Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Lidah Terpeleset


__ADS_3

Sebagai permintaan maaf dari Dion karena telah membuat Alita dan Kagami salah paham, dia mentraktir dua remaja itu masing-masing satu mangkok bakso komplit dengan es jeruk sebagai minumannya. Tawaran Dion diterima dengan baik, makanan tersebut nyaris tandas padahal baru beberapa menit yang lalu mereka makan.


Dion termenung melihat mereka makan dengan lahap. Sepertinya mereka sangat kelaparan. Terutama gadis kucir kuda di depannya ini, namanya Alita dan Dion juga baru tahu kalau laki-laki di sebelah gadis itu bernama Kagami. Mereka teman Ruri.


Terlalu fokus melihat kedua remaja itu makan, Dion sampai tidak menyadari seorang gadis berjalan ke arah mereka. Ketika buku yang gadis itu bawa mendarat sempurna di kepala Kagami dan Alita baru dia sadar ternyata itu Ruri.


"Kebiasaan! Jangan lomba makan di sekolah. Kalian memalukan!"


Ruri duduk di sebelah Alita, menyodorkan gadis itu minuman. Dia tersedak karena pukulan Ruri barusan.


Lomba makan? Jadi mereka berdua makan begitu lahap karena mereka sedang berlomba? Dion pikir mereka kelaparan. Matanya beralih melirik Ruri, degup jantungnya langsung tak teratur, karena ini pertama kalinya dia melihat Ruri sedekat ini.


"Kami ditraktir sama dia." Alita menunjuk Dion. "Katanya dia mau bicara sesuatu sama kamu, Ruri," lanjutnya melirik Dion sebentar sebum menghabiskan makanannya lagi.


"Aku dengan Alita gak sengaja ketemu dia di jalan. Makanya kami berakhir di sini," timpal Kagami.


Ruri melirik laki-laki asing di depannya. Karena tidak peduli dengan laki-laki itu, sedikit pun Ruri tidak melirik ke arahnya. Namun, setelah mendengar penjelasan Alita dan Kagami baru dia memindai wajah laki-laki itu lekat.


"Ada perlu apa lu sama gue?" tanyanya datar, tak ada senyum sedikit pun di wajahnya.


Dion resah, rencananya seharusnya tak berakhir seperti ini. Namun, ini kesempatan yang bagus untuk mengakrabkan diri dengan Ruri. Dia memberanikan diri berbicara.


"Aku Dion Andesta, dari kelas 1B. Aku lihat kamu memenangkan lomba cerdas cermat beberapa waktu lalu. Apakah boleh aku ikut belajar bersamamu di perpustakaan?"


Dion menggigit lidah, dia sebenarnya tak ingin mengatakan hal ini. Seharusnya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah, apakah Ruri sudah memiliki pacar? Apakah dia mau berteman dengan Dion? Namun, karena terlalu gugup, mata yang refleks melirik buku pelajaran yang Ruri bawa langsung mengubah isi pikiran dan kalimat yang dia ucapkan. Benar-benar payah, kalau seperti ini tentu Ruri tidak akan menyetujuinya. Karena mereka saja belum kenal dan secara tiba-tiba Dion menawarkan diri untuk belajar bersama? Dia benar-benar payah.


"Oh, jadi karena itu kamu mengikuti Ruri tadi?" sahut Kagami yang baru selesai makan. Makanannya habis lebih dahulu daripada Alita, artinya dia menang.


Ruri mengernyit. "Mengikuti gue?" Alisnya terangkat, mengintimidasi Dion.

__ADS_1


Perlahan dirasa keringat dingin keluar dari dahinya. Dion mengatur napas, rencananya benar-benar kacau. "Tadi aku ingin mengatakan ini padamu, tetapi karena melihat kamu masuk ke perpustakaan, jadinya aku mengurung niat." Dia mengaruk kepala yang dirasa tak gatal.


Ruri gak membuat ekspresi lebih. Dia menatap Dion datar. "Pertama, gue kasih tahu lu bahwa memenangkan lomba kemarin bukan karena gue, tapi karena semua peserta yang ikut sudah berusaha sebisa mereka. Dan yang kedua, lu jangan berharap lebih ke gue, gue nggak seperti yang orang-orang bicarakan!"


Dion membeku menatap Ruri lebih lama dari sebelumnya. Dia menyadari dua hal dari kalimat yang gadis itu ucapkan. Pertama, Ruri jauh lebih cantik daripada saat dia melihat dari kejauhan, matanya lentik dan bening, rambut panjang yang senantiasa terurai menambah daya tariknya. Terlebih lagi, karena dia berkacamata ... dia tampak semakin manis. Kacamata manis.


Yang kedua, walau cara bicara Ruri terdengar kasar, tetapi sebenarnya dia baik hati. Jika tidak, mungkin dia tak akan mau menegur temannya yang tadi makan tergopoh-gopoh, atau mungkin dia tidak akan mau berteman dengan mereka. Kepribadian mereka bertolak belakang, tetapi Ruri tampak tak mempermasalahkan hal itu. Sekali lagi dadanya menghangat, merasakan benih cinta yang perlahan tumbuh. Dia menyadarinya, bahwa Ruri gadis yang telah membuatnya jatuh cinta lebih dari apa pun. Dion tersenyum.


