Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Akordeon


__ADS_3

Ruri merengus menatap Kagami. Kemudian menjawab pertanyaan laki-laki itu.


"Sanggar musik Arka jaya itu adalah sanggar yang sangat terkenal dulunya. Sudah lebih dari sepuluh tahun silam. Tetapi, untuk sekarang kepopularitasan sanggar tersebut berkurang, karena seiring berkembangnya zaman."


Kagami mangut-mangut mendengar penjelasan Ruri.


Buk Ima menepuk tangan memberi isyarat kepada murid di hadapannya untuk diam. Setelah suasana hening, Buk Ima menyodorkan sebuah kursi ke Pak Arka, pria tua tersebut duduk di sana memandangi murid di hadapannya satu per satu.


"Kalian tahu sanggar musik Arka jaya?" Pria tua tersebut bertanya.


Banyak siswa yang menyahut jawabannya. Ada yang mengatakan tidak tahu dan ada yang sebaliknya. Sedangkan Kagami hanya diam sebagai tim netral.


Pak Arka melirik ke arah Ruri, "Kamu, siapa namamu?" tanya pria tersebut seraya menunjuk ke arah gadis yang dia maksudkan.


Ruri berdiri, "Nama saya Ruri Nagemi," jawabnya singkat.


Pak Arka sedikit terkejut mendengarnya. Pria tua tersebut menepuk tangan sebelum kembali bersuara. "Ternyata kamu anaknya Roland Nagemi, ya?" terka Pak Arka.


Ruri mengangguk.


"Kamu tahu sanggar musik Arka jaya?"


Pertanyaan Pak Arka kembali diangguki oleh Ruri.


"Saya tidak heran kalau kamu mengetahuinya. Darah memang tidak bisa dilawan, ya. Kamu mirip sekali dengan ayahmu," kata Pak Arka sembari tertawa.


Gadis bermata empat itu kembali duduk, beberapa siswa menjadikan dia sorot perhatian, sedangkan Ruri berwajah datar karena tidak suka disamakan dengan papanya.


Pak Arka berdiri, meraih akordeon yang dia bawa tadi. "Ada yang pernah bermain akordeon sebelumnya?" tanya Pak Arka sambil duduk.


Tidak ada yang bersuara, para siswa hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Siapa yang mau bertanya, silakan," kata Pak Arka secara tiba-tiba.


Buk Ima yang berdiri di sebelahnya dibuat terkejut karena sesi tanya jawab diadakan terlalu cepat menurutnya. Sedangkan Pak Arka belum mempraktikkan apa pun.


"Tapi, Bapak belum melakukan praktik apa pun. Apakah tidak apa-apa mengadakan sesi tanya jawab secepat ini?" bisik Buk Ima di sebelahnya.


Pak Arka tersenyum, "Biarkan anak-anak muda ini berimajinasi sepuasnya sebelum saya mempraktikkan cara bermain akordeon."

__ADS_1


Kagami mengangkat tangan, matanya berbinar menatap Pak Arka. Laki-laki tersebut berdiri dari duduknya. "Pak, berapa lama bapak berlatih bermain akordeon?" tanyanya dengan antusias.


Pak Arka lagi-lagi tersenyum. Matanya terlihat semakin sipit jika sudut bibirnya terangkat. Pria tersebut memperbaiki letak kacamata sebelum menjawab. "Sekitar sebulan," jawabnya.


Seluruh murid bergemuruh mendengarnya. Sebulan adalah waktu yang cepat bagi mereka.


"Kebetulan saya lahir dan besar si lingkungan pemusik, jadi sejak kecil saya sudah terbiasa belajar berbagai macam alat musik. Ada yang suka bermain alat musik, di sini?"


Lagi-lagi Pak Arka melontarkan sebuah pertanyaan. Beberapa siswa mengangkat tangan mereka, tetapi yang menarik perhatiannya saat ini adalah laki-laki yang memiliki bekas luka di dahinya. Kagami.


Alita melirik ke arah pandangan Pak Arka, mendapati Kagami mengangkat tangan gadis itu sedikit terkejut, begitu juga dengan Ruri yang sudah menyadarinya sejak tadi, jika Kagami mengangkat tangannya.


"Sejak kapan lu suka bermain alat musik?" tanya Ruri.


Kagami membelalak mendapati tangannya terangkat, secepat kilat dia menurunkannya kembali. "Aku nggak sadar, tanganku terangkat sendiri!" alasannya.


Ruri menggeleng mendapati kelakuan aneh Kagami. Dia sudah mengenal Kagami lima tahun lamanya. Gadis itu tahu betul, kalau Kagami hanya ingin menjadi idola, penyanyi terkenal dan tidak berminat sedikit pun terhadap musik.


Namun, keanehan mulai muncul ketika Pak Arka datang membawa akordeon bersamanya. Tatapan Kagami yang terlihat begitu senang menarik perhatian Ruri, di beberapa sesi pertanyaan pun dia sempat melirik ke arah Kagami. Temannya itu tampak sedikit berbeda hari ini.


"Mungkin Kagami pindah haluan. Kamu mau jadi musikus?" Alita bersuara, Kagami menggeleng sebagai jawaban.


Dirasa tidak ada lagi yang ingin bertanya, Pak Arka mulai mempraktikkan cara bermain akordeon.


"Letakkan tangan kanan di sisi tuts dan tangan kiri di tombol dan bellow. Pastikan akordeon berada di posisi nyaman sebelum dimainkan.


