Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Membuka Kasus


__ADS_3

Siang telah berganti malam. Matahari sudah lima jam yang lalu terbenam di ufuk barat. Kini Hendro sedang membaca sebuah koran, menikmati kopi panas di depannya sambil menunggu seseorang datang.


Suara musik dangdut dari warung kopi tempat dia berada semakin malam semakin keras menggema. Pengunjung pun semakin antusias berdatangan, ada yang datang untuk makan dan minum dan ada pula yang datang hanya untuk sekedar menikmati WIFI gratis di sini.


"Maaf membuat Bapak menunggu lama."


Seorang pria paruh baya berjaket coklat menghampiri Hendro. Pria tersebut membuka topi bulat yang dia kenakan, kemudian bersalaman dengan Hendro sebelum dia duduk.


Hendro melirik salah satu pelayan di warung kopi tersebut. "Pesan satu cangkir kopi lagi, ya," perintahnya kemudian.


"Jangan repot-repot, Pak. Saya bisa memesan sendiri," kata Roland tidak enak hati.


Hendro tersenyum mendengarnya. Melipat koran yang tadi dia baca. "Kamu tidak berubah, ya, Roland. Masih sama dengan beberapa tahun lalu."


"Biasa saja, Pak. Saya tetaplah saya."


Obrolan mereka terhenti, ketika seorang pelayan datang membawa secangkir kopi hangat yang tadi dia pesan.


"Saya bertemu kamu malam ini, karena ingin meminta bantuanmu. Boleh?" Hendro membuka pembicaraan dengan nada serius.


Kopi yang tadi Roland seruput kemudian ditelannya. "Membuka kembali kasus kematian Maganta dan istrinya, Pak? Tanpa Bapak minta pun saya selama ini masih tetap mencari tahu penyebab kematian mereka." Sorot mata Roland menatap cangkir kopi di depannya dengan sendu.


"Bukan. Kasus adik saya dan istrinya tentu masih membekas di ingatan. Namun, saya menghormati pihak keluarga yang meminta untuk menutup kasus ini." Hendro menarik napas sebentar. "Saya ingin kamu membantu kami dalam kasus baru."


Roland mengernyit mendengarnya, kemudian melihat ke arah ponsel yang menampakkan foto seorang gadis tengah tersenyum lebar di sebelah Hendro.

__ADS_1


Sorot mata tegas Roland terus memperhatikan gadis tersebut, raut wajah miliknya mengingatkannya pada seseorang. "Siapa gadis ini, wajahnya terlihat persis seperti Maganta," ujarnya kemudian.


"Dia Mirai. Anak dari Maganta dan Pupus. Wajar jika kamu asing melihatnya, sekarang dia sudah tumbuh besar, tujuh belas tahun," balas Hendro.


"Eh, jadi seumuran dengan putriku." Roland terkejut.


"Benar. Mirai tadi juga bilang, jika anakmu Ruri mengundang dia dan temannya ke pernikahan bibiknya. Apakah benar adikmu mau menikah, Roland?" Hendro menelisik.


Roland menatap bingung ke arah pria paruh baya dengan rambut yang perlahan memutih di depannya. "Benar sekali. Si Venya mau menikah. Tunggu dulu, jika Mirai dan Ruri berteman berarti mereka satu sekolah, ya? Bukannya Mirai sekolahnya di SMA 4 tirta negara?"


Hendro menghela napas berat. Sorot matanya tiba-tiba menampakkan kegelisahan di sana. "Dia tidak nyaman di SMA itu. Untuk alasan lebih lanjut saya dan istri kurang tahu karena Mirai terlalu tertutup." Pupil matanya memandang jauh ke langit malam yang disinari bintang. "Dia menyembunyikan sesuatu dari kami."


Hendro menggeser foto lain yang berada di album ponselnya. Terlihat potretan luka lebam di bagian kaki, pergelangan tangan dan bahu seseorang terpotret dengan jelas.


Roland terkejut melihatnya, dia memandang Hendro tidak mengerti.


Roland terdiam beberapa saat mencerna perkataan Hendro. Pria paruh baya berjaket coklat tersebut memperhatikan lagi foto luka itu lebih lama dari sebelumnya. "Ini bekas benturan benda tumpul. Siapa yang telah melakukan ini pada anak yatim piatu seperti Mirai?"


