Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Matahari Tengelam


__ADS_3

Sore itu di atas perosotan di taman bermain, Ruri dan Dion duduk bersama memperhatikan langit sore.


Bunyi jangkrik mulai mengudara, suasana sore semakin dingin. Untung saja Ruri memakai jaket dan celana panjang, hingga rasa dingin sore itu tak terlalu menusuk tulangnya.


Dilihatnya Dion sekali lagi. Laki-laki itu terus melihat ke depan sedari tadi, apakah dia tak bosan menunggu matahari terbenam seperti ini? Ruri jengah dan ingin pulang, tapi mengingat Dion sudah menunggunya satu jam di rumahnya, Ruri mengurungkan niat. Hitung-hitung sebagai permintaan maafnya kepada laki-laki tersebut.


Matahari perlahan bergerak turun pada tempat peristirahatannya. Mata Dion berbinar tatkala sinar jingga sore itu menyapu wajahnya dengan Ruri. Dia lekas memberitahu Ruri soal itu.


"Ruri, lihat matahari terbenamnya," seru Dion.


Ruri memandangnya biasa saja, sampai detik ini belum ada sesuatu yang 'spesial' seperti yang Dion katakan tadi.


Di sepanjang waktu yang bergerak lambat mengantarkan bola besar bersinar itu pada peristirahatannya, manik mata Dion tak beralih sedikit pun melihat wajah Ruri. Hal itu tentu saja mengundang tanya, padahal sebelumnya dia terlihat sangat menunggu matahari terbenam, tetapi setelah waktunya tiba matanya bahwa tak melirik sedikit pun lagi ke sana.


Cahaya rembulan muncul, hari benar-benar gelap sekarang. Ruri tak tahan lagi, pertemuan mereka sore ini benar-benar ampas.


"jadi, apa yang istimewanya? Sedari matahari mulai terbenam dan menghilang, tak ada sedikit pun keistimewaannya," cibir Ruri kala itu.


Dion terkekeh. "Maaf membuatmu kesal begitu. Aku benar-benar laki-laki yang membosankan, ya?"


"Nggak perlu gue perjelas, lu udah sadar diri. Syukurlah," gumam Ruri.


Bukannya kesal mendengar tuduhan tersebut, Dion malah semakin tersenyum lebar. Dari balik cahaya rembulan, samar-samar terlihat deretan gigi laki-laki tersebut tatkala senyumnya mengembang.


Tanpa bicara, Dion mengajak Ruri beranjak dari sana, membawanya pergi ke bawah lampu taman. Di sana mereka bisa saling melihat lebih jelas.


"Keistimewaan saat matahari terbenam itu hanya bisa dilihat oleh aku," ucap Dion di bawa lampu taman menerangi mereka.


Ruri masih tak mengerti.


"Ketika sinar jingga bola besar bercahaya itu mengenai wajahmu, tertangkap oleh binar matamu dan saat rambut panjangmu perlahan terbang ditiup angin. Indah sekali, kamu sangat cantik dan memikat hati. Aku percaya, hanya dengan berkedip saja, kamu mampu memikat banyak hari pria lain di luar sana," ungkap Dion disertai senyum di wajahnya.


Ruri kembali dilanda rasa aneh di dada. Jantungnya seakan hendak meletup mendengar deretan kata indah itu Dion umpamakan untuknya. Melihat senyum laki-laki itu bagai gula yang teramat manis menyerang kepalanya. Ruri yakin sekali, ini bukan reaksi yang berlebihan. Ini seperti ... jatuh cinta. Apakah benar seperti ini rasanya? Menyiksa dan bahagia di satu waktu. Seperti ada sesuatu yang hendak meletup di hatinya.

__ADS_1


"Siapa yang peduli tentang itu. Gue tetap saja gadis kasar yang dibenci karena sikapnya. Lu berlebihan." Ruri tak ingin terbang terlalu tinggi.


