
Setelah melewati baliho tersebut, mata mereka semakin berbinar ketika disambut dengan pemandangan menakjubkan lainnya.
Sebuah lahan parkir besar terlihat jelas di depan mata. Setelah memarkirkan mobil di sana, manik mata ketiga remaja tersebut langsung mengedar melihat sekeliling.
Pemandangan serba hijau di sekeliling mereka dengan udara segar seakan menghipnotis. Lalu kaki mereka berjalan, menapaki sepuluh anak tangga yang berada di sana. Hingga pemandangan saung-saung yang berjejer rapi dan beraneka warna menyapa, kembali membuat mereka takjub.
"Waw! Indah sekali. Sanggar musik ini menyatu dengan alam. Alunan lembut musik yang berasal dari setiap saung, langsung mengudara seolah hilang ditelan oleh udara yang berada di sini. Benar-benar di luar dugaan!" takjub Kagami.
"Saung-saung yang berada di sana pun terlihat berjejer, tapi dengan warna masing-masing! Ayo kita ke sana!" Alita menarik tangan Ruri tidak sabaran.
Langkah mereka perlahan mulai memasuki halaman sanggar musik tersebut. Walau terletak jauh dari kota, tetapi banyak juga orang lain yang berkunjung ke sana. Ini seperti tempat wisata impian.
Kagami masih tergangga ketika mereka melewati saung yang pertama. Ukuran bangunan tersebut sangat besar, menyesuaikan dengan jumlah manusia yang berada di dalam sana. Terlihat mereka sedang berlatih bermain gamelan dengan seorang guru yang berdiri paling depan. Murid yang berada di sana antusias sekali belajar, walau hanya duduk di saung beralaskan bambu.
Di belokan pertama jalan setapak yang mereka lewati, terdapat sebuah saung lainnya. Ukurannya sedikit lebih kecil dari saung pertama yang mereka lalui tadi. Di sana terlihat banyak sekali orang bermain biola dan seorang guru berada di sana.
Kagami dan teman-temannya menjadi pusat perhatian ketika melewati saung tersebut.
Masih banyak saung lainnya yang berpencar dengan jarak yang cukup jauh, walaupun begitu bangunan tersebut seolah sengaja di bangun dengan sudut tertentu, hingga terlihat seperti berjejer. Setiap bangunan tersebut juga dicat dengan warna yang berbeda. Terkesan seperti melihat pelangi.
Ruri, Alita dan Kagami tetap berjalan semakin dalam memasuki sanggar musik tersebut, mengikuti jalan setapak yang mengarahkan mereka ke sebuah saung berwarna hitam. Dibandingkan bangunan lain, saung yang berada di hadapan mereka dibangun jauh lebih tinggi dari saung lainnya. Terhitung ada lima belas anak tangga yang harus dilewati untuk naik ke sana.
Kagami berkacak pinggang ketika mereka sampai di depan bangunan tersebut. "Sepertinya, ini saung utama sanggar ini."
Alita duduk di salah satu anak tangga. "Huh! Di sini nyaman sekali, aku serasa tidak ingin pulang," katanya seraya menghela napas.
Ruri menelisik sekelilingnya. "Benar-benar luar biasa. Konsep belajar di sini menyatu sekali dengan alam, hingga kita seolah-olah terjun ke dunia lain ketika berada di sini. Tenang sekali rasanya, cocok dijadikan tempat pelepas penat." Ruri ikut duduk di salah satu anak tangga.
Kagami memejamkan mata, merasakan alunan musik yang menyatu dengan udara. Terdengar begitu lembut menyentuh gendang telinganya.
"Aku naik ke atas dulu, ya. Siapa tahu Pak Arka berada di sana."
Kagami langsung meniti lima belas anak tangga dari saung yang berada di hadapannya. Suara ukulele yang dipetik semakin jelas terdengar di telinganya. Laki-laki itu terdiam ketika sudah sampai di anak tangga paling atas. Sudut matanya berkedut, mendapati jumlah orang yang berada di dalam saung tersebut. Jika dilihat, kurang dari sepuluh orang tengah belajar memetik ukulele dengan Pak Arka sebagai pemandu mereka.
__ADS_1
Sorot mata Kagami bertemu dengan Pak Arka, pria tua tersebut melayangkan senyuman seolah memberi isyarat untuk menunggunya di sana. Kagami mengerti, lalu kembali duduk bersama kedua temannya yang lain.
"Gimana?" Pertanyaan Ruri menyambut kedatangan Kagami.
"Pak Arka ada di atas sana. Kita tunggu di sini saja," jelas Kagami.
"Di atas sana mereka lagi ngapain, Kagami? Aku nggak dengar apa-apa dari sini. Apa karena saung ini tinggi banget?" Alita keheranan.
Laki-laki yang ditanya menelan ludah sebentar sebelum memberi jawaban. "Di atas sana mereka lagi belajar bermain ukulele. Wajar saja jika kurang kedengaran, karena jumlah murid yang berada di sana kurang dari sepuluh orang. Ukuran saung yang mereka tempati sangat besar, jadi suara ukulelenya nggak jelas sampai ke bawah sini," tutur Kagami menjelaskan.
