
Kagami masih tertegun di sana. Sementara Suaka menggoyang pelan bahu seniornya yang tengah termenung.
"Kak Kagami ... Kak Kagami ...," lirih remaja itu pelan. "Pria yang barusan kakak tabrak udah pergi. Kakak ngapain masih termenung di sini?"
Kagami mengerjap, tersadar dari lamunan setelah mendengar suara Suaka. Laki-laki itu melihat ke sekeliling, mencari pria yang barusan dia tabrak, ternyata yang dikatakan Suaka benar, pria tersebut sudah tidak ada lagi di sana.
Kagami menatap Suaka intens, kemudian tangannya terulur memegang kedua bahu remaja di hadapannya. Suaka kaget, karena seniornya tiba-tiba bersikap aneh.
"Dia malaikat, Suaka! Dia benar-benar malaikat!" seru Kagami seraya menggoyang bahu Suaka sekuat mungkin, membuat remaja itu pusing.
"Hentikan, Kak Kagami! Kita harus kembali bekerja!"
Suaka memukul kepala Kagami membuat laki-laki itu sadar jika ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Alita tertawa melihat tingkah lucu Kagami. Walau tidak mendengar apa yang mereka bicarakan di sana, tetapi gadis itu ikut lega karena pengunjung tadi tidak mempermasalahkan tingkah ceroboh laki-laki tersebut.
Gagas melirik Kagami sebentar, kemudian kembali menatap Alita yang masih tertawa kecil sambil melirik ke arah Kagami, laki-laki yang sangat dia benci.
"Cowok itu siapanya kamu, sih?" tanya Gagas membuat Alita berhenti tertawa.
"Maksud kamu Kagami?" Alita memastikan.
Gagas mengangguk.
"Dia teman aku. Kami sudah lama berteman sejak SMP dulu."
Setelah mendengar jawaban Alita, Gagas berlalu dari sana dengan wajah merengut seolah tidak suka dengan apa yang gadis itu katakan.
Gagas yang berlaku tanpa mengatakan apa-apa pun membuat Alita keheranan, apakah dia telah salah bicara hingga Gagas terlihat marah seperti itu?
***
Hari yang berat telah berlalu bagi Mirai. Gadis itu meringkuk di balik selimut tebalnya, memeluk bantal guling dengan bulir bening menetes tiada henti.
Manik mata gadis itu menatap sebuah foto di nakas. Di sana terlihat jelas foto dirinya sedang tersenyum lepas bersama sang papa dan mama. Mirai sangat merindukan momen itu. Jika dia bisa memutar waktu, gadis tersebut ingin kembali ke masa lalu. Masa di mana keadaan pahit ini belum terjadi padanya.
"Mama ... papa ... Mirai rindu kalian. Jika nggak bisa peluk Mirai lagi, tolong peluk Mirai di dalam mimpi, ya," lirih Gadis itu kemudian mata sembabnya perlahan menutup.
***
__ADS_1
"Mirai ... bangun, Sayang."
Sebuah suara terdengar samar di telinga Mirai. Disertai bahunya yang terasa bergoyang, gadis yang masih terlelap tersebut perlahan membuka mata. Mengerjap, lalu berbalik badan.
Netranya membulat seolah tidak percaya melihat sosok yang saat ini tengah membangunkannya.
Sosok seorang wanita paruh baya tersenyum tipis menatap gadis yang barusan terjaga di hadapannya. Rambutnya yang senantiasa disanggul, menjadi ciri khasnya. Mirai dengan cepat bangkit dari tempat tidur lalu memeluk wanita tersebut seerat mungkin.
Mungkin mereka adalah sosok yang berbeda, tetapi hanya sosok wanita bersanggul yang saat ini Mirai peluklah yang terasa sangat mirip dengan mamanya. Suaranya yang lembut, senyumnya yang manis. Manik matanya yang memancar ketulusan. Hanya dia yang bisa mengobati Mirai dari rasa rindunya terhadap sang mama.
"Bik Selsi ... Bibik datang pagi-pagi sekali," kata Mirai seraya mempererat pelukannya. "Mirai rindu ...."
Bola mata gadis itu kembali memanas, rasanya hari ini masih terlalu pagi untuk dia menangis.
"Bangun. Bibik udah buatin sarapan," kata Selsi, bibik Mirai seraya mengusap punggung keponakannya.
Mirai terlalu fokus dengan bibiknya sehingga tidak menyadari sosok lain yang berada di sana. Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu, menatap dua wanita yang tengah berpelukan erat di hadapannya. Pria tersebut tersenyum, ketika netra Mirai melihat ke arahnya.
"Paman Hendro? Paman juga datang?"
Pelukannya dengan Selsi dilepas, lalu gadis tersebut berlari ke arah Hendro selaku sang paman. Memeluknya seerat mungkin.
"Is, udah besar jangan cengeng."
Hendro mengusap kepala Mirai, melihat manik mata gadis itu tengah berkaca-kaca saat ini.
