
Mbok Yuti kembali memberikan dekapan hangat kepada majikan kecilnya, mengusap surai berantakan Mirai secara perlahan. Kedua matanya yang sudah sedikit rabun itu menatap wajah gadis tersebut lekat, memperhatikan setiap pahatan wajahnya. Walau samar, tetapi Mbok Yuti tahu jika kepala Mirai saat ini sedang diperban.
"Masih sakit kepalanya?" tanya Mbok Yuti, Mirai menggeleng sebagai jawaban.
"Maaf, ya, mbok nggak bisa berbuat banyak. Nggak bisa bantu Neng saat dimarahi Rachel. Rachel benar-benar keterlaluan." Mbok Yuti kembali mendekap Mirai dengan mata berkaca-kaca.
Mirai tersenyum tipis, melepas pelukan mereka; menatap wajah Mbok Yuti intens. "Tidak, Mbok nggak perlu minta maaf." Sorot matanya meneduh. "Tapi Mirai bingung, gimana caranya Mirai sekolah besok?"
"Begitu, ya, jadi Neng mau menutupi luka ini?" Mbok Yuti mengusap dahinya perlahan.
***
Ruri buru-buru membersihkan mejanya, lalu pamit kepada Alita dan Kagami. Gadis berkacamata itu bergegas keluar dari kelas dengan sedikit berlari. Kedua temannya menatapnya bingung.
"Ruri kenapa, Kagami?"
Alita masih duduk di bangku, menatap Kagami yang sedang membereskan buku pelajaran.
Kagami mengedikkan bahu. "Kurang tahu juga. Mungkin ada yang penting." Dia menyandang tas. "Tunggu di depan gerbang, ya, seperti biasanya," lanjutnya berbicara.
Kagami seperti biasanya berjalan menuju parkiran, mengambil sepeda motornya yang berada di sana. Sedangkan Alita menunggu di depan gerbang.
Gadis kucir kuda itu celingak-celinguk menatap setiap kendaraan yang melintas. Namun, suara bariton seorang laki-laki mengagetkannya. Alita berbalik arah, melihat ke pusat suara.
Netra jernihnya beradu dengan mata berwarna coklat milik Tirta. Laki-laki itu berdiri persis di depan Alita.
"Lagi nungguin Kagami, ya?" Tirta mengulang pertanyaannya, Alita mengangguk.
"Panas nunggu di sini. Nggak mau bareng aku aja?" tawarnya dengan alis yang sedikit terangkat.
Alita langsung menolak tawaran tersebut, matanya lihai memperhatikan penampilan Tirta, hingga dia teringat suatu hal. "Tirta, terima kasih sudah membalut luka tanganku waktu itu." Alita menatap bekas luka di telapak tangannya.
Tirta tidak menjawab, dia hendak berlalu dari sana, tetapi suara Alita kembali membuat langkahnya terhenti.
"Soal baju kamu. Biar aku ganti sebagai ucapan terima kasihku. Maaf, baru ingat bilang sekarang." Alita menatap lembut ke arah Tirta.
__ADS_1
Laki-laki bertubuh tinggi semampai itu menjawab. "Tidak, biarkan saja."
Setelah mengatakan itu, Tirta berlalu dari sana, bersamaan dengan Kagami yang datang mendekat. Sorot mata mereka sempat bertemu beberapa saat. Tidak ada yang berekspresi, mereka sama-sama melayangkan tatapan dingin.
"Kenapa Tirta ada di dekat kamu, Alita?" tanya Kagami setelah Alita duduk di jok belakang.
"Tidak ada apa-apa, dia kebetulan cuma lewat aja tadi." Alita tersenyum melihat kaca spion.
Kagami belum puas dengan jawaban Alita, dia menoleh, menatap wajah manis gadis di belakangnya. "Kalau dia macam-macam sama kamu, bilang aja sama aku, ya."
Alita selesai menggunakan helm. Dia tersenyum, lalu menepuk bahu Kagami. "Cepat jalan, Kagami, nanti kita telat!" Dia mengalihkan topik pembicaraan.
***
Ruri tergopoh-gopoh mencari keberadaan mamanya.
"Ma, Mamaaa ...!" teriaknya berulang kali, seraya menyisiri setiap ruangan yang berada di lantai satu rumahnya.
"Mama di sini!" Suara Syanala menggema dari lantai dua.
Kakinya langsung bergegas menuju pusat suara, meniti anak tangga dengan sangat terburu-buru. Jika tidak lihai, Ruri bisa saja terpeleset karena masih mengenakan kaos kaki.
