
"Aku belum mengenal kalian lebih dalam. Bahkan selama ini aku selalu mengikuti rencana kalian yang bahkan tidak aku ketahui akar permasalahannya. Namun, satu hal yang aku tahu. Kalian sudah bersahabat sangat lama, bukan?"
Mirai memecah suasana panas di sekeliling mereka dengan sebuah pertanyaan yang tidak dijawab pun dia sudah tahu jawabannya. Iya, mereka sudah bersahabat sejak kelas satu SMP hingga sekarang. Terhitung sudah lima tahun mereka bersama.
"Aku pikir, kalian tahu maksud Alita yang sebenarnya sebelum dia melangkah pergi. Ternyata di luar dugaan justru kalian malah menambah perseteruan di antara kita."
Tangan Mirai terulur, mencekam kedua bahu Ruri seerat mungkin. Matanya membesar tanpa sedikit pun berkedip memandang gadis berkacamata di depannya.
"Ruri. Sejak awal setelah selesai mendengarkan cerita dari rencanamu, Sejak itu Alita sudah memanfaatkanmu. Tamparan yang dia berikan bertujuan supaya kamu sadar dari kabut-kabut di kepalamu. Saat dia pergi tadi, sorot matanya sedikit pun tidak menampakkan kemarahan. Dia terlihat cemas ... seolah mengatakan jika dia butuh waktu untuk menenangkan diri, dia takut salah satu dari kalian lebih terluka lagi dengan ucapannya," tutur Mirai panjang lebar dengan nada datar.
Setelahnya Mirai berbalik, mencekam bahu Kagami memaksa laki-laki tersebut untuk berdiri tegak di depannya.
"Jauh dari yang kamu sadari. Alita mencintaimu. Jauh di lubuk hatinya dia mencintaimu, Kagami!" Mirai menekan setiap kalimat yang dia katakan.
Ekspresi Kagami kosong. "Jangan membual, Mirai." Tangannya hendak menepis tangan Mirai dari bahunya, tetapi cekaman gadis tersebut semakin dipererat.
"Aku tidak berbohong!" tegas Mirai dengan sorot mata tegas, seolah ingin temannya menelisik bola matanya dan mencari kebohongan di sana. Nihil. Dia sungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan.
"Sorot mata Alita tidak bisa berbohong. Maka dari itu, setiap kali dia berbohong matanya selalu tertutup. Kalian tahu itu, kan?"
Mirai melepas cekaman bahu Kagami, lalu berdiri di antara kedua temannya.
"Saat kamu pingsan waktu di sekolah dulu. Alita sempat menangis karena khawatir dengan kondisimu. Kamu tahu, Kagami? Aku belum pernah melihat sorot mata segelisah itu sebelumnya. Rasanya saat itu, Alita seolah berteriak kencang mencemaskan keadaanmu. Dan tadi, hal itu kembali terjadi. Dia hanya melirikmu sekali, setelahnya dia tidak pernah memandangmu lagi. Kenapa? Karena tatapan matanya tidak bisa berbohong, Kagami!" tegas Mirai.
"Yang dimaksud Alita, bukan dia mencemaskan atau membela Gagas. Jauh dari sana, dia memberi tahu kepadamu bahwa dia cemas dengan kamu, Kagami. Setelah kamu melukai Gagas seperti itu, apakah kamu pikir Gagas akan diam saja? Ruri sendiri yang bilang jika dia orang yang berbahaya, kan? Alita sudah jauh memikirkan masa depan. Dia menjauh karena takut Gagas semakin murka dan mengincar dirimu. Alita tahu itu dan itu yang dia maksudkan tadi, Kagami!"
Mirai meraup oksigen dengan rakus. Saking emosinya, dia sampai lupa mengambil jeda dalam ucapannya.
"Alita orang yang selalu berpikir jauh ke depan. Kalian tahu itu, kan? Jadi aku harap kalian bisa memahami perkataannya tadi. Biarkan dia mengambil napas sejenak, biarkan dia menenangkan diri. Seraya kita memperbaiki diri." Napasnya memberat.
__ADS_1
"Aku belum lama mengenal kalian. Ucapanku mungkin terdengar seolah hanya bualan semata. Namun, aku suka menatap mata orang. Memperhatikan pancaran matanya dan mengenal seseorang lewat sana. Aku tahu Alita orang yang seperti apa. Dia tidak akan berubah, dia tetap Alita yang kita kenal."
Di akhir ucapan panjangnya Mirai menangis, jemarinya mengepal cukup kuat. Penuh harap di dada agar teman-temannya percaya dengan penjelasan panjangnya barusan.
"Maaf jika aku seolah menggurui kalian. Tapi satu hal yang pasti, aku mohon percayalah ucapanku lalu kita saling percaya satu sama lain agar kita kembali seperti dulu lagi. Kalian ... adalah teman yang sangat berharga bagiku." Suara Mirai parau.
Suasana di sekitar mereka kosong. Hanya suara isak tangis Mirai yang mendominasi.