***


Keesokan harinya, seperti yang telah mereka sepakati kemarin, Dion menjemput Ruri ke kelasnya. Lalu mereka berdua pergi ke perpustakaan sambil menenteng buku pelajaran masing-masing.


Alita dan Kagami melihat dari kejauhan. Mereka tak memiliki minat sedikit pun untuk bergabung.


"Lomba makan lagi?" Alita menantang.


"Kali ini jangan makanan berkuah, berlepotan seperti kemarin nanti," usul Kagami.


Tiada hari tanpa drama, mereka benar-benar seperti anak kecil yang terus membuat keributan. Lalu Alitalah yang selalu mematik api keributan di antara mereka. Kagami menyukainya, dengan tertawa bersama gadis itu dia melupakan gundah yang bersarang di hatinya.


"Mereka kenapa tidak ikut?"


Di dalan perjalanan ke perpustakaan, Dion mengajak Ruri berbincang. Langkah mereka beriringan.


Tanpa mengalih tatapan dari ubin yang dia injak, Ruri menjawab. "Mereka lebih mementingkan berlomba makan daripada belajar."


"Kenapa seperti itu?" Dion semakin penasaran.


"Kelas dua nanti mereka berencana untuk bekerja, jadi, sebelum hal itu datang Alita mengusulkan bagaimana jika dia dan Kagami berlomba dalam makan. Gue nggak tahu apa kaitan keduanya, tapi yang jelas Alita bilang, kalau sudah kerja nanti waktu mereka untuk bersama akan lebih singkat. Dan sebelum hal itu, makanya dia begitu," tutur Ruri, mata lentiknya melirik Dion sebentar. "Lu nggak keberatan kalau kita hanya berdua, kan? Pacar lu marah nggak?"

__ADS_1


Dion tertegun mendengarnya. Seharusnya itu kalimat yang harus dia katakan kepada Ruri. Bukan sebaliknya. "Tidak. Aku tidak memilikinya, dan aku sedikit pun tidak terganggu. Bagaimana dengan kamu?"


Ruri menggeleng. "Nggak."


Di dalam perpustakaan mereka duduk di meja yang paling kanan, di sana kosong. Suasana sunyi jauh lebih menyenangkan dalam belajar.


Dion menyodorkan materi yang sulit dia pahami kepada Ruri. Dengan santai gadis berkacamata itu memberinya penjelasan. Selagi Ruri menjelaskan tentang materi itu, sedikit pun pikiran Dion tak terfokus pada pelajarannya. Melihat wajah Ruri yang sedang berbicara padanya, Dion terpesona bagai melihat bidadari. Dion sudah mengantisipasi hal ini, karena itu materi yang dia minta Ruri ajarkan adalah materi yang sebenarnya sudah dia pahami.


"Coba ulangi apa yang gue jelaskan tadi!"


Merasa jika Dion hanya memanfaatkan dirinya seperti laki-laki lain, Ruri menyuruh Dion untuk mengulangi penjelasannya barusan. Jika benar laki-laki itu berniat untuk belajar dan tidak memiliki niat terselubung lainnya, pasti dia bisa memberi penjelasan ulang.


Dion tersenyum tipis. Memahami jika gadis di sebelahnya ini adalah tipe orang yang sangat berhati-hati.


Ruri belum sepenuhnya mempercayai Dion, tetapi setelah melihat laki-laki itu mampu memahami materi yang dia jelas dengan sangat baik, perlahan kepercayaan itu tumbuh.


Mereka semakin dekat seiring banyaknya kata yang terlontarkan. Ruri perlahan bersikap biasa kepada Dion, layaknya dia bersikap pada Alita dan Kagami. Sesekali dia tertawa ketika Dion melontarkan candaan tanpa sengaja.


"Lu suka belajar?" tanya Ruri secara tiba-tiba. Matanya menerawang ke depan.


"Belajar itu wajib. Menurut aku suka tak suka, kita harus suka," balas Dion.


Ruri memandang Dion dan tatapan mereka bertemu. "Foto ini mencuat dari buku pelajaran lu tadi. Nggak sengaja gue lihat, maaf." Tangannya menyodorkan foto yang dia maksudkan, senyum di wajahnya memudar.


Dion terpana sebentar, dia bahkan tidak menyadari jika foto itu menyelib di salah satu buku pelajarannya. Itu adalah foto bersamanya dengan angkatan SD, foto itu rusak, tak memperlihatkan apa pun lagi kecuali wajah seorang gadis kecil yang berdiri di barisan ke dua. Dion tak sadar masih menyimpannya.


"Terima kasih. Aku baru menyadari jika foto ini ada di sini. Fotonya sudah rusak, lihat hanya gadis kecil di barisan kedua saja yang terlihat."


Ruri memandang arah tunjuk Dion. Dia sudah melihat foto itu tadi. "Jika lu sering belajar, pasti foto itu lu sadari lebih cepat. Ini bukti kalau buku pelajaran lu jarang dibuka. Sebenarnya apa niat lu bilang mau belajar bareng sama gue? Padahal tak terlihat sedikit pun jika itu niat awal lu."

__ADS_1


Dion terdiam. Dia terlalu enteng menilai Ruri. Hal kecil seperti ini saja mampu dia analisis dengan benar.


__ADS_2