"Jika boleh, aku ingin memegang tanggamu, mendekapmu pada dada bidangku. Agar kamu tahu bahwa kata-kataku barusan bukanlah sebuah rayuan, tapi itu kenyataan. Namun, sayangnya aku tidak bisa melakukan karena ayahmu tak mengizinkannya. Aku tahu itu dan tak pernah berniat seperti itu sejak awal." Dion terkekeh sebentar mengingat ekspresi serius Roland ketika mengutarakan hal itu padanya beberapa saat yang lalu.


"Kamu candu yang membuat hatiku menjadi rancu. Bahagia dan sedih dalam satu waktu aku dibuat hanya karena senyummu itu. Matamu lentik, jernih, menenangkan. Suaramu bagai angin sore ini, menghanyutkan. Helaian rambut yang terkibas oleh angin adalah perhiasan indah nan menyilaukan. Semua tentangmu dan apa pun yang ada pada dirimu adalah seni yang teramat indah, hingga kuyakin tak ada seorang pun yang bisa melukisnya."


Ruri membeku, tak ada yang bisa dibantah. Dion dan kata-kata indah itu, menghipnotisnya seketika.


"Jadi ... ayo kita pergi makan, kudengar perutmu bergemuruh sedari tadi," ajak Dion tiba-tiba.


Ruri memegang perutnya, dia baru ingat jika sedari pulang sekolah tadi belum ada sesuap nasi pun dia makan. Gadis itu benar-benar lupa. Suasana tenang dan sedikit romantis di antara mereka buyar seketika. Hati Ruri mengantung, dia tak tahu apakah harus senang atau sedih. Entah apa yang Dion rasakan soal dirinya Ruri juga belum mendapat penjelasan.


"Gue mau pulang, ini sudah malam!" protes Ruri, Dion sudah menunggunya di sepeda.


"Aku sudah meminta izin papamu. Dia memperbolehkan aku membawamu jalan-jalan dan makan, sebelum pukul delapan malam." Dion mengangkat jempol, dia terlihat bahagia sekali mengutarakan itu.


Ruri mencak-mencak. "Papa mengatakan itu? Aneh, jangan-jangan papa gue disantet sama lu!" cebiknya.


***


Bagi gadis berkacamata itu, hal seperti ini tidak berati apa-apa. Dia tak mempermasalahkannya selagi dia bisa mengisi perut yang mulai dirasa perih.


"Lihat ini. Aku memotretnya tanpa kamu sadari."


Dion menunjukkan foto Ruri yang dia potret tadi. Ada beberapa dan posenya sama. Wajah Ruri menyamping, termenung melihat matahari terbenam.


Ruri tak bereaksi lebih. "Jelek. Hapus aja foto itu," katanya.


Dion menggeleng. "Boleh aku menyimpannya? Aku tidak akan melakukan hal aneh. Jika boleh, izinkan aku menyimpan foto ini," mohonnya.


Ruri mengangguk. Sampai detik ini dia percaya dengan Dion, terlebih lagi ... dia sendiri tak menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta pada laki-laki tersebut.


"Bagaimana soal keluarga lu, Dion? Lu belum menceritakan apa pun tentang diri lu kecuali bakat menggambar lu itu."

__ADS_1


Dion mendadak lesu mendengar pertanyaan itu. Bola matanya gelisah, Ruri menghentikan makannya. Apa dia mengatakan hal yang salah hingga laki-laki yang semula tenang itu bertingkah aneh seperti ini?


"Habiskan makanmu lebih cepat, Ruri. Hari semakin malam. Aku tidak ingin angin malam menerpamu lebih banyak. Karena menggunakan sepeda, kita rentan diserang flu."


Dion mengalih topik pembicaraan, dia fokus menyantap makanan tanpa melirik Ruri lagi setelah itu. Ruri manut tanda mengerti. Mungkin ini bukan waktu yang pas untuknya mengenal Dion lebih dalam lagi. Masih ada hari berikutnya, pikir Ruri.


