Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Rencana Weekend


__ADS_3

Setelah puas tertawa, Pak Arka mengusap sudut matanya yang sedikit berair.


"Maaf, ya, saya keceplosan ketawanya. Habisnya kamu persis sekali dengan teman saya. Bahkan saya sempat mikir kamu itu anaknya," ujar Pak Arya seraya mengatur napas.


Kagami tercengang, tubuhnya menegang setelah mendengar hal tersebut dari Pak Arka. Terbesit di pikirannya, mungkinkah sosok yang Pak Arka bicarakan kemungkinan adalah orang tua kandungnya?


"Tapi, ya, jelas bukan kamu anaknya. Karena anak semata wayangnya adalah seorang perempuan."


Setelah mengatakan itu Pak Arka kembali tertawa, Kagami menghela napas melihat tingkah pria tua di hadapannya, entah apa yang membuat Pak Arka tertawa begitu senang sekarang. Padahal baru saja tadi dia kesulitan mengatur napas.


"Anak teman saya itu perempuan, dia sering main ke sanggar saya. Masa kamu saya samain dengan perempuan? Lucu, kan?" Pak Arka menertawakan dirinya sendiri.


Wajah Kagami tersipu malu mendengar dirinya disamakan dengan seorang wanita.


'Ternyata bukan. Aku sudah kegeeran kalau aku anaknya.' Kagami membatin, sorot matanya meneduh.


"Jika teman saya punya anak laki-laki. Mungkin anaknya persis seperti kamu."


Lagi dan lagi Pak Arka kembali mengatakan argumen anehnya kepada Kagami.


"Lain kali saya perkenalkan kamu dengan dia. Teman saya itu juga seorang musisi hebat, kami berasal dari kampung yang sama. Bahkan waktu muda, kami dulunya adalah rival. Walau umur dia terpaut beberapa tahun lebih mudah dari saya," tutur Pak Arka kembali. Pria tersebut melirik jam tangannya. "Sepertinya sudah tidak ada yang mau saya omongin. Kamu boleh kembali ke kelas. Tapi ingat, jika ada waktu, mampirlah ke sanggar saya. Saya akan menunggumu kapan pun itu." Pak Arka kembali menawarkan kepada Kagami.


Remaja di hadapannya mengangguk, kemudian pamit, pergi dari sana sesopan mungkin.


Kagami menghela napas setelah meninggalkan ruangan tamu tersebut. Di sepanjang jalan menuju kelas, dia menyimpulkan satu hal. Ternyata Pak Arka orang yang sangat humoris dan ramah. Enak dijadikan lawan bicara.


Dari kejauhan, Kagami melihat Rendo, ketua kelasnya sedang berdiri di depan kelas. Laki-laki itu mengernyit lalu mempercepat langkahnya.


"Hai, Kagami. Kamu habis dari mana?" tanya Rendo setelah Kagami berada di dekatnya.


"Dari ruang guru, habis dipanggil tadi," jawabnya singkat.


Rendo meneliti penampilan remaja yang berdiri di hadapannya "Kamu kayaknya cocok, deh, jadi musikus. Kenapa nggak join klub musik di sekolah kita? Kamu nggak ada ikut klub apa-apa, kan?"


Kagami mengaruk tengkuknya yang dirasa tidak gatal. "Nggak bisa, soalnya aku kerja. Jika nggak kerja, besok aku mau makan apa," jelas Kagami kikuk.


"Eh, lu sama, ya, dengan Alita kerjanya?"


Tiba-tiba nada bicara Rendo terdengar bersemangat. Pertanyaannya diangguki oleh Kagami.

__ADS_1


"Antara Ruri dan Alita, aku lebih suka Alita yang humoris. Ruri kaku dan galak banget, serem. Kapan-kapan kamu bilang, sama Alita, ya, kalau aku suka sama dia!"


Tanpa ada sebab, Rendo mengatakan hal tersebut dengan tidak tahu malu kepada Kagami. Dia bahkan tersenyum lebar, seolah-oleh berharap jika Kagami memberinya dukungan.


"Nggak, bilang aja sendiri!" ketus Kagami dengan wajah datar. Rendo kecewa mendengarnya.


"Kamu kenapa berdiri di sini?" Kagami masih penasaran.


"Dihukum karena nggak ngerjain tugas. Kamu udah ngerjain tugas bahasa indonesia, kalau belum ngerjain join aja sama aku di sini," tawar Rendo bangga dengan perbuatannya.


Kagami menggeleng, lalu kakinya melangkah memasuki kelas. Di dalam sana Alita terlihat mengangkat ibu jari ke arahnya. Kagami yang tengah berjalan menuju mejanya pun menatap Alita sepanjang perjalanan.


"Terima kasih contekkan PR-nya," bisik Alita ketika Kagami sudah duduk.


