
Seluruh murid kelas dua A terdiam ketika seorang guru memasuki kelas mereka. Pembicaraan Kagami pun terhentikan, mereka kembali fokus menyimak selama pelajaran berlangsung.
Dengan dirinya sendiri, Kagami bertekad untuk mengumpulkan kepingan misteri ini secara perlahan. "Aku pasti bisa!" tekadnya seraya menggenggam pena semakin erat.
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para murid berhamburan keluar kelas. Alita buru-buru merapikan mejanya, kemudian berbalik menatap Ruri yang tengah sibuk sendiri.
"Ruri ...."
Suara Alita membuat gadis berkacamata itu menatapnya kesal. "Apa? Mau gangguin gue?"
Alita menggeleng. Dia tersenyum lebar di sana. "Aku mau bilang terima kasih, karena kamu udah kasih adik aku buku gambar dan pensil warna baru hari itu. Maaf, ya, aku baru ingat bilang terima kasih lagi sekarang."
Ruri menghela napas. "Lupakan saja, lu kayak sama orang lain aja ngomongnya." Matanya melirik keluar jendela. "Adik lu suka melukis, kan? Gue jadi ingat seseorang," katanya dengan manik mata bersinar.
"Huaaa, Mirai!" Kagami berteriak membuat Ruri kaget mendengarnya.
"Berisik! Gue lagi melamun juga!"
sebuah pukulan melayang ke kepala Kagami. Sudah menjadi langganan Ruri memukulnya di sana, agar membantu ingatannya cepat kembali, pikir Ruri.
Mata Mirai melebar, tubuhnya mematung menatap Kagami yang berdiri di hadapannya. "Iya. Ada apa, Kagami?" tanya gadis itu penasaran.
Kagami menepuk meja Mirai, kemudian sorot mata seriusnya menatap manik sendu gadis itu lekat. Mirai semakin tidak nyaman dibuatnya.
"Kamu belum lihat sepeda motor baru aku!" seru Kagami membuat Ruri menggeleng seraya menepuk jidat.
"Lu mau ngomong gitu doang sampe teriak-teriak kayak orang gila? Asem emang!" dengkus Ruri lalu bangkit dari duduk.
Alita tertawa, gadis itu langsung menarik Mirai. "Kamu harus melihatnya, Mirai. Ayok kita ke depan gerbang. Motor Kagami sangat cantik!" kata Alita sambil berjalan menuju gerbang sekolah dengan Ruri di belakang mereka.
Kagami senyum-senyum sendiri selama perjalanan menuju gerbang. Dia tidak sabar menunjukkan sepeda motornya kepada Mirai.
***
Dari kelas yang berada di lantai dua, Rera melihat setiap murid yang berjalan keluar dari gerbang. Wajahnya sayu tanpa ekspresi apa pun setelah kejadian panjang dia alami hari ini.
__ADS_1
Perkataan Kagami masih terngiang-ngiang di kepalanya, tetapi entah mengapa gadis tersebut merasa jika ucapan Kagami malah membantunya kembali ke pribadi aslinya. Bukan lagi Rera ambisius yang suka membuli.
Sudut bibirnya terangkat, tatkala manik matanya menangkap Kagami yang tengah tersenyum bersama teman-temannya. Senyuman ikhlas yang laki-laki itu layangkan membuat hati sendu Rera menghangat.
Dirinya tidak lagi merasa kesal ketika Alita, Ruri dan Mirai bercanda bersama Kagami. Entah mengapa, tetapi itulah yang terjadi saat ini.
Rera terus memperhatikan keempat siswa tersebut yang tengah menutup mata Mirai dengan dasi yang Kagami kenakan. Entah apa yang mereka rencanakan, setelah itu Kagami terlihat pergi dari sana. Manik mata Rera terus mengikuti pergerakan mereka, hingga seseorang mengulurkan sapu kepadanya, membuat dia terkejut.
Rera menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya. Tubuh tegap dan tinggi laki-laki itu miliki, membuat Rera tahu jika dia adalah Tirta.
Gadis bersurai panjang terurai itu menatap Tirta intens. Laki-laki tersebut masih tidak bersuara, dengan tangan terus mengangkat sapu, menyodorkan kepadanya.
"Ada apa, Tirta?" tanya Rera santai.
Tirta gelagapan. Tiba-tiba dia merasa grogi. "Kamu piket. Jadi, ini sapunya," jawab Tirta singkat.
