
Tidak lama kemudian Kagami kembali sambil menyeret sepeda motor bebek berwarna merah. Dari penampilannya saja siapa pun yang melihatnya pasti bisa langsung menebak jika itu adalah sepeda motor baru.
Bodi motor yang masih mengilat, tanpa ada sedikit pun noda di sana, ditambah lagi dengan sampul plastik yang membungkus jok sepeda motor tersebut belum dilepas. Aura barunya jadi sangat kentara.
Kagami tersenyum bangga setelah sampai di hadapan Alita dan Suaka. Sedangkan kedua remaja itu masih terkejut melihat apa yang Kagami bawa bersamanya.
"Sepeda motor siapa, Kagami? Punya kamu?" Alita menelisik.
Kagami mengangguk tanpa menghilangkan senyuman bangga di wajahnya.
"Jadi ini alasan Kak Kagami senyum-senyum terus dari tadi?"
Kagami kembali mengangguki pertanyaan yang Suaka lontarkan.
"Kereeen, Kak Kagami punya sepeda motor sendiri di usia muda!" seru Suaka takjub pada seniornya.
"Cantik banget warnanya. Merah menyala," puji Alita kembali.
Suara Alita baru saja selesai, kemudian suara geledek berdentuman di langit membuat mereka yang sedang takjub di sana tersentak. Udara malam semakin dingin terasa, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang.
"Mulai hari ini, kamu nggak usah khawatir soal ojek, Alita. Aku yang antar kamu pulang pergi!" seru Kagami seraya cekikikan.
Alita tertawa mendengarnya. Tubuh gadis itu perlahan menaiki sepeda motor milik Kagami dengan sangat hati-hati. Takut lecet katanya. Mereka berlalu dari sana setelah Suaka pamit duluan tadi.
***
Stan bazar berjejer rapi memenuhi lapangan luas milik SMA Hirojaya. Terlihat banyak sekali barang dagangan yang tersedia di sana. Ada yang menjual makanan, pernak-pernik serta ada juga stan yang menyediakan permainan.
Bazar tahun ini diisi oleh anak kelas satu sebagai penjualnya, sedangkan anak kelas dua dan tiga datang sebagai pembeli. Walau terlihat sederhana, tetapi antusias murid dan guru patut diacungi jempol.
Hari masih sangat pagi, tetapi lokasi bazar telah dipenuhi oleh beberapa murid dan guru yang datang untuk sekedar melihat-lihat. Di sana juga terlihat Ruri sedang mengecek kesiapan setiap stan, seraya mencatatnya di sebuah buku yang dia pegang.
Sebagai anggota osis, menjaga keamanan selama berlangsungnya bazar menjadi tugas kelompok Ruri. Tugas ini sangat pantas mereka emban, karena kelompok yang Ruri bentuk terdiri dari orang-orang tegas seperti dirinya.
"Semuanya aman. Gue mau istirahat dulu," kata Ruri kepada rekan yang berdiri di sebelahnya.
Gadis yang berada di sebelahnya mengangguk. "Lu jangan sampai teledor. Ingat posisi lu sebagai ketua keamanan." Dia mengingatkan, kemudian diangguki Ruri yang telah melenggang pergi.
Ruri beristirahat di tenda kecil khusus yang didirikan untuk anggota osis penjaga keamanan. Tenda tersebut terletak di pintu masuk bazar. Dari sana, mereka bisa memantau siapa saja yang lewat.
Saat tengah asyik menyeruput teh panas, gadis itu tersentak ketika namanya dipanggil oleh seseorang dengan nada cempreng.
"Ruri ...!" seru Alita sembari mendekat ke arahnya.
"Ruri ...!" Kali ini Kagami berseru mengikuti nada bicara Alita. Mirai tersenyum melihat mereka yang tengah menjahili Ruri.
"Apa?!" ketusnya dengan mata mengerling menatap ketiga temannya yang berdiri di hadapan.
__ADS_1
"Lagi apa?" tanya Kagami basa-basi, padahal sebenarnya dia sudah tahu tugas dan posisi Ruri saat ini.
