Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Belum Memaafkan


__ADS_3

"Kenapa harus nanya mereka? Jelas-jelas mereka tidak ada di sini," cebik Rera lalu mencoba meletakkan keranjang kecil berisi buah miliknya di meja yang berada di sebelah Kagami. Meja tersebut sudah penuh dengan keranjang kecil berisi buah yang Suaka bawa tadi hingga oleh-oleh darinya tidak mendapat tempat.


"Sudah penuh. Bawa aja pulang buahnya. Terima kasih sudah datang," kata Kagami dingin.


Dada Tirta memanas, dia menatap nyalang muka Kagami. "Lu benar-benar nggak tahu terima kasih, ya. Rera udah repot-repot datang ke sini buat jenggukin lu, tapi ini balasannya? Benar-benar sampah. Kalau itu yang lu mau, ayo kita pulang, Rera."


Sekuat mungkin Rera menahan air mata. Dia tahu Kagami bersikap seperti itu karena kesalahannya di masa lalu. Tercetak jelas di wajah laki-laki tersebut bahwa dia belum memaafkan kesalahan yang Rera buat saat menyekap Alita.


Rera meletak keranjang berisi buah yang dia beli ke lantai secara hati-hati. Lalu menatap intens wajah Kagami, walau laki-laki tersebut menghindari tatapannya. Kagami menatap jauh ke ke masa lampau, melihat kejahatan Rera saat menyekap Alita dan memberinya surat ancaman.


"Lu belum maafin gue soal Alita? Bukankah lu udah marahin gue waktu itu?" tanya Rera maniknya berkaca.


Tanpa menoleh Kagami menjawab. "Kapan aku marahin kamu? Saat itu aku hanya memberi tahumu fakta yang sebenarnya."


Dada Rera terasa sesak, ternyata sehina ini dirinya di mata Kagami. Rasanya sakit sekali, dirinya kalah dari gadis gembel seperti Alita.


"Jika gue minta maaf kepada Alita, lu bakal maafin gue?" Rera bersiap untuk pergi.


"Jika Alita memaafkanmu, aku juga sama."


Setelah mendapat jawaban tersebut Rera memantapkan diri untuk berlalu dari sana. Percuma saja muncul di hadapan orang yang tidak menginginkan kehadirannya. Dia terlihat seperti badut, sang penghibur yang diacuhkan.


Jemari tangan Rera terulur hendak memegang knop pintu, tetapi seseorang membukanya dari luar di waktu bersamaan. Mereka terperangah lalu mundur dua langkah ke belakang.


"Eh, ada Rera. Hai!"


Alita menyapa dengan senyum hangatnya, dengan Mirai mengikuti dari belakang tanpa melirik wajah Rera maupun Tirta. Aura mereka benar-benar menakutkan untuk ditatap.

__ADS_1


Rera menoleh melihat senyum di wajah Kagami saat Alita mengajaknya berbicara. Benar-benar terlihat berbeda saat berbicara dengannya tadi. Rera sadar, itu yang dinamakan benci dan cinta. Kentara sekali perbedaannya.


"Wah ada buah. Dua keranjang?" Alita heboh.


"Satu lagi dibawain Suaka, sedangkan satu lagi dibawakan Rera," jelas Kagami seadanya. Saat menyebut nama Rera mimik wajahnya berubah datar.


"Terima kasih banyak, Rera. Kamu tahu aja kalau Kagami suka salak. Banyak banget salaknya," seru Alita menatap punggung Rera yang perlahan hilang di balik pintu.


Suaranya tidak mendapat sahutan dari siapa pun, baik Rera maupun Tirta. Mereka hilang dan berlalu begitu saja.


"Mereka udah lama di sini, Kagami?" Mirai bertanya.


"Tidak, baru aja. Kebetulan pas dia mau pulang kalian datang."


"Kagami, jaga pola makan. Ini aku bawain nasi goreng lagi, terus makan apel ini nanti, ya," Alita sibuk menyiapkan apel di atas meja beserta bekal yang dia bawa. "Minta Mirai yang bantu kupasin apelnya, aku mau kerja dulu." Dia bersiap mengambil langkah.


"Kamu pergi kerja sama siapa?" selidik Kagami, terdengar kekhawatiran di nada bicaranya.


"Jangan khawatir, kamu makan aja!" teriaknya lagi sebelum berlari di lorong rumah sakit, tergesa-gesa takut ojek yang dia lihat menghilang.


"Alita bawel, seperti seorang ibu pada anaknya." Mirai menahan kekehnya, lalu menatap keluar jendela mengintai Alita dari sana.