"Saya tidak bisa berkata banyak, karena ucapan saya tidak ada buktinya. Yang jelas, saya mencurigai pembantu di rumahnya. Terutama lima orang pembantu yang baru bekerja lima tahun di sana, termasuk hari ini."


Perkataan Hendro membuat jidat Roland bertambah berkedut. "Kenapa bapak berpikir seperti itu?"


Hendro melepas kacamata yang dia kenakan, mengelap sudut matanya yang sedikit basah. "Jika firasat saya benar, maka merekalah pelakunya." Dia menatap ke arah Roland lagi. "Mereka adalah pemulung yang dikenal panjang tangan di wilayah sekitar tempat mereka tinggal dulunya. Namun, Maganta yang terlalu baik membawa mereka ke rumahnya dan memperkerjakan mereka di sana. Latar belakang mereka saja tidak jelas, tetapi adik saya dengan lapang hati menerima kehadiran mereka."


Hendro terdiam beberapa saat. Kemudian setelah napasnya teratur, dia membuka suara lagi. "Setahun setelah mereka datang, adik saya dan istrinya kecelakaan dan meninggal di tempat. Dan sejak itu Mirai selalu mendapat luka lebam di tubuhnya."

__ADS_1


Roland memijit kening setelah mendengar penuturan panjang dari pria paruh baya di depannya. "Kesimpulan kasar yang menarik. Kalau memang tidak ada yang berani bersaksi atau menceritakan kebenarannya kepada Bapak, saya sarankan memasang CCTV secara diam-diam. Kita butuh bukti yang kuat untuk membawa kasus ini ke pengadilan, bukan hanya itu, si korban juga harus berani membuka suara."


Sudut bibir Hendro terangkat mendengar kata-kata Roland. "Itu yang saya suka dari kamu, Roland. Tegas, tidak berbasa-basi serta memiliki pemikiran yang tajam. Tidak gegabah dalam bertindak. Gelar pengacara hebat memang pantas kamu dapatkan!"


***


Syanala sedang bersantai menonton TV sambil menunggu kepulangan suaminya. Tiba-tiba saja Ruri mendekat dengan wajah yang tampak lesu. Bibirnya mencebik dengan keningnya yang berkerut.


"Hai. Masih muda jangan banyak mengerutkan wajah seperti itu, nanti cepat tuanya," goda Syanala ketika Ruri duduk di sampingnya.


"Ma, kenapa orang-orang kalau lihat Ruri mereka tahu kalau Ruri anak Roland Nagemi? Padahal keluarga Nagemi, kan, banyak. Ada Bik Venya Nagemi, Paman Jojo Nagemi, Gagas juga punya nama Nagemi di belakang namanya. Bukan hanya Ruri sendiri." Ruri menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, duduk menyamping menghadap sang mama.


Siaran tv yang tengah berlangsung mereka abaikan, kedua manusia itu sibuk menatap satu sama lain sekarang.


Syanala terkekeh kecil mendengar pertanyaan Ruri. Dia menarik kacamata berbingkai tipis yang Ruri kenakan, kemudian menatap wajah anaknya lagi. Tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Kenapa, Ma?" Ruri masih belum mengerti.


"Walau papamu tidak memakai kacamata, tetapi wajah kalian berdua mirip sekali. Siapa pun yang melihat wajahmu, pasti akan melihat wajah papamu di sana." Syanala mencubit hidung runcing anaknya. "Kalian benar-benar mirip, bikin mama iri saja." Dia mencebik mengikuti ekspresi Ruri tadi saat menghampirinya.


Ruri menyambar kacamatanya yang berada di tangan mamanya. Memakainya tergesa-gesa. "Nggak, kami nggak mirip. Ruri lebih mirip sama mama!" Dia tidak terima.


Syanala meraih remote tv, lalu mematikan benda tersebut. Suara dari siaran televisi tidak lagi mengganggu obrolan mereka. "Kalian benar-benar mirip, Ruri. Kamu bagaikan papamu versi kecil."


"Nggak. Ruri peduli dengan keluarga Ruri. Beda sama papa yang tidak mau mendengarkan ucapan Ruri." Gadis berkacamata itu tertunduk lesu.

__ADS_1


Syanala menangkup kedua pipi anaknya, menatap matanya lagi secara intens. "Selama papa dan mama menikah. Hanya empat kali papa pernah menangis. Kamu tahu kenapa? Empat kali tangisan itu disebabkan olehmu, Ruri." Syanala tersenyum lembut kepada anaknya.


__ADS_2