Angin malam masuk melewati celah jendela menerbangkan gorden di ruangan tempat mereka berada. Rasa sejuknya menebus hingga masuk ke pikiran Kagami, perlahan sudut bibirnya terangkat.
"Terima kasih, Mirai."
Hanya itu yang dia katakan. Mata Mirai berbinar menatap ke arahnya.
Ruri tertawa kecil setelah lama membeku. "Lu berani juga, ya? Boleh juga nyali lu." dia tersenyum merangkul Mirai yang mulai sadar dengan tindakannya.
"Sudah semakin malam. Sebaiknya kita pulang dan menenangkan pikiran. Ingat, Senin besok kita mulai melaksanakan ujian kenaikan kelas." Ruri melirik jarum jam yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Baiklah. Semangat menjalani hari yang baru!"
Hari yang semula berjalan cukup cepat beralih terasa normal kembali. Air mata, perdebatan, emosi dan tangis haru bercampur menjadi badai yang memorak-porandakan hati mereka hari ini. Kini saat melangkah keluar dari rumah sakit, di setiap langkah yang mereka ambil perlahan membuat hati mereka mulai berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.
***
Lama Alita berdiri di depan gang rumahnya setelah jauh di berjalan kaki. Gadis tersebut mengatur napas, memperhatikan bekas infus di tangannya yang mulai bengkak dan terasa sakit.
Dia mengatur penampilannya menjadi serapi mungkin, tersenyum selebar mungkin mencoba mengendur wajah yang semula kaku.
Perban di kakinya dicabut, darah yang keluar dari sana sudah berhenti. Alita rasa, luka di sana tidak akan terlihat oleh keluarganya. Mengingat penerangan di rumahnya minim dan tidak akan mengundang banyak perhatian.
__ADS_1
"Cukup melelahkan. Tapi ini bukan pertama kalinya aku bersandiwara." Alita menarik napas dalam-dalam sebelum menyambung langkah.
Sementara itu dari kejauhan, Kagami tersenyum getir memperhatikan. "Di ujung gang itu rumah Alita. Tidak jauh, tetapi karna jalanan di sana gelap butuh waktu juga untuk sampai ke sana." Kagami memberi penjelasan kepada Mirai
"Alita hebat, ya. Aku bangga bisa mengenalnya," puji Mirai.
"Dia sosok wanita pertama yang mengetuk hatiku karena tingkahnya itu. Dia terlihat bagai bintang, yang sinarnya selalu membuat mataku silau." Kagami terbawa emosi, dia menceritakan tentang Alita di matanya kepada Mirai tanpa dia sadari.
"Aku tahu itu, Kagami. Sejak awal, tatapan matamu selalu memancarkan kekaguman pada Alita."
Mendengar perkataan Mirai, Kagami tersipu malu. "Paman dan bibimu nggak marah kamu pulang larut begini?" Dia mengalih topik pembicaraan.
"Nggak, aku sudah mengabari mereka tadi."
"Bagaimana dengan sepeda motorku? Apakah kamu sudah tidak terganggu dengan warna merahnya? Maaf aku baru menyadarinya sekarang, tadi pikiranku terlalu fokus tentang rencana kita." Kagami mengaruk tengkuk yang dirasa tidak gatal.
Mirai menggeleng seraya melirik kaca spion. Kagami bisa melihat wajahnya dari sana. Dia langsung menghidupkan sepeda motor, melaju ke arah jalan menuju rumah Mirai.
Perlahan Alita mendorong daun pintu rumahnya. Suara derit papan menyambut kepulangannya seperti biasa.
Clara berlari ke arah Alita. Memeluk kakaknya seerat mungkin. Tak lama kemudian, seorang gadis kecil berusia lima tahun ikut memeluk Alita. Menubruk tubuhnya.
"Eh, jangan tubrukan seperti itu. Kasihan Kak Alita," nasihat Laksmi melihat ketiga anak gadisnya saling berpelukan.
Linda, gadis kecil berusia lima tahun tersebut seolah tidak ingin kalah dengan kakak keduanya. Dia bahkan memanjat tubuh kakak pertamanya membuat Alita terduduk karena terkejut mendapat bobot berat menimpanya.
"Kenapa tiba-tiba peluk kakak seperti ini?" Alita keheranan.
"Aku dan Linda tidak sabar mau mendengar cerita kakak. Ayo, kakak ceritakan bagaimana suasana di pesta tadi." Clara antusias. Matanya berbinar melihat pakaian kakaknya. Dia baru sadar jika Alita memakai gaun. "Huaaa, baju kakak cantik sekali. Ibu lihat Kakak seperti putri dongeng!" Dia berlari ke arah dapur lalu kembali lagi sambil menarik ibunya.
__ADS_1
Alita tertawa lepas di depan keluarganya. Melupakan semua hal buruk dari hari yang dia jalani. Sorot matanya berbinar, di saat bibirnya mulai mengatakan kebohongan lainnya.
"Hari ini sangat menyenangkan. Banyak makanan enak, orang-orang baik dan acaranya sangat mewah." Dia memulai cerita.