"Mirai. Cepat mandi dan siap-siap ke sekolah, paman dan bibik menunggu di dapur. Kita sarapan sama-sama, ya."
Selsi yang tengah merapikan tempat tidur Mirai mengingatkan jika keponakannya itu harus segera berangkat sekolah. Mirai menatap ke arah sang bibik, lalu mengangguk mantap.
"Sebelum itu, Mirai. Paman mau bertanya kenapa ponselmu basah?"
Pertanyaan dari sang paman membuat langkah Mirai terhenti. Gadis itu melirik ponselnya yang berada di nakas, hatinya gelisah karena lupa menyembunyikan benda tersebut. Jika sudah begini, Mirai jadi tidak enak hati karena terpaksa harus kembali berbohong untuk sekian kalinya.
Gadis itu berbalik menatap sang paman. Lalu tersenyum kaku. Tangannya menggenggam pakaian tidur yang dia gunakan. "Ponselnya Mirai letak di saku celana, jadi nggak sengaja dicuci sama Mbok Yuti," jawab Mirai seraya melirik ke arah lain, menghindari tatapan mata dengan Hendro.
Jawaban Mirai membuat Hendro mengenyit.
Sebenarnya perasaan Hendro sedari kemarin sudah tidak enak. Tiba-tiba saja terbayang wajah Mirai di kepalanya membuat pria paruh baya tersebut merasa jika sesuatu yang aneh telah terjadi kepada keponakannya.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul empat pagi. Hendro dan sang istri melajukan mobil menuju rumah Mirai untuk mengecek keadaan sang keponakan.
Sesampainya di depan rumah mewah tersebut, Hendro membunyikan klakson mobil berkali-kali, tetapi tidak ada satu orang pun yang datang untuk membuka gerbang.
"Mas, mungkin gerbangnya tidak dikunci," terka sang istri.
Hendro pun turun dari mobil, mencoba membuka gerbang tersebut yang ternyata dikunci dari dalam. Tidak sampai di situ, sang istri pun ikut membantu dengan menekan bel berkali-kali. Tetap saja nihil, tidak ada siapa pun yang keluar untuk membuka gerbang tinggi di hadapan mereka.
Perasaan Hendro semakin diselimuti kegelisahan, tidak mau menyerah begitu saja pria itu menekan bel berkali-kali seraya memukul gerbang di depannya. Suara ribut yang dia buat cukup lama, hingga terdengar gerbang tersebut dibuka secara perlahan dari dalam.
Mbok Yuti terkejut ternyata Hendro dan Selsi yang datang subuh-subuh begini. Wanita itu juga meminta maaf karena lama membuka gerbang.
"Maaf, Pak, Buk. Apakah sudah lama menunggu?" tanyanya seraya mendorong pintu besi di hadapannya.
Pak Hendro membantu Mbok Yuti membuka gerbang lebih lebar lagi. "Tidak, Bik. Bukan salah bibik. Yang seharusnya membuka gerbang itu si Aras, ke mana dia?" selidik Hendro.
Mbok Yuti menelan ludah dengan susah payah. "Sepertinya masih tidur, Pak."
Hendro mengernyit mendengar jawaban tersebut, "Bibik sendiri?" tanyanya kembali.
"Saya sudah terbiasa bangun pagi-pagi untuk masak sarapan untuk Neng Mirai."
"Ke mana pembantu yang lain? Apakah masih tertidur?" Hendro menelisik.
Mbok Yuti menggeleng. "Saya kurang tahu, Pak. Saat saya bangun, saya langsung ke gerbang karena mendengar suara bel berkali-kali." Mbok Yuti terpaksa berbohong, padahal kenyataannya sebaliknya.
Setelah memarkirkan mobil mereka Hendro dan Selsi masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam sana sangat sepi, seperti tidak ada orang lain selain mereka bertiga.
"Mirai masih tidur, Bik?" tanya Selsi.
"Iya. Sebentar lagi akan saya bangunkan," jelas Mbok Yuti.
"Biar kami yang membangunkannya setelah sarapan selesai dimasak. Saat ini saya mau berkeliling rumah ini, memastikan apakah ada perabotan rumah rusak yang harus diganti."
Hendro berlalu dari ruang tamu, meniti anak tangga menuju lantai tiga. Sementara sang istri dan Mbok Yuti pergi menuju dapur.
Rachel yang saat ini berada di dalam kamar mandi mendengar suara wanita yang tidak asing di telinganya. Dia mengintip sedikit dari balik pintu, lalu mendapati Selsi saat ini tengah memasak di dapur.
Wanita berambut pirang itu seketika gelisah, dia tidak langsung keluar karena kamar mandi tempatnya berada saat ini berada persis di dapur.
__ADS_1
"Sial! Si tua bangka sialan itu datang pagi-pagi gini!" umpatnya seraya memutar otak mencari alasan yang bagus untuk membela diri.