Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Jangan Membuka Luka


__ADS_3

"Sebentar lagi ayah lu akan tiba. Gue sudah meminta Pak Miko untuk menjemputnya." Ruri kembali menyeruput minumannya. "Jadi, gimana lu jelasin situasi ini kepada ayah lu, Kagami?" tanyanya kepada laki-laki berwajah pucat tersebut.


Kagami menghela napas berat, menatap langit-langit seraya berpikir. "Sepertinya aku akan berbohong. Bilang aja jika ini ulah preman usil yang tidak sengaja aku usik. Jika aku mengatakan yang sejujurnya, justru ini akan jadi pedang bermata dua bagiku."


"Baiklah. Jadi, Mirai dan Alita kalian nggak mau pulang? Ini sudah sore, sebaiknya kalian ganti baju lalu malam nanti kita ketemu lagi di sini."


Usulan Ruri diterima dengan baik. Alita dan Mirai bersiap untuk pulang.


"Kagami, kamu jangan lupa makan. Wajahmu pucat pasi kayak zombi," ejek Alita sebelum badannya menghilang di balik pintu.


Kagami tersenyum simpul sembari memejamkan mata. 'Sungguh mengemaskan,' batinnya berkata.


Setelah dirasa temannya jauh melangkah. Ruri secara tiba-tiba menendang brankar tempat Kagami berbaring. "Pecundang lu. Ngungkapin perasaan di saat begini. Lu tahu nggak, wajah lu kayak zombi yang jatuh cinta!" ejek Ruri lalu tertawa lepas.


Wajah Kagami memanas. Dia lebih malu lagi. "Harus gimana lagi, suasana terlalu mendesak jadi aku jujur aja," balas Kagami melirik ke arah lain.


Ruri mengatur napasnya. "Tapi lu harus tahu. Sedari lu ditemukan tak sadarkan diri di kos, sampai lu bangun. Selama itu sedikit pun Alita tidak berbicara dengan kami. Dia terus aja nangisin lu. Setidaknya buatlah suasana yang lebih romantis, payah! Benar-benar aib seumur hidup!"


"Eh, benarkah? Jadi Alita menangis untukku?"


Alih-alih malu, kali ini Kagami terdengar bangga dengan perkataannya.


"Kalian itu cocok, awas kalau nggak sampai menikah!" ancam Ruri.


"Ruri ngomong apaan, sih. Masih kecil, woi, kerja aja belum!" bela Kagami menanggung malu, sedangkan Ruri kembali tertawa mengejeknya.


"Sepertinya kami mengganggu, ya?"


Suara tawa Ruri berhenti. Seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya memasuki ruangan tersebut. Mereka adalah Febriante Oved dan Syanala yang datang di waktu bersamaan.


"Maaf mama telat, tadi jalan macet sekali."

__ADS_1


Syanala memeluk anaknya, lalu beralih memeluk Kagami secara hati-hati. "Kamu sudah baikkan, Nak? Jangan banyak gerak dulu." Dia cemas.


"Eh, anak laki-laki ayah menangis karena luka kecil seperti itu?" gurau Febriante memergoki air di sudut mata Kagami.


"Nggak, aku tadi ketawa sampai nyaris menangis," bela Kagami, Febriante tertawa melihat tingkah malu-malu anak angkatnya.


Pria berkaos abu-abu itu duduk di sebelah Kagami, memerhatikan anak angkatnya lebih dekat. Matanya meneliti bagian tubuh Kagami yang lain, terlihat tidak ada yang terluka. Hanya kepalanya saja yang diperban. Dia bisa lega sekarang.


"Apa yang terjadi, Kagami?" tanyanya.


Bibir Kagami bergerak, merangkai kalimat yang sudah dia rencanakan sebelumnya. Semua itu terjadi akibat ulah preman yang tidak sengaja dia ganggu. Hanya itu, tidak ada tambahan cerita lainnya.


"Kami menangis saat terluka?"


"Tentu saja tidak. Ayah pikir aku cowok cengeng?"


Setiap anak laki-laki yang Febriante asuh dididik menjadi pribadi yang mandiri, kuat serta hormat pada wanita. Tidak boleh memukul wanita atau bermain kasar dengan mereka, karena sebagai laki-laki mereka diciptakan untuk melindungi wanita. itu yang Febriante ajarkan dan tanamkan pada anak yang dia asuh.