Wanita paruh baya berkepala empat itu menurunkan kacamata yang dia kenakan. Lalu menatap putrinya dengan raut kebingungan. "Ada apa, Ruri? Kenapa buru-buru gitu?"
"Mama mau ke butik hari ini? Jam berapa?" tanyanya dengan napas terengah-engah.
Syanala memperhatikan penampilan anaknya. Belum ada yang berubah, gadis itu masih mengenakan seragam sekolah.
"Jam empat sore. Kenapa? Kamu mau ikut?"
Ruri mengangguk antusias. Syanala mengernyit melihat hal tersebut. "Kenapa tiba-tiba sekali? Tapi syukurlah, mama harap banget kamu bisa datang."
Tidak ada jawaban dari ucapannya, putri semata wayangnya langsung bergegas pergi dari sana.
Syanala kebingungan, "Ada-ada saja tingkah anak jaman sekarang, ya." Dia melanjutkan aktivitasnya membaca buku.
__ADS_1
Ruri melempar tas sekolahnya ke kasur, mencari ponselnya yang berada di dalam sana. Dengan gelisah dia langsung menelepon Gagas, tetapi panggilan darinya langsung dimatikan oleh si penerima telepon. Gadis berkacamata itu menggerutu kesal. Tidak mau berhenti sampai di situ, dia kembali menelepon Gagas, perlakuan yang sama kembali didapatkan. Panggilannya sengaja ditolak.
"Sial! Mau apa, sih, Maniak jas itu? Gue udah malas mau ke butik, kalau nggak gara-gara dia ogah banget!"
Ruri merebahkan diri ke kasur. Tangannya mengusap wajah yang semakin gusar. Pikiran dan perasaannya tidak tenang sekarang.
Jemarinya kembali membuka sebuah aplikasi pesan, lalu kembali mengirimkan pesan kepada Gagas. Tidak berselang lama, pesan yang dia kirimkan hanya dibaca saja. Setelah itu tidak ada tanda-tanda Gagas akan membalas pesannya.
Ruri semakin kesal dibuatnya, gadis itu kembali menekan tombok panggil yang berada di atas kolom chat tersebut. Kali ini, dia meneleponnya banyak kali, tanpa jeda sedikit pun agar Gagas menyerah.
Matanya melotot mendapati panggilannya yang sudah berubah status. Jika tadi statusnya berdering, sekarang berubah memanggil. Ruri bangkit dari tidurnya, meraih sebuah bantal lalu melemparnya asal ke lantai.
"Kesal! Sialan lu, Gagas!" umpatnya dengan napas tak beraturan.
Rambut panjangnya yang selalu terurai rapi kini berantakan, terlihat seperti singa yang baru bangun tidur.
Ruri menatap aplikasi chat miliknya, tetapi di waktu bersamaan emosinya menghilang setelah melihat sebuah pesan yang sengaja dia sematkan.
Sorot matanya meneduh, kembali merebahkan diri ke kasur. Dia membuka pesan tersemat itu, membaca ulang setiap dialog yang berada di dalam sana.
Chat itu sudah sepeti novel yang candu untuknya. Selalu dia baca setiap ada waktu luang. Dia tidak pernah merasa bosan, walau sudah tahu bagaimana akhir dari pesan tersebut.
[Ruri, aku mau kasih kamu sesuatu. Kita ketemuan di cafe shop fresh, ya.]
Emot senyum mengakhiri pesan tersebut.
[Malas! Kenapa nggak kasih di sekolah aja. Emangnya mau kasih apaan?] balas Ruri dengan ketikan bernada dingin.
[Nggak enak di sekolah, suasananya terlalu formal. Aku maunya di kafe, di sana kita bisa santai.]
[Ayoklah, nanti kita ketemuan di kafe. Kalau ini ketemuan terakhir kita bagaimana?]
Saat pesan itu dikirimkan, Ruri kaget bukan kepalang saat membacanya.
[Bawel! Iya, nanti gue ke sana. Jam tujuh malam.] balasnya segera.
__ADS_1
Setelah itu, si pengirim pesan mengirim emot love untuk mengakhiri percakapan mereka. Hingga sampai sekarang, percakapan mereka berhenti di sana. Pemilik nomor menghilang, akunnya sudah mati empat tahun lalu. Walaupun begitu, Ruri tetap setia menyimpan kenangan mereka di sana.
Mata Ruri berkaca-kaca setelah selesai membacanya, lalu terasa berat. Dia terlelap setelah diserang rasa kantuk yang teramat sangat.