"Lagi jaga keama—"
"Udah tahu, ha ha ha. Selamat bertugas, Ruri. Kami pergi menikmati bazarnya dulu ...!"
Kalimat Ruri terpotong oleh Alita, sambil mengatakan itu gadis kucir kuda tersebut berlari menarik Mirai, dan Kagami menyusulnya.
Ruri mendengkus kesal. "Asem emang!"
Setiap stan mereka singgahi. Bukan untuk membeli, tetapi hanya sekadar melihat-lihat dahulu. Masih terlalu pagi untuk menghamburkan uang, itu yang Alita pikirkan.
Sorot mata Mirai jelalatan melihat setiap pernak-pernik lucu yang dijual di sana. Rasanya gadis itu ingin membeli beberapa, tetapi lengannya ditarik Alita membuat dia tidak bisa singgah ke stan yang dia inginkan.
Langkah mereka berhenti setelah berada di stan terakhir.
"Mulai dari sini, kita menyusuri setiap dagangan di sini!" seru Alita bersemangat, manik matanya berbinar menatap Mirai.
Gadis berambut pendek sebahu itu kebingungan. "Bukannya tadi kita sudah berkeliling?"
"Kita akan melakukannya dua kali, biar semakin seru, Mirai!" Kagami tidak kalah bersemangat.
Mirai tersenyum tipis. Di dalam hatinya, dia tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya saat ini. Menikmati bazar bersama teman-teman adalah impiannya sejak lama.
Selagi mereka sibuk menikmati bazar, mata Ruri tidak diam memperhatikan satu persatu murid yang melewati tenda mereka. Dari banyaknya murid yang dia lihat, hingga hari semakin siang dia tidak mendapati orang yang paling mencolok di sekolah mereka.
"Gue yang terlewat melihatnya atau dia yang memang nggak ada? Si Rera sialan itu jangan-jangan sedang membuli murid lagi!" terka Ruri asal.
"Saat dia keluar dari bazar. Saat itu kita beraksi!" seru Rera seraya melambung-lambungkan botol kecil di tangannya.
***
Kaki sudah lelah mengelilingi bazar. Makanan dan pernak-pernik yang diincar kini telah berada digenggam. Alita, Mirai dan Kagami berlalu dari sana. Namun, sebelum itu mereka sempat memamerkan makanan yang mereka bawa kepada Ruri.
"Sialan kalian semua! Makan ajak-ajak gue, woi!" teriak Ruri tidak terima melihat temannya berlalu dari bazar dengan membawa begitu banyak jajanan.
"Kasihan Ruri. Kenapa kita nggak ajak dia?" Mirai bersuara ketika mereka sudah duduk di kursi panjang yang berada di depan kelas mereka.
Suasana di sana sangat sepi dan dingin. Tempat yang cocok untuk menikmati jajanan yang barusan dibeli.
Alita menyambar bakso bakar, dengan mulut penuh dia menyahut pertanyaan Mirai. "Dia anggota osis, nggak bisa seenaknya tinggalin tugas."
"Nggak apa-apa, Mirai. Santai aja, palingan nanti cuma kena geplak sama Ruri!" Kagami tertawa, makanan yang berada di dalam mulutnya menyembur.
"Jijik!"
Sebuah pukulan melayang ke pundaknya, bukan dari Ruri melainkan dari Alita.
__ADS_1
Hati Rera memanas melihat kedekatan Kagami dan Alita dari kejauhan. Walau ada Mirai di antara mereka, tetapi kedua remaja tersebut terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Awas aja lu! Kagami itu milik gue!" Rera mencekam batang pohon tempatnya bersembunyi saat ini. Sangat kuat, hingga getah di kulit pohon itu masuk ke sela kukunya.
Makanan mereka sudah habis disantap. Alita tiba-tiba merasa mules karena memakan banyak sekali makanan pedas. Gadis itu berdiri seraya memegang perut, ingin pergi ke toilet.
"Aku ingin ikut!" pinta Mirai.
