
Pak Danu menghela napas sebentar. Pria tersebut menatap majikan kecilnya sebentar sebelum menjelaskan.
"Empat tahun yang lalu orang tua Neng Mirai kecelakaan dan mereka tewas di tempat."
Alita, Ruri dan Kagami terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang setelah fakta lain dari Mirai baru mereka ketahui sekarang.
"Kebetulan saat kejadian itu, orang tua Neng Mirai mengendarai mobil berwarna merah menyala, persis seperti sepeda motor yang kamu tunjuk barusan," jelas Pak Danu seraya menunjuk sepeda motor Kagami sekali lagi. "Sejak kejadian itu juga, setiap melihat kendaraan berwarna merah di seluruh bodinya, Neng Mirai pasti ketakutan dan menangis. Rasa kehilangannya pada saat itu belum menghilang sampai sekarang," tutur Pak Danu panjang lebar.
Ruri tertunduk lesu setelah mendengar penjelasan Pak Danu. Gadis tersebut berjalan ke arah Mirai, kemudian mendekapnya seerat mungkin. Mirai terkejut, karena ini pertama kalinya Ruri memeluknya.
"Gue tahu apa yang lu rasain. Gue juga mengalami hal yang sedikit sama, di waktu yang sama juga. Empat tahun lalu." Ruri mengusap punggung Mirai dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Udah! Lu harus kuat. Nanti gue suruh Kagami cat ulang sepeda motornya," lanjut Ruri selagi melirik Kagami dan dibalas anggukan oleh laki-laki tersebut.
"Mengalami hal yang sama? Ruri, apa yang kamu maksudnya?" Mirai bertanya dengan suara serak.
Mata sembab gadis itu menatap Ruri tanpa berkedip sedikit pun.
Ruri menggeleng. "Suatu hari nanti, jika sudah tepat waktunya gue akan ceritain ke lu."
Jawaban Ruri membuat Mirai menatap Alita dan Kagami secara bergantian. Mereka juga menunjukkan ekspresi sedih, seperti ada hal yang mengganggu mereka selama ini.
"Yuk, kita pulang," ajak Pak Danu.
Mobil yang membawa Mirai menjauh dari sekolah. Ketiga remaja yang masih berdiri di depan gerbang terdiam satu sama lain. Sorot mata penuh ambisi Ruri tiba-tiba saja menguap, ketika mendengar cerita dari Mirai.
"Kenapa waktunya bisa sama, ya. Gue jadi pengen nangis dengarnya!" ketus Ruri seraya mengusap sudut matanya.
"Takdir itu memang lucu," lanjut Ruri lagi sambil terkekeh kecil.
***
Kejadian mengerikan empat tahun lalu yang menjadi traumanya hingga sekarang berputar di kepala Mirai. Perlahan tapi pasti, detail dari kejadian tersebut kembali teringat olehnya. Sepanjang perjalanan, air matanya terus mengalir tanpa henti hingga dia tidak sadar telah sampai ke rumah.
__ADS_1
Gadis berambut pendek itu langsung berlari menuju kamarnya. Untung aja, Rachel dan ketiga pembantu lain tidak berada di ruang tamu, membuat Mirai bisa melewati ruang tersebut tanpa takut.
Sesampainya di dalam kamar, dengan tangan gemetar gadis itu membuka sebuah buku diary miliknya yang terkunci rapat. Tangannya menyambar pena kemudian menuliskan sesuatu di sana. Mirai menumpahkan rasa sakit, gelisah hingga kebahagiaan ke buku tersebut.
***
Pagi harinya setelah selesai menghabiskan sarapan yang Mbok Yuti letakkan di kamarnya, Mirai berangkat ke sekolah dengan Pak Danu yang mengantarnya. Entah apa yang Pak Aras lakukan akhir-akhir ini, tugas menjadi sopir seolah-olah sudah berpindah tangan ke Pak Danu yang notabenenya adalah seorang tukang kebun.
Mirai tidak mau mencari tahu apa yang membuat Pak Aras tidak mengantarnya ke sekolah, nanti malah hal yang tidak-tidak dia dapatkan.
Sesampainya di sekolah, Mirai bergegas menuju kelas karena sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi. Gadis itu disambut pemandangan aneh, di mana terlihat Alita saat ini tengah mencatat sesuatu di buku tulisnya.
Tangan gadis berambut kucir kuda itu gesit mencetak kata di buku polos miliknya, tanpa menghiraukan Mirai yang tengah berdiri di depannya. Sedangkan Ruri duduk di kursi belakang, sambil membaca novel, dia terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.
Sedangkan di kursi sebelahnya, Kagami tengah termenung di sana. Mata laki-laki itu menatap pohon yang berada di luar kelas. Saking fokusnya dia juga tidak menyadari kehadiran Mirai.
"Pa–pagi, Teman-teman," sapa Mirai kikuk.
Ruri melirik gadis berambut pendek sebahu itu sebentar, "Emmm." Dia hanya berdehem sebagai jawaban.
"Dia nyontek PR, Mirai. Sudah biarkan saja," sahut Kagami tanpa mengubah posisi duduknya.
Mirai paham, lalu beranjak dari sana.
"Maaf, Mirai, aku mengabaikanmu!" Alita tiba-tiba berseru memutar duduk ke belakang, menatap Mirai di sana. "Aku lagi nyontek PR. Kamu mau join?!" tawar Alita tanpa merasa bersalah.
Ruri memukul gadis di hadapannya menggunakan novel yang dia baca. "Goblok, lu! Kalau buat dosa jangan ngajak-ngajak orang!" tegur Ruri dengan nada tegas.
"Namanya juga usaha. Siapa tahu dia mau join." Alita membela diri.
Mirai dan Kagami tertawa mendengarnya.
***
__ADS_1
Seorang guru bertubuh tinggi semampai memasuki kelas. Rambunya digerai membuat auranya terlihat semakin dewasa. Dia tidak langsung duduk di kursi guru. Melainkan tetap saja berdiri di depan kelas. Setelah suasana kelas kondusif, guru tersebut bersuara.
"Sesuai dengan janji ibu minggu kemarin. Minggu ini kita praktik bermain salah satu alat musik," kata Buk Ima, selