Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Pita dan Mirai


__ADS_3

Ruri dan kedua temannya langsung berlari seperti dikejar anjing menuju kelas mereka. Setelah sampai di depan pintu, ketiga remaja itu mematung dengan sorot mata yang mengunci satu tujuan, tempat duduk Mirai.


Terlihat seorang gadis berambut pendek dengan poni tebal yang hampir menutupi matanya duduk di sana. Jika dilihat sekilas, gadis tersebut sangat mirip dengan Pita. Namun, dugaan Alita salah, dia tetaplah Mirai. Ruri bisa mengetahui itu dari sorot mata sendu yang menjadi ciri khas Mirai.


"Goblok! Lu bikin gue kaget aja. Itu Mirai!"


Ruri mempercepat langkah kakinya menuju bangku Mirai.


Alita mengusap dahinya yang dijentik kuat oleh Ruri. "Eh, seriusan dia Mirai?" Matanya menatap sendu ke arah Kagami.


Kagami mengatur napasnya, membalas tatapan Alita. Namun, sebelum menjawab pertanyaan Alita, dia mengelus dada, memastikan jika jantungnya tidak benar-benar copot.


"Iya, Alita. Itu Mirai," jawab Kagami dengan nada lembut.


Dirinya tidak bisa membayangkan, hari buruk apa yang akan dia lalui jika benar Pita berada satu sekolah dengannya. Dia memang gadis yang sangat merepotkan banyak orang.


Alita tercengang mendengar jawaban Kagami. Dia langsung berjalan cepat menuju meja Mirai, langkahnya yang terburu-buru berhasil mendahului Ruri. Dengan sengaja Alita menyenggol Ruri kemudian menangkup kedua pipi Mirai, menatapnya intens untuk memastikan bahwa gadis itu benar-benar Mirai teman mereka.


Ruri meringis mengusap bahunya yang disenggol oleh Alita. Gadis berkacamata itu meletak tas di kursinya, kemudian ikut berdiri di depan Mirai.


"Ini beneran Mirai?"


Alita meneliti setiap inci wajah Mirai. Gadis berambut pendek itu mengangguk.


Setelah absen karena sakit, hari ini Mirai datang ke sekolah dengan penampilan baru. Nyaris membuat siapa saja yang melihatnya sekilas, tidak mengenali dirinya.


Rambutnya masih pendek sebahu, tetapi dengan potongan poni yang menutupi jidatnya, aura dirinya terlihat semakin suram. Bukan hanya itu, kaos kaki panjang sepaha yang gadis itu kenakan pun tidak luput dari pandangan Ruri. Rasa kecurigaannya terhadap Mirai semakin membesar sekarang. Ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan.

__ADS_1


Alita menyuruh Mirai untuk berdiri. Gadis berambut pendek itu hanya menuruti. Kemudian tubuhnya diputar oleh Alita, dia ingin memastikan lagi jika matanya tidak salah kali ini.


"Kenapa kamu berpenampilan seperti ini, Mirai?" tanya Alita kepada Mirai yang masih berdiri di depannya.


Mirai mendapat tatapan mengintimidasi dari ketiga temannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat sekarang. Bibirnya yang semula lembap berselimut lip balm, kini mendadak dirasa mengering.


Bibirnya bergemetar, kemudian perlahan terbuka, hendak memberi alasan yang bisa diterima oleh teman-temannya. Namun, tangan Ruri dengan cepat menyingkap poni yang menutupi jidatnya, menampakkan sebuah luka yang masih memerah langsung membuat Alita dan Kagami terkejut.


Ruri menatapnya intens. Tatapannya masih mengintimidasi. Mirai menunduk menghindarinya.


"Lu kenapa? Beneran sakit? Terus luka yang ada di jidat lu ini kenapa?" tanya Ruri dengan nada tegas.


Alita berdiri di depan Ruri, menjadi tembok penghalang antaranya dengan Mirai. "Tenang, Ruri. Jangan langsung emosi." Dia berusaha mengontrol emosi gadis berkacamata tersebut.


Kagami menyimak dari tempat duduknya. "Kamu memakai lipstik dan bedak yang cukup tebal hari ini. Ada apa, Mirai?"


Kagami langsung mendapat tatapan tajam dari Ruri setelah mengatakan hal tersebut. "Itu bukan bedak. Tapi foundation." Dia kembali menatap ke arah Mirai. "Apalagi di bawah mata, sudut bibir dan kedua pipi lu. Kayaknya foundation di sana cukup tebal, ya."


Mirai masih tidak bersuara. Matanya terus menunduk disertai tangan yang mengepal rok panjang selutut yang dia kenakan.


Perlahan setelah dia mengusai rasa takut yang menggerogoti dirinya, sudut bibir Mirai terangkat.


"Saat hari di mana kita berencana pergi ke sanggar Pak Arka, aku tiba-tiba saja diajak Mbok Yuti, pembantu di rumahku untuk pergi ke pemakaman, menjengguk papa dan mamaku di sana." Mirai menelan ludah yang dirasa sangat kental sekarang. "Aku terlalu bersemangat, jadinya saat meniti anak tangga aku tersungkur. Dahiku menghantam lantai dengan kuat, lalu aku terluka." Dia membuka poninya lebih lebar, menampakkan luka yang berada di sana kepada teman-temannya.


"Aku tahu ini terdengar cukup aneh. Tetapi, karena terlalu bahagia, aku selalu bertingkah ceroboh. Luka lainnya aku dapat, ketika berada di pemakaman. Kakiku tersandung akar pohon yang menonjol di tanah. Lalu wajahku menghantam akar pohon lain yang berada di depanku." Dia tersenyum lebih lebar kali ini, menampakkan sederet gigi putih miliknya. "Maaf aku membuat kalian khawatir."


Setelah mengatakan sederet kalimat panjang itu, Mirai memberanikan diri menatap mata Ruri. "Maaf tidak mengangkat telefon darimu, Ruri. Saat itu aku sedang tidur dan tidak menyadari jika kamu menelefonku," tuturnya kembali.

__ADS_1


Beberapa detik setelah mengatakan alasannya, tidak ada satu pun dari teman-temannya yang bersuara. Mereka juga tidak menyangkal apa-apa dari ucapan Mirai barusan.


Tangan Alita terulur memegang kedua bahu Mirai. Gadis itu mengerjap. Kemudian Alita memeluk Mirai seerat mungkin. Gadis berambut pendek itu tidak mengerti maksud dari Alita.


"Kalau ada apa-apa, kamu jangan ragu menceritakannya kepada kami. Mungkin sekarang waktunya terlalu cepat untukmu. Namun, kapan pun itu kamu ingin bercerita, kami akan mendengarnya." Dia melepas pelukan lalu menatap Mirai intens. "Jika perlu, tanpa kamu minta pun kami akan menolong dirimu. Jadi, tetaplah jadi Mirai yang kami kenal."


Mata Mirai berkaca-kaca mendengar penuturan Alita. Dia menatap ke arah Ruri yang kini tengah tersenyum tipis kepadanya, begitu juga Kagami.


"Lu sudah terlalu dewasa untuk menjadi seceroboh itu."


Setelah mengatakan itu, Ruri dan Kagami kembali menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Sedangkan Alita masih berada di depannya, gadis itu ingin menceritakan pengalaman mereka saat berada di sanggar.


Sepanjang dia mendengar cerita Alita, Mirai tidak berhenti tersenyum. Hatinya menghangat, walau perih terasa bersamaan. Teman-temannya tahu jika dia berbohong, tetapi mereka tidak menuntut mendengarkan kebenaran secepat mungkin dari mulutnya. Mirai sangat bersyukur bertemu teman seperti mereka.


"Pita dan Mirai adalah orang yang berbeda. Tetapi, tetap saja mereka sekilas terlihat mirip. Jadi, gue tidak bisa menyalahkan Alita yang terkecoh saat melihatnya tadi," gumam Ruri sendirian.


Kagami mengambil plastik berwarna merah dari dalam tas miliknya. Dia mengangkat plastik tersebut ke udara, tindakannya memotong suara Alita yang tengah bercerita kepada Mirai.


"Lihat, Mirai. Ini nasi goreng buatan Alita!" Dia memeluk bungkusan yang berada di dalam plastik tersebut. "Rasanya enak, loh. Kamu mau mencobanya? Aku akan membagikannya sedikit untukmu!"


Tawarannya membuat Mirai terkekeh geli. "Bahagia sekali, Kagami. Sepertinya enak, ya, kalau kamu tidak keberatan, boleh aku mencobanya bersama Kagami, Alita?"


Mirai menatap ke arah Alita, gadis yang ditatap hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Tidak masalah, Mirai. Hanya saja, si Kagami terlalu berlebihan. Dia bahkan mengucapkan terima kasih sepanjang jalan kami menuju sekolah. Berlebihan sekali, bukan?"


Mirai tertawa lepas mendengarnya. Kagami langsung menyimpan bungkusan tersebut ke laci mejanya. "Emang nggak boleh berterima kasih? Boleh banget, kan, Ruri?" Dia melirik ke arah Ruri.

__ADS_1


Gadis berkacamata itu memutar duduk menghadap ke arah tiga temannya. "Kesampingkan dulu hal itu. Gue mau undang kalian ke pernikahan bibik gue. Bulan depan nanti. Gimana?"


Kagami langsung terdiam mendengarnya, 'Jadi, rencananya sudah dimulai, ya?'


__ADS_2