
Ruri ternganga mendengar ucapan Gagas. Gadis itu melotot tidak terima. "Lu buta, ya? Alita lagi sakit kaki gini mau lu ajak jalan? Udah, pulang sana lu! Usah gangguin teman gue!" bela Ruri.
Alita hanya diam seraya merutuk diri sendiri. Dia lupa jika tawaran Gagas waktu itu belum dia jawab, dan sekarang laki-laki berjas itu datang ke sini untuk menagih tawarannya.
"Ini bukan urusan lu! Gue nanya sama Alita. Dia mau jalan sama gue, kan, hari ini?" Gagas menatap tajam ke arah gadis kucir kuda yang dia maksudkan.
Dengan gelisah, Alita menjawab. "Maaf, Gagas. Aku nggak bisa. Maaf, ya, tadi aku jatuh dan pergelangan kakiku sakit. Maaf banget, ya" Alita merasa bersalah, dia mengatakan maaf beberapa kali.
Gagas berdecak kesal. "Alasan terus! Kapan bisanya?" Laki-laki itu masih tidak terima.
"Lu bego, Gila! Pergi sana. Udah dibilang juga Alita nggak mau sama lu, jangan maksa, deh!" tegas Ruri, kemudian dia lanjut memapah Alita masuk ke dalam mobilnya.
Gagas mengerling menatap kepergian dua gadis tersebut. Tangannya meninju tembok yang berada di belakangnya. Meluapkan emosi di sana.
Ruri menghela napas. "Lu bagaimana bisa janjian sama Gagas?" Dia menelisik.
Alita menyengir, "Ceritanya panjang. Ha ha ha!"
***
Kagami memijit kepala yang terasa sakit memikirkan saran dari Ruri. Laki-laki itu berbaring di lantai tanpa beralaskan apa pun. Matanya kosong menatap langit-langit seraya mengingat kejadian langka yang terjadi dulu waktu mereka masih SMP.
Saat itu, Kagami, Ruri dan Alita berjalan bersama menuju rumah gadis kucir kuda tersebut untuk menghabiskan waktu bermain di sana. Pribadi Alita yang terkenal ceria dan suka usil seolah-olah hilang pada saat itu.
Mereka tidak sengaja mendapati adik Alita, Clara yang saat itu berusia tiga tahun menangis karena lututnya terluka. Setelah dicari tahu, ternyata Clara yang tengah bermain di depan rumahnya tidak sengaja ditabrak oleh seorang bocah laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Clara.
Alita tidak terima, gadis itu langsung mendatangi rumah bocah laki-laki tersebut, lalu membalas rasa sakit yang adiknya rasakan dengan mendorong bocah itu di depan orang tuanya.
Perkelahian tidak bisa lagi dihindarkan saat itu. Hingga Ruri sendiri turun tangan menghentikan perbuatan gila Alita. Gadis kucir kuda itu tak peduli dan terus berambisi, menghabisi siapa pun yang telah melukai keluarganya.
__ADS_1
Masalahnya selesai setelah Ruri memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi untuk pengobatan si bocah yang tadi Alita dorong. Jika uang yang berbicara, maka hukum akan pura-pura buta. Itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi saat itu.
Kagami ternganga tak percaya melihat sikap Alita pada saat itu. Apa lagi Ruri yang langsung dapat menyimpulkan, bahwa Alita adalah gadis yang berbahaya jika menyangkut keluarga. Dia tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Kagami tidak bisa memikirkan kejadian mengerikan apa lagi yang akan terulang kali ini, jika Rera benar-benar melukai ibu Alita. Laki-laki itu tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi.
***
Deru sepeda motor yang memasuki parkiran sekolah menggema pagi ini. Semuanya terburu-buru berjalan menuju kelas, karena sebentar lagi upacara pagi akan diadakan.
Hari ini adalah hari pertama Tirta menginjakkan kaki ke sekolah ini, setelah satu minggu dia diskors. Laki-laki itu mematung di parkiran, selagi telinganya tajam mendengar desas-desus yang beredar.
"Rera berulah lagi! Kali ini Alita yang jadi korbannya."
"Tega banget si Rera, aku nggak tahu Alita anak kelas 2 A salah apa, tapi penyekapan itu tindakan yang berlebihan!"
"Gue juga dengar, kalau si Rera bikin Alita pingsan pakai cairan kloroform. Serem banget, kan? Makanya kita jangan cari masalah sama dia!"