Kagami tersenyum tipis mendengarnya. Sedangkan guru yang sedang mengajar saat ini menatapnya tajam. "Kagami, antar tugas kamu ke depan!"


***


Ruri mendengkus kesal menatap kerumunan siswa di hadapannya. Kini di dalam kantin, tidak ada meja maupun kursi yang kosong untuk mereka duduki. Padahal mereka datang di jam biasanya, tetapi entah kenapa hari ini kantin penuh lebih cepat.


"Kita ke taman aja?" tawar Kagami kepada Ruri.


Ruri mencebik mendengarnya, mau tak mau mereka hari ini makan camilan saja di taman.


Semilir angin lembut menerpa wajah keempat remaja itu setelah sampai di taman sekolah. Mereka langsung duduk di meja kosong, lalu meletakkan jajanan yang mereka bawa ke sana.


Taman sekolah berada di samping ruang laboratorium yang bersebelahan tepat dengan jalan raya. Jadi, mereka bisa mendengar deru sepeda motor yang berlalu lalang dari sana.


"Lu tadi ngapain dipanggil sama Buk Ima?"


Ruri membuka suara seraya menyambar jajanan di depannya.


Kagami mengunyah makanan di dalam mulutnya. "Tadi Pak Arka mau ketemu sama aku, dia nanya sejak kapan aku bisa bermain akordeon, katanya. Terus dia kasih ini ke aku."


Kagami mengeluarkan kartu peserta sanggar yang Pak Arka berikan padanya tadi. Ruri mengambil kartu tersebut, membaca tulisan yang berada di sana lebih detail.


"Lu daftar sanggar?" tanya Ruri kemudian.


Kagami menggeleng.

__ADS_1


"Terus, kenapa Pak Arka kasih kamu kartu ini?" Alita lanjut menyambar jajanan lain di hadapannya.


"Dia menawarkan aku untuk datang ke sanggarnya jika ada waktu luang. Dia bahkan bilang, jika dia menungguku di sana. Gimana menurut kalian?" Kagami meminta pendapat ketiga temannya.


"Jika seperti itu. Bukankah Pak Arka sangat berharap jika kamu datang ke sana, Kagami? Lebih baik turuti saja permintaan dia." Suara Mirai terdengar lembut disertai sorot mata jernihnya yang menyejukkan.


"Gue setuju dengan ucapan Mirai. Jadi kapan lu mau ke sana? Sabtu?"


"Yey! Ke sanggar musik Arka jaya! Aku sudah tidak sabar ke sana. Janji, ya, hari Sabtu kita bareng-bareng ke sana!" Alita bersemangat seraya tersenyum lebar menampakkan giginya yang banyak menempel coklat di sana.


Ruri menyebit. "Siapa juga yang ngajak lu!" Nada bicaranya terdengar bercanda.


Kagami terkekeh kecil melihat wajah cemberut Alita. Gadis itu tampak kecewa sekali dengan ucapan Ruri.


"Baiklah, kita ke sana hari Sabtu! Gimana, Mirai?" Kagami menoleh ke arah Mirai.


Gadis berambut pendek itu mengangguk seraya tersenyum tipis. Sorot matanya berbinar, terlihat jelas jika dia sangat antusias sekali.


"Kita ke sana pakai mobil gue aja!" tawar Ruri lagi.


Kagami kecewa mendengar ucapan Ruri. "Kenapa? Padahal aku udah berharap bawa sepeda motor ke sana."


"Sanggar Arka jaya itu jauh. Butuh waktu satu jam perjalanan ke sana. Makanya kita pakai mobil aja, biar bisa istirahat selama perjalanan. Gue tahu ini dari papa, sih. Dia pernah beberapa kali ke sana," jelas Ruri, terdengar nada kecewa ketika dia menyebut papanya.


Keempat remaja tersebut akhirnya membuat kesepakatan. Mereka akan pergi ke sanggar musik Arka jaya akhir pekan ini. Kagami sudah tidak sabar untuk pergi ke sana.


***


Hari yang dinanti telah tiba. Cuaca hari ini sangat cerah, seolah mendukung keberangkatan mereka menuju sanggar milik Pak Arka.


Kagami saat ini sedang bersiap-siap. Dia memasukkan beberapa peralatan ke dalam tas sekolahnya, tidak lupa juga buku not lagu tua yang sudah usang miliknya juga ikut dia bawa. Sudut bibit Kagami terangkat melihat buku tersebut.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, mendapati pesan dari Mirai terpampang jelas di depan layar.


[Maaf, Kagami. Aku nggak bisa ikut ke sanggar karena ada urusan mendadak. Sekali lagi maaf, ya, kalian bersenang-senanglah tanpa aku.]


Kagami mengernyit membaca pesan tersebut.


"Kenapa tiba-tiba sekali? Padahal dia sangat bersemangat untuk pergi." Kagami merasa heran.

__ADS_1


__ADS_2