Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Kenalan Baru


__ADS_3

Ruri memutar bola mata seraya melipat tangan di depan dada. Gadis tersebut menghembuskan napas, semakin kesal mendengar suara Pita. "Lu bisa bicara dengan nada normal nggak? Maksud gue, nama lu Pita, kan, lu nggak sayang apa sama pita suara lu?" Ruri mendelik tajam ke arahnya.


Pita cengengesan mengaruk tengkuk yang dirasa tidak gatal. "Maaf, ya, aku bahagia banget ketemu teman sepantaran di sini." Pita menarik napas. "Kalian mau aku ajak ke saung yang berada di tengah danau, nggak? Lebih baik nunggu di sana aja!" ajaknya kemudian.


Ketiga remaja di hadapannya terlihat ragu.


"Nanti kalau Pak Arka nyariin gimana?" tanya Kagami.


Pita tersenyum lebar, menepuk dadanya sendiri. "Tenang saja! Aku sudah sepuh di sini, jadi Pak Arka pasti tahu kalau kalian pergi sama aku." Dia menatap ketiga remaja di hadapannya satu persatu.


"PAK ARKA! MEREKA AKU BAWA KE SAUNG YANG BERADA DI TENGAH DANAU, YA!"


Tiba-tiba Pita berteriak, membuat ketiga remaja di depannya segera menutup telinga. Dengan wajah tanpa dosa, gadis berponi itu langsung menarik tangan Alita–remaja yang berada paling dekat dengannya–untuk pergi menuju tempat yang dia maksudkan.


"Asem emang! Lama-lama budek juga gue kalau sama dia terus!" kesal Ruri mengikuti langkah Pita dari belakang.


Kagami tersenyum di sampingnya. "Pita mirip banget sama Mirai, tapi versi sebaliknya."


Ucapan Kagami membuat Ruri menatapnya intens. "Ya, gue juga merasa jika dia adalah Mirai versi KW."


Selama mereka melewati jalan setapak menuju danau, Pita tidak berhenti bersuara. Tingkahnya terlihat seperti cacing kepanasan sekarang.


"Hai, lihat. Ini saung tempat belajar gitar! Yang di sana saung ke empat yang telah kita lewati! Saung dengan warna nyentrik itu adalah tempat menarik untuk berfoto!"


Pita seakan tidak pernah lelah, dia terus mengenalkan setiap bangunan yang mereka lewati. Sebenarnya pemandangan dan udara di sana sangat sejuk tadinya, entah kenapa sekarang terasa gerah sekali setelah Pita hadir di tengah-tengah mereka.


"Hai, Pita. Aku penasaran, kenapa kamu berada di sini? Maksud aku, kenapa kamu menuntun kami ke danau? Kamu bukan murid di sini?" tanya Kagami penasaran.


Pita menghentikan langkahnya, berbalik arah menatap Kagami. Dia langsung merentangkan tangan, berlari ke arah laki-laki yang melayangkan pertanyaan padanya tadi. Melihat hal tersebut, Kagami langsung bersembunyi di belakang Ruri dengan Alita terkekeh melihat tingkahnya. Pita benar-benar agresif.


Gadis berponi itu mencebik. "Aku ke sini bukan untuk bermain musik, tetapi pengen ketemu seseorang. Sayang sekali waktunya selalu tidak tepat! Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya," jelas Pita, kemudian lanjut berjalan menuntun teman barunya.


"Kayaknya orang yang ingin lo temui penting banget, ya?" Ruri penasaran.


Pita kembali berbalik badan, menatap Ruri dengan mata berbinar. "Aku mau ketemu calon suami aku! Aaah ...!" jawabnya, kemudian heboh sendiri.


Kagami mengernyit mendengarnya, "Calon suami? Kamu masih kecil udah mau nikah?" Nada bicaranya terdengar heran.


"Jadi, kamu mau nikahi aku, Kagami? Kamu cemburu, ya?" Pita kegeeran.


"Ehhhh? Nggaklah. Buat makan aja aku susah, boro-boro nikahin anak orang!" elak laki-laki itu.

__ADS_1


Pita kembali cemberut mendengarnya. "Jadi kalau nggak susah makan, kamu mau nikahi aku?" Sorot matanya kembali berbinar menatap Kagami.


Ruri menyebik geli melihatnya. "Benar-benar gila!"


Setelah berjalan cukup lama, sampailah mereka di sebuah danau besar yang terletak di tengah-tengah sanggar. Di tengah danau terdapat pula sebuah saung kecil, yang diprediksi hanya bisa muat enam orang.


Di sekeliling saung tersebut ditumbuhi teratai dengan bunga bermekaran menambah kesan romantis di sana. Untuk pergi ke saung itu, mereka harus melewati jembatan kecil yang terbuat dari kayu.


"Gila, di sangar ini ada danau seperti ini?" Alita terkagum-kagum saat tengah melewati jembatan.


"Seberapa luas sanggar ini, Pita?" Ruri bersuara.


Pita mengedikkan bahunya. "Aku nggak tahu itu, soalnya bukan aku yang bangun tempat ini."


Setelah sampai di saung tersebut, mereka langsung duduk bersila menghadap sebuah meja yang berada di sana.


Kagami melepas tas sekolah yang dia bawa, manik matanya melihat hamparan danau yang terbentang luas di depannya. Benar-benar pemandangan yang indah. Dia mencoba meraih air danau tersebut dengan jemarinya, tetapi niatnya gagal karena Alita membuat dia kaget.


Kagami berbalik, mendapati Alita tengah tertawa usai mengerjainya.


"Kamu, ya, nanti kalau aku beneran jatuh gimana?" protes Kagami tidak terima.


"Ck! Di sini nggak ada signal!" gerutunya kesal.


"Karena lokasi sanggar ini berada jauh dari kota, harap maklum aja jika nggak ada signal di sini," tutur Pita menjelaskan.


Tidak mengidahkan ucapan Pita, Ruri lanjut memasang ponselnya ke sebuah tongsis. "Kagami, Alita. Cis!"


Mereka bertiga berfoto bersama dengan danau indah sebagai latar belakang.


"Eh, aku mau ikut!" rengek Pita tidak terima.


"Nggak, sesi fotonya udah habis!"


Ruri memasukkan kembali tongsis miliknya. Alita dan Kagami cekikikan mengejek Pita.


"Kalau gitu, aku punya sesuatu yang lebih keren dari pada itu!"


Pita mengangkat meja di depannya, ketiga remaja itu kaget, ternyata ada sebuah kotak besar bersembunyi di bawah sana.


Sorot mata mereka terus mengikuti kotak besar yang Pita ambil secara tiba-tiba. Saat kotak tersebut terbuka, sorot mata Kagami langsung berbinar menatapnya.

__ADS_1


"Sebuah akordeon?" Kagami langsung bersuara.


Pita mengangguk, akordeon tersebut langsung dia peluk.


"Kamu dapat akordeon ini dari mana?" Alita penasaran.


Pita mengangkat wajah dengan bangga. "Aku mengambilnya tanpa sepengetahuan Pak Arka!" serunya kemudian.


"O, jadi lu nyuri?" Ruri memastikan dengan nada datar.


Mata Pita membesar, "Nggak! Aku cuma ngambil tanpa sepengetahuan Pak Arka. Setiap hari juga gini, jadi dia udah tahu kelakuanku!" jelasnya Lagi.


"Nyuri, kok, bangga," ejek Ruri lagi.


"Lihat, ya, hasil nyuri ini aku bisa bermain akordeon dengan hebat! Kalian pasti akan kubuat mengangga!"


Alat musik yang berada di pelukannya langsung dia mainkan. Bunyi kaleng karat yang seperti diiris keluar dari sana. Ketiga remaja di hadapannya langsung menutup telinga mereka.


"Benar-benar, deh! Nggak suara lu, nggak alat musik yang lu mainkan, sama-sama bikin telinga gue sakit! Lama-lama copot juga, nih, telinga!" protes Ruri membuat Pita berhenti memainkan akordeon tersebut.


"Bukan salah aku! Alat musik ini aja yang tua!" Dia membela diri.


Kagami menghela napas setelah suara memekak yang Pita buat menghilang. "Sini, biar coba aku mainkan." Dia mengulurkan tangan, mengambil akordeon yang berada di pelukan Pita.


Walau ragu, gadis berponi tersebut menyerahkan alat musik itu kepada Kagami. "Jangan sampai rusak, ya!" ancam Pita kemudian.


Setelah menyamankan dirinya dengan alat musik itu, mata Kagami terpejam membayangkan sebuah not lagu di sana. Beberapa detik kemudian, tangannya perlahan mengerakkan akordeon di pelukannya. Nada indah yang Kagami lantunkan membuat Pita membelalak. Sedangkan Alita dan Ruri menikmatinya.


Pita menarik napas, kemudian bernyanyi menyesuaikan dengan alunan dari alat musik yang Kagami mainkan.


Kancil dan rembulan ....


Menari-nari di tengah padang rumput ....


Malam yang temaram ....


Menyejukkan mata memandang ....


Kagami menghentikan permainannya secara tiba-tiba. Kedua temannya pun ikut terkejut mendengar Pita bernyanyi.


"Ternyata suara lu seindah ini?" Ruri tidak menyangka.

__ADS_1


__ADS_2