Gunakan tangan kanan untuk memainkan tuts-tuts atau tangan kiri untuk memainkan tombol. setiap tuts atau tombol mempunyai bunyi yang berbeda. Rasanya seperti bermain piano dan harmonika secara bersamaan," lanjutnya memberi penjelasan.


Kagami menyimak tanpa sedikit pun berkedip.


"Bagian yang berada di tengah akordeon ini dinamakan bellow. Menggerakkan bellow akan menghasilkan perubahan udara. Maka saat bellow dikempis dan dibuka, maka suaranya akan terdengar berbeda.


Memainkan akordeon melibatkan koordinasi antara tangan kiri dan kanan. Tuts atau tombol yang dimainkan dengan tangan kanan menghasilkan harmoni atau melodi, sedangkan tangan kiri dapat digunakan untuk menambahkan bass atau akord," tambah Pak Arka memberi jawaban.


Para murid di hadapannya terkesima ketika pria tua tersebut mengerakkan akordeon hingga suara melodi indah terdengar menggema. Alunan musik yang indah seperti menghipnotis siapa pun yang berada di sana. Sebuah lagu tradisional dimainkan oleh Pak Arka, hanya dua bait lagu saja yang dia mainkan. Setelah menghentikan permainan akordeonnya, kemudian dia lanjut memberi penjelasan.


"Bermain akordeon ini tidak mudah, tetapi tidak juga menyulitkan. Tergantung pribadi kita, serius atau tidak dalam memainkannya. Saat bermain alat musik ini, kita harus bisa memahami koordinasi antara tangan dan gerakan bellow. Tidak banyak yang bisa melakukan hal tersebut, apalagi di jaman yang semakin berkembang ini. Mencari anak muda yang berminat bermain akordeon sanggatlah susah. Apakah kalian berminat untuk mencoba memainkan alat musik ini?"


Pertanyaan Pak Arka membuat para murid di hadapannya saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Ruri, kamu nggak tertarik?" tanya Alita.


"Nggak. Gue nggak berbakat di bidang musik, ribet lu!" ketusnya kemudian.


Alita melirik ke arah Mirai, melayangkan pertanyaan yang sama. Gadis berambut pendek itu juga menggeleng sebagai jawaban.


Alita tidak melayangkan pertanyaan itu kepada Kagami, karena laki-laki tersebut terlihat tengah terdiam saat ini, sorot matanya terus saja memandangi akordeon yang berada di pelukan Pak Arka.


"Ayo, nggak ada yang berminat untuk mencobanya?" Buk Ima mengulang pertanyaan yang sama.


Beberapa detik murid kelas dua A berbisik-bisik sendiri, hingga suasananya mendadak hening ketika Kagami mengangkat tangan. Laki-laki itu menjadi pusat perhatian.


Ruri mengernyit melihatnya, "Lu kesambet apa tiba-tiba suka sama alat musik?" tanyanya.


Kagami mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu, tapi rasanya aku ingin mencoba bermain alat musik itu sekali." Dia melenggang berjalan ke depan.


Pak Arka perlahan menyerahkan akordeon yang berada di pelukannya, seraya meneliti penampilan Kagami.


Remaja tersebut langsung menggendong akordeon itu dengan posisi yang benar, Pak Arka semakin tertarik melihatnya. Pria tua itu berdiri di samping Kagami memperhatikan posisi tangan remaja tersebut. Pak Arka kembali dibuat Kagum, ketika Kagami meletakkan posisi tangan dengan tepat. Padahal baru sekilas dia ajarkan.


Kagami mencoba menekan tuts atau tombol serta menggerakkan bellow, mencoba menyamankan dengan posisi berdirinya.


Setelah dirasa nyaman, tangan Kagami lanjut memainkan sebuah lagu. Seisi kelas terkagum-kagum dibuatnya, Kagami terlihat sekali memiliki bakat memainkan alat musik tersebut.


Ruri dan Alita bahkan tergangga mendengarnya, mereka tidak tahu jika memiliki teman seberbakat ini dalam bermain musik. Sedangkan Mirai ikut kagum bersama murid lainnya.


Pak Arka menggeleng karena takjub mendapati Kagami bisa bermain akordeon ke tingkat lanjut, yaitu mengerakkan benda tersebut sesuai tangga nada sebuah lagu, padahal dia hanya mengajarkan dasar cara memainkan alat itu tadi.


Tiba-tiba Kagami berhenti memainkan alat musik di pelukannya. Dia kembali dibuat kaget dengan tingkah lakunya sendiri. Matanya membesar menatap ke arah Pak Arka.


Pak Arka bertepuk tangan, kemudian seluruh anak kelas dua A bertepuk tangan untuk Kagami yang telah menghibur mereka dalam waktu singkat.


"Kamu hebat, Kagami! Sepertinya kamu memiliki bakat bermain akordeon!" seru salah seorang murid dalam riuhnya suara tepuk tangan yang menggema.


Kagami bertambah bingung dibuatnya. Laki-laki itu saja tidak tahu entah kenapa tangannya terasa bergerak dengan sendirinya tadi.


"Apakah kamu pernah belajar bermain akordeon sebelumnya?" tanya Pak Arka.


Kagami mengangguk, "iya, pernah."

__ADS_1


"Eh, sejak kapan?" Ruri dan Alita serentak terkejut mendengar jawaban Kagami.


Bahkan Kagami lebih terkejut lagi mendengar jawabannya. Matanya membelalak kemudian menutup mulut dengan telapak tangan. 'Mulut aku bicara sendiri,' batinnya kaget.


__ADS_2