Sambil menunggu Pak Arka selesai mengajar, mereka bertiga melepas penat seraya menutup mata, merasakan alunan musik diiringi lembutnya udara di sana menerpa tubuh mereka, menghempaskan rasa lelah yang mereka rasakan sekarang.
"LALALA! HALO, KALIAN SEMUA? APAKAH KALIAN ANAK BARU?!"
Sebuah suara berintonasi tinggi tiba-tiba saja menyapa mereka. Ketiga remaja tersebut terenyak lalu mendapati seorang gadis berdiri di depan mereka. Gadis itu memiliki rambut pendek dengan poni panjang nyaris menutupi matanya. Dia memakai baju kaos berwarna kuning selaras dengan rok panjang berwarna hitam yang dia kenakan. Penampilannya terlihat sederhana, tetapi suaranya yang sangat menggelegar dan bercampur cempreng, tidak mencerminkan penampilannya.
"KALIAN MURID BARU, YA? AKU ANTERIN KE PEMILIK SANGGAR, MAU? ATAU KALIAN BELAJAR MUSIK APA DI SINI, MAU AKU ANTERIN KE SAUNG TEMPAT KALIAN BELAJAR?!"
Tidak ada yang menyahut ucapannya, gadis tersebut langsung menarik tangan Alita, gadis yang berada paling dekat dengannya.
Alita langsung menepis tangan gadis tersebut sesopan mungkin. "Maaf, kami bukan murid baru. Kami datang ke sini karena diundang sama Pak Arka," katanya menjelaskan.
Gadis bersuara cempreng tersebut berkacak pinggang mendengarnya. "EH? JADI KALIAN TAMU, DONG?! KENAPA NUNGU DI SINI?!"
Lagi dan lagi, nada bicara gadis tersebut membuat mereka terganggu.
"Anu, maaf. Karena Pak Arka lagi mengajar, kami memutuskan untuk nunggu di sini aja. Kalau boleh tahu kamu siapa, ya?" Kagami bersuara.
Gadis bersuara cempreng itu berbinar menatap Kagami. Dia tergangga beberapa detik sebelum kembali bersuara. "A–Aku sudah biasa main di sanggar ini," katanya sambil malu-malu.
Ruri mendengkus mendengarnya. "Ternyata, nih, cewek bisa bicara normal juga," gumamnya pelan seraya melirik ke arah Kagami yang tengah tersenyum kaku.
Alita mengulur tangan ke arah gadis misterius itu. "Aku Alita Puspita, salam kenal, ya!"
__ADS_1
Gadis tersebut menyambut uluran tangannya seraya tersenyum manis.
"Kalau kamu?" Gadis tersebut mengulurkan tangan ke arah Ruri.
Gadis berkacamata itu menyambut tangannya. "Gue Ruri Nagemi," katanya dengan nada datar.
Gadis bersuara cempreng tersebut semakin mempererat pegangan tangannya. Sekarang Ruri merasa jika tangannya diremuk oleh gadis yang tengah bersalaman dengannya.
Matanya berbinar menatap Ruri. "Kamu anaknya Roland Nagemi? Seriusan?" katanya semakin antusias.
Ruri tersenyum kaku, lalu mengangguk.
"WOW! AKU SERING LIHAT AYAHMU DI TV! DIA KEREN BANGET. AKU SUKA BANGET SAMA DIA! DAN SEKARANG AKU KETEMU SAMA ANAKNYA? OMG! MIMPI APA AKU SEMALAM!"
Gadis itu menepuk pipinya berulang kali. Dahi Ruri berkerut melihat tingkahnya yang sangat menjengkelkan.
"HEI, RURI! KALAU AKU JADI IBU TIRIMU, GIMANA? KAMU SETUJU NGGAK? PAPAMU GANTENG BANGET!" Gadis tersebut berjingkrak kegirangan.
Ruri menyengir, "Udah sinting, nih, orang!" ketusnya menatap Alita yang tengah menahan tawanya.
"Aku Kagami Oved."
Kagami mengulurkan tangan kepadanya, gadis yang tengah asyik berjingkrak tersebut tiba-tiba terdiam. Matanya membulat menelisik penampilan Kagami intens. Dia lalu merentangkan tangan yang membuat Kagami terkejut.
"AAA! KAMU GANTENG BANGET! KALAU NGGAK DAPET ROLAND NAGEMI NGGAK APA-APA, KOK! DAPET KAMU AJA AKU UDAH BAHAGIA BANGET! MAU PEYUUUK!"
Gadis tersebut mendekat ke arah Kagami seraya merentangkan tangannya. Kagami langsung berlari dari sana, bersembunyi di belakang Alita menghindari pelukan gadis tersebut.
"Maaf, nggak boleh peluk," kata Kagami kemudian.
Gadis berponi itu mencebik kesal. Beberapa detik kemudian dia tersenyum.
"SALAM KENAL SEMUANYA! ALITA! RURI! KAGAMI! KENALKAN, AKU PUSPITALIA! PANGGIL AJA PITA!" Kali ini suaranya terdengar jauh lebih memekakkan dari sebelumnya.
__ADS_1