekat-dekat. Pegang besi belakang motor!" Gagas kembali bersuara, matanya memicing menatap kaca spion yang mengarah ke wajah Ruri. Gadis bermata empat itu hanya diam tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.


"Cepat, jalan! Lu pikir gue mau pegangan sama lo? Jijik!" hardiknya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2