Alita menyetujui, kemudian kedua remaja itu berlalu sana meninggalkan Kagami yang tengah menikmati sisa makanan dan minumannya.
Melihat mereka bergerak dari posisi, Rera kembali mengikuti. Gadis itu dan ketiga temannya terlihat seperti penjahat yang tengah mengunci targetnya.
Di dalam toilet, terdapat lima bilik di sana. Semuanya kosong, karena para murid yang tengah asyik menikmati bazar. Sepanjang perjalanan menuju toilet tadi pun sepi, hanya beberapa siswa yang Alita temui.
Rera terus mengikuti mereka, hingga kedua gadis itu masuk ke dalam toilet. Senyumnya merekah. Kemudian mengeluarkan sapu tangan yang dia bawa. Cairan yang berada di dalam botol kecil yang sedari tadi dia pegang, ditumpahkan ke sapu tangan tersebut, kemudian menyembunyikan di belakang badannya.
"Gue masuk duluan, lu bertiga tunggu di luar, setelah gue kasih aba-aba baru masuk!" perintah Rera kepada ketiga temannya.
Rera masuk ke dalam toilet, berdiri di sana menunggu Alita dan Mirai keluar dari salah satu bilik.
Keberuntungan seolah memihak kepada Rera, gadis yang dia incar ternyata lebih dulu keluar dari salah satu bilik toilet. Tatapan tajamnya langsung bertemu dengan tatapan kaget dari Alita. Gadis itu mematung sejenak, karena jarak dirinya dengan Rera yang sangat dekat, hanya satu meter.
"Apa yang kamu laku—"
Belum selesai Alita bersuara, Rera langsung membungkam mulut gadis itu dengan sapu tangan yang dia bawa. Karena terkejut, Alita tidak sempat melakukan perlawanan. Bau menyengat yang berasal dari sapu tangan tersebut seketika membuat penglihatannya bergoyang, beberapa detik kemudian pandangannya menghitam. Tubuh Alita ambruk di sana.
Mendengar suara dentuman dari luar, Mirai bergegas keluar dari salah satu bilik. Pandangan mengejutkan langsung menyapanya. Aliya terkulai tak berdaya di lantai, sementara Rera menyeringai di sana.
"Alita! Kamu ke—"
Rera langsung mencekam rahang gadis berambut pendek itu sekuat mungkin. Lalu mendorongnya hingga punggung gadis tersebut membentur dinding dengan sangat keras. Mirai meringis, merasakan nyeri di punggungnya.
"Jangan coba-coba menyelamatkannya! Atau lu mau jadi korban selanjutnya?!" tantang Rera.
Mata gadis itu berkaca-kaca, kemudian menangis. Pandangannya mengabur melihat tubuh tidak sadarkan Alita tengah digotong ketiga teman Rera.
"Jangan bawa Alita ...," rengek Mirai di sana.
Bunyi dentuman pintu yang dibanting oleh Rera menyatu dengan suara isak tangis dari Mirai. Gadis itu merangkak mendekati pintu keluar, meraih knop lalu memutarnya.
Netranya membelalak karena pintu tersebut telah kunci dari luar.
"Tolong! Buka pintunya! Jangan bawa Alita!" pekik Mirai dengan suara tersendat.
Tangan mungilnya terus mengedor pintu tersebut dari dalam, berharap ada yang mendengar suaranya. Namun, kondisi sekolah yang tengah mengadakan bazar membuat harapan Mirai sangat kecil. Para murid saat ini kebanyakan sibuk di lapangan, apakah suaranya akan terdengar oleh seseorang?
Tubuh Mirai terkulai lemas seraya menyandar di pintu toilet. Netranya terus mengucurkan air mata, selagi hatinya merutuk dirinya sendiri karena membiarkan Rera membawa Alita dari sana. Entah ke mana mereka membawa Alita. Saat ini Mirai hanya bisa berdoa, semoga keajaiban menyertai mereka.
__ADS_1
"Tolong ...! Ruri ...!"
Mirai berteriak sekuat mungkin, tangannya terus mengedor pintu dari dalam.