Sudut bibir Rera terangkat. "Maaf, aku lupa. Terima kasih, ya." Rera meraih sapu yang Tirta berikan, sebelum pergi gadis itu melayangkan sebuah senyuman kepada Tirta.
Hati laki-laki bertubuh tegap dengan wajah bengis itu menghangat, dia sangat bahagia sampai lupa membuang sampah yang masih berada di tangannya. "Terakhir kali Rera tersenyum seperti itu kepadaku ... dua tahun yang lalu," katanya seorang diri.
Tirta terus tersenyum memandangi Rera yang tengah menyapu.
Suara seorang wanita paruh baya yang merupakan wali kelas mereka membuyarkan kebahagiaan Tirta.
***
"Masih lama?" tanya Mirai.
Mata gadis itu sudah sejak tadi ditutup, dia jadi tidak sabaran untuk membukanya.
"Sebentar lagi!" jawab Alita.
Ruri menggeleng melihat kelakuan Alita dan Kagami. Mereka berdua benar-benar rempong, tinggal tunjukkan saja sepeda motor barunya kepada Mirai, tanpa menutup mata gadis itu Ruri rasa hasilnya akan sama saja.
Gadis bermata empat tersebut jadi ikut menunggu kehadiran Kagami di depan gerbang. "Lama lagi, kah?" tanya Ruri datar.
Alita meliriknya, "Bentar, Ruri. Ini kejutan fenomenal!" Alita heboh sendiri.
__ADS_1
Kagami datang sambil menyeret sepeda motornya. Sengaja dia tidak menghidupkan mesin sepeda motornya. Takut kejutan mereka gagal.
Kagami memberi kode kepada Alita. Gadis kucir kuda itu memahaminya. Lalu dalam hitungan ketiga, penutup mata Mirai dibuka. Gadis tersebut mengerjap di sana.
Sebuah sepeda motor bebek berwarna merah menyala terpampang di hadapannya. Bukannya kaget, gadis itu malah mematung, matanya melotot melihat sepeda motor tersebut.
"Tadaaa! Lihat, cantik, kan?" tanya Alita memecah keheningan di antara mereka.
Mirai masih mematung. Matanya menelisik setiap inci sepeda motor di hadapannya. Warna merah menyala, tanpa ada warna lain di sana. Membuat gadis itu kembali mengingat suatu hal.
"Ada apa?"
Ruri penasaran karena Mirai tidak bersuara sejak penutup matanya dibuka.
Napas Mirai menderu kencang. Matanya masih melotot, dengan perlahan bulir bening keluar dari sana. Tubuhnya bergemetar. Mirai menutup wajah ketika tangisnya tiba-tiba saja semakin menderai.
Ketiga temannya terkejut. Kagami langsung meletakkan sepeda motornya sedikit jauh dari Mirai, hingga gadis itu tidak lagi bisa melihatnya. Alita memeluk Mirai yang semakin terisak.
"Hai, Mirai. Ada apa? Apakah ada yang salah dengan motorku?" Kagami merasa bersalah.
"Mirai? Lu kenapa?" Ruri juga ikut penasaran.
Mirai menggeleng, dia terus saja terisak di dalam pelukan Alita. Suara Mirai terdengar serak, beberapa murid yang lewat menjadikan mereka pusat perhatian.
"Neng Mirai, kenapa?"
Seorang pria paruh baya mendekat ke arah Mirai yang tengah menangis. Alita, Ruri dan Kagami saling menatap satu sama lain, melihat orang asing yang mendekat ke arah mereka.
"Apa yang terjadi? Kenapa Neng Mirai menangis?" tanya pria tersebut.
Kagami menjawab, "Tadi saya nunjukin sepeda motor saya sama dia. Terus setelah itu dia tiba-tiba saja menangis."
Kagami menunjuk ke arah sepeda motornya. Pria paruh baya yang baru datang itu ikut terkejut melihat sepeda motor Kagami.
"Bapak siapa, ya?" Ruri menelisik.
"Saya Danu. Tukang kebun di rumah Neng Mirai. Karena sopir yang biasanya mengantar Neng Mirai sedang sakit, jadi saya yang menggantikan," kata pria tersebut menjelaskan.
__ADS_1
Suara pria itu membuat Mirai berhenti dari isak tangisnya. Gadis tersebut menghapus air matanya kasar. "Maaf, aku kaget tadi karena sepeda motornya berwarna merah." Mata sendunya menunduk merasa bersalah karena telah membuat teman-temannya khawatir.
"Merah? Emang kenapa kalau sepeda motor aku warna merah?" Kagami penasaran.