Matanya sempat membesar mendapati Alita berboncengan dengan Tirta. "Kagami, Alita berboncengan dengan Tirta," adunya segera.


Ekspresi wajahnya sempat kaget, tetapi beberapa detik kemudian dia terlihat lega. "Tidak apa-apa, lagi pula mencari ojek offline itu susah. Aku percaya dengan Tirta, dia laki-laki yang baik."


Kagami tenggelam dalam lamunan menatap makanan yang sudah Alita siapkan untuknya. Benar-benar sosok gadis yang memiliki jiwa keibuan. Entah karena Alita terbiasa mengurusi kedua adiknya, hal itu dia lakukan juga pada Kagami.

__ADS_1


Hati laki-laki dengan rambut potongan undercut itu tiba-tiba saja merasa perih tatkala memorinya menuntut pada ekspresi Rera saat dia berkata dingin pada gadis tersebut. Sebenarnya Kagami tidak tega berkata kasar kepada seorang wanita, tetapi Rera bukan sosok gadis yang bisa dimanja, jika dia tidak berterus terang dengan emosinya Rera hanya akan merasa menang dan tidak menganggap kesalahannya adalah sebuah kesalahan fatal.


"Tadi kalian ke sini bersama Pak Miko, itu artinya Ruri bersama dengan kalian, kan? Di mana dia sekarang?" tanya Kagami seraya mengambil piring berisi nasi di sebelahnya.


"Katanya dia pergi ingin menjengguk seseorang dulu. Aku tidak tahu siapa yang dia jenguk di rumah sakit ini selain kamu. Aku penasaran, tetapi Alita bilang Ruri akan memberi tahuku soal itu dalam waktu dekat," sahut Mirai, menatap langit di malam hari dan di siang hari sudah menjadi candu untuknya.


"Yang dikatakan Alita benar. Bersabarlah sebentar lagi, Mirai." Kagami memulai kegiatan makannya.


***


Saat pergi menjengguk Kagami, Tirta berboncengan dengan Rera menggunakan sepeda motornya. Lalu tanpa sepengetahuan Tirta, ternyata Rera sudah memesan taksi online untuk membawanya pulang.


Tirta tidak keberatan, dia lapang dada menerima keputusan gadis tersebut. Saat dia masih berdiri di depan gerbang rumah sakit, tanpa sengaja berpas-pasan dengan Alita yang terburu-buru mencari ojek. Ternyata ojek yang dia lihat tadi sudah pergi, padahal hanya lewat beberapa menit.


Tirta menawarkan tumpangan. Karena suasana mendesak, Alita menyetujuinya. Tirta akan mengantar Alita ke kafe tepat waktu dan selama dalam perjalanan suasana di antara mereka sungguh canggung. Tidak ada yang berbicara.


Suara deru mesin motor dan banyaknya kendaraan silih berganti melewati mereka menjadi objek yang mengalihkan kecanggungan. Mereka saling fokus menatap jalanan, merasakan angin siang itu menerpa wajah.


Tirta membawa sepeda motor dengan kecepatan tinggi, berbeda sekali dengan Kagami yang selalu santai. Alita mulai merasa tidak nyaman, tangannya terus berpegangan pada besi di belakang sepeda motor tersebut.


"Bagaimana kabar Gagas saat ini, Tirta?"


Tiba-tiba saja Alita bersuara, menanyakan hal yang terlintas di benaknya. Tirta mengurangi kecepatan sepada motornya agar suaranya bisa terdengar jelas oleh Alita.


"Dia baik. Luka di wajahnya sudah sembuh total, tinggal beberapa bekas yang belum hilang. Kenapa lu nanya keadaan orang yang telah melukai teman lu?"


Sepertinya Tirta tertarik dengan obrolan ini. Alita akhirnya bisa bernapas lega, setelah Tirta mengurangi kecepatan sepeda motornya. Stabil dan tidak lagi membuat keseimbangan tubuhnya menghilang.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Aku hanya penasaran dengan kabarnya karena sudah lama dia menghilang. Karena posisi kami dengannya imbang, aku harap dia nggak pernah gangguin kami lagi." Alita diam sejenak merangkai kalimat selanjutnya di kepala. "Hei, Tirta. Aku rasa Gagas itu orang yang baik, kenapa dia seolah-olah memaksa banget untuk menjadi jahat?"


"Entahlah. Sejak awal gue bertemu dengannya, dia sudah seperti itu," balas Tirta matanya kembali fokus menatap jalanan lalu menambah kecepatan sepeda motornya secara perlahan. Untung Alita sempat berpegangan pada besi belakang sebelum tubuhnya kembali hilang kendali.


__ADS_2