"Maaf, suami saya tidak bisa datang. Jadi, saya mewakili," kata Syanala.


"Tidak apa-apa. Luka kecil seperti ini tidak perlu dikhawatirkan. Dijilat juga sembuh," celoteh Febriante.


Pria yang menjadi ayah angkat Kagami sangat terkenal ramah, periang dan hobi bercanda. Namun, di balik sisi tersebut Febriante adalah orang yang tegas dalam mendidik.


Keluarga Ruri dan Kagami saling berbincang dengan hangat. Sementara di luar, Mirai dan Alita belum juga pergi dari rumah sakit karena dicegat oleh Vikram.


"Ayolah, aku mohon. Berikan aku nomor si kacamata manis itu," mohon Vikram sekali lagi. "Kalian temannya, kan, pasti punya nomor dia."


Kedua gadis di depan Vikram jengah. Ingin rasanya Alita dan Mirai segera pergi dari sana, tapi Laki-laki berjas putih tersebut berdiri tepat di depan mereka hingga akses jalan mereka tertutup.


"Om, sebaiknya hentikan memanggil Ruri dengan sebutan kacamata manis. Om tidak berhak memanggilnya begitu," cibir Alita dengan nada datar.

__ADS_1


Vikram mengernyit tak mengerti. "Kenapa? Panggilan itu tercipta saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia benar-benar gadis yang manis. Dan satu lagi, jangan panggil aku om. Aku tidak setua itu."


"Kalau ingin mengenal Ruri lebih dalam, seharusnya Kakak berani berbincang langsung dengannya. Jangan mencari perantara dari seseorang. Maaf, Kak. Kami permisi." Mirai menyenggol tubuh Vikram sembari menarik Alita pergi dari sana.


Vikram senang akhirnya ada seseorang yang memanggilnya dengan panggilan kakak, selain Om. "Baiklah, aku salah. Maaf. Tapi boleh aku tahu siapa yang selalu Ruri jengguk di rumah sakit ini?"


Laki-laki berjas putih tersebut menoleh ke belakang. Kedua gadis di sana berhenti setelah mendengar suaranya kembali.


"Om bisa tanya sendiri sama Ruri," balas Alita. "Satu lagi, jangan memanggil Ruri dengan sebutan kacamata manis. Karena itu hanya akan membuka luka lamanya."


Setelah mengatakannya Mirai dan Alita pergi dari sana, memasuki taxi yang sudah menunggu. Di dalam Taxi Mirai bertanya. Dia juga bingung dengan maksud perkataan Alita barusan.


"Siapa yang sering Ruri jenguk di rumah sakit ini, Alita?"


"Kamu akan tahu jawabannya langsung dari Ruri. Sabar saja menunggu hingga beberapa hari lagi, firasatku mengatakan jika Ruri akan menceritakan semuanya padamu dalam waktu dekat.


***


Hari sudah semakin gelap. Kini hanya tinggal Febriante dan Kagami di dalam ruangan tersebut.


Pria berkaos abu-abu itu berjalan mendekati jendela, menutup gorden yang masih terbuka. Sebelum itu dia menyempatkan diri menatap jalanan yang penuh orang berlalu-lalang beberapa saat.


"Kamu tidak makan, Kagami? Tante Syanala sudah membelimu bubur. Makanlah, wajahmu terlihat sangat pucat," kata Febriante mengingatkan.


Kagami memandang semangkuk bubur yang masih terbungkus rapi itu. Dia merasa lemah, tetapi nafsu makannya belum ada.


"Iya, aku akan memakannya nanti, Ayah. Teman-temanku janji akan datang lagi menjenggukku."


Febriante tersenyum, lalu berbalik badan melihat anak angkatnya. "Kamu punya teman yang baik. Perempuan semua temanmu?" Dia menahan tawa saat mengatakan kalimat terakhir dari pertanyaannya.


"Tentu saja tidak, Ayah. Tapi kebetulan saja orang yang paling mengenal aku hanya mereka bertiga." Kagami menunduk menyembunyikan binar mata dari ayah angkatnya.

__ADS_1


"Ayah. Saat aku pingsan tadi, secara samar-samar aku melihat masa laluku. Ayah menemukan aku di bibir pantai, kan?" lanjutnya mengunci bola mata Febriante.


__ADS_2