Hari panjang dan sedikit romantis bersama Dion berhasil Ruri lalui. Di dalam kamar dirinya meluapkan kebahagiaan yang dia tahan sejak awal Dion mengajaknya bersepeda. Dia memukul bantal tiada henti, hingga busa yang mengisi benda tersebut beterbangan ke udara. Baru dia menyadari tindakannya berlebihan.


"Gila, jatuh cinta memang gila! Gue nyaris mati karena rasa bahagia yang gue tahan ini!"


Ruri mengingat lagi setiap adegan manisnya bersama Dion. Senyum laki-laki itu, kata-kata indahnya dan yang paling Ruri suka darinya adalah perhatian Dion. Ruri merasa menjadi manusia paling beruntung sedunia karena diperlakukan istimewa oleh Dion. Namun, kebahagiaannya sirna, mengingat Dion hanya merayu dan membual, Ruri penasaran apakah laki-laki itu merasakan hal yang sama dengannya? Apakah Dion juga jatuh cinta padanya? Dion belum mengatakan apa pun soal itu.


Ponselnya bergetar, Ruri meraih benda tersebut di nakas. sebuah pesan dari nomor tak dikenal langsung dibaca olehnya.


[Ini aku. Terima kasih untuk nomor ponselnya.]


Tanpa banyak bertanya lagi, Ruri sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Dion Andesta. Mereka pun saling berkirim pesan hingga Ruri terlelap sambil memegang ponsel yang masih menyala.


Pagi harinya, Syanala memergoki chatingan anaknya dengan Dion. Dia tersenyum tatkala chatingan mereka mengantarkannya pada masa muda, kala itu Roland juga bucin seperti Dion dengan Ruri. Tanpa sepengetahuan Ruri, mamanya tahu banyak hal tentang dia dan Dion.


Hari-hari berikutnya setelah mengenal Dion adalah kebahagiaan untuk Ruri. Dia selalu tak sabar untuk bertemu Dion di sekolah, mendengar suara beratnya, melihat senyum manisnya dan memandang rambut klimis yang senantiasa di sisir rapi ke samping. Semua itu menjadi candu untuk Ruri.


Mereka semakin dekat dan akrab setiap harinya. Karena Dion sering menghabiskan waktu di kelas Ruri, dia jadi terlihat seperti murid kelas itu. Padahal kelasnya berada di sebelah.


Hubungan dengan rasa senang di antara Ruri dan Dion berlangsung lama tanpa diberi nama. Perasaan senang yang bergejolak di antara mereka tidak diberi judul. Sampai mereka naik ke kelas 2 SMP, dua bulan setelah semester baru dijalankan. Saat itu Alita baru kehilangan ayahnya, dan sesuai rencana satu minggu setelah itu dia akan memulai kerja sampingan sebagai karyawan kafe.


"Aku turut berduka cita atas musibah yang menimpamu, Alita," tutur Dion lesu.


Alita tersenyum, mengusir semua sendu di wajahnya. Walau tahu mata gadis itu masih sembab dan basah. "Terima kasih. Beberapa hari lagi aku masuk kerja, tak sabar banget rasanya! Ternyata Kagami diterima juga di sana. Asyik ada teman!" Dia berseru, menghibur hatinya.


Mereka yang melihat tingkahnya ikut merasakan senang. "Kalian akan bekerja di kafe mana?" tanya Dion, melirik Alita dan Kagami bergantian.


"Kafe shop fresh. Di sebelah taman kota, jaraknya tidak jauh dari sekolah. Rencananya setelah pulang sekolah kami akan langsung ke sana," jelas Kagami.

__ADS_1


Mendengarnya wajah Dion mendadak pucat. Ekspresinya lesu dan takut bercampur satu ketika mendengar nama kafe itu disebut. Mata yang semula berbinar mendadak penuh kabut yang kentara dilihat siapa pun.


"Kenapa, Dion?" tanya Ruri penasaran. "apa ada yang salah?"


__ADS_2