"Sadis banget pokoknya. Masa cemburu sampai segitunya? Mereka bahkan belum ada hubungan apa-apa. Kalau sampai si Rera pacaran sama Kagami, terus ada cewek lain yang melirik cowoknya. Bisa-bisa dibunuh sama Rera!"
Tirta memicing mendengar pembicaraan beberapa cewek yang berjalan melewatinya. Laki-laki itu bergegas menuju kelas, tetapi sebelum itu, saat melewati kelas dua A, dia melirik sebentar ke sana mencari keberadaan Kagami. Namun, laki-laki itu belum terlihat batang hidungnya.
Setelah sampai ke kelas, matanya kembali mengedar mencari keberadaan Rera, gadis itu juga tidak terlihat di sana. Tirta berjalan ke tempat duduknya, melempar tas. Saat dia hendak keluar dari kelas, dia berpas-pasan dengan Rera. Laki-laki itu menghela napas, setelah melihat Rera baik-baik saja.
Tidak lama setelah Rera tiba, kehadiran Kagami di depan kelas dua B membuat beberapa siswa kembali berbisik-bisik. Kagami menjadi pusat perhatian setiap siswa yang berada di sana. Termasuk Tirta yang sedang berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu melayangkan tatapan tajam, tetapi Kagami bersikap biasa saja seolah tidak melihat Tirta di sana.
"Ra! Kagami liatin lu terus dari tadi!"
Rera terkejut mendengar ucapan Ambar. Gadis itu menoleh ke depan pintu dan ternyata benar, di sana Kagami tengah tersenyum memandangnya.
__ADS_1
Deguk jantung Rera tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Wajahnya memerah, dia salah tingkah di sana. "Mimpi apa gue semalem? Dia ke sini, lihatin gue terus tersenyum sama gue?" Rera menepuk pipinya sendiri.
"Eh, si Kagami manggil lu," kata Sisil segera.
Rera berbalik badan menatap kembali ke arah pintu kelasnya. Ternyata benar, Kagami sedang melambaikan tangan ke arahnya sekarang. Saking bahagianya, Rera langsung bangkit dan berjalan dengan malu-malu mendekat ke arah Kagami.
Tirta terus memperhatikan kedua remaja itu yang kini berjalan menjauh menuju ujung koridor di lantai dua. Entah apa yang mereka bicarakan, setelahnya Rera balik ke kelas dengan wajah yang bertambah merah. Senyumannya semakin merekah. Sementara Kagami dengan santai berlalu dari sana, seraya tersenyum tipis di wajahnya.
"Cih! Apa yang dia rencanakan!" kesal Tirta.
Saat jam pelajaran, Rera masih terlihat salah tingkah. Gadis itu terus melirik jam dinding seolah tengah menunggu sesuatu. Ekor mata Tirta tidak melewatkan barang sedetik pun pergerakan Rera. Laki-laki itu dilanda rasa penasaran yang teramat dalam saat ini.
Bel istirahat berbunyi, Rera langsung berlari ke luar kelas diikuti ketiga temannya. Begitu juga dengan Tirta yang langsung mengejar mereka dari belakang.
Rera cs masuk ke dalam gudang. Tirta perlahan mendekat ke sana, dengan mengendap-endap dia berjongkok di bawah kusen jendela, dari sana laki-laki itu bisa mendengar suara Rera dengan jelas.
"Dia bilang bakal datang ke sini. Gue nggak sabar, katanya dia mau ngomong sesuatu!"
Tirya mengernyit mendengar ucapan Rera. "Apa yang lu rencanain, Kagami?"
Kagami memisahkan diri dengan teman-temannya. Ruri, Alita dan Mirai pergi menuju kantin, sedangkan dia beralasan hendak menyelesaikan sesuatu.
Sesampainya di gudang, Kagami terkekeh kecil melihat Tirta berjongkok di bawah kusen jendela. "Segitunya lu kepo, ya?"
Suara Kagami terdengar jelas oleh Tirta, laki-laki tersebut hanya diam sebagai balasan. Telinganya kembali didekatkan ke dinding, setelah Kagami masuk ke dalam gudang.
"Teman-teman kamu juga ikut?" tanya Kagami sesampainya di sana.
Rera yang sedang tersipu-sipu menjawab. "Emmm kalau kamu nggak mau mereka ada di sini, mereka bisa pergi, kok," jawab Rera terbata-bata.
__ADS_1
Kagami tersenyum. "Nggak apa-apa. Mereka boleh di sini. Obrolan kita nggak akan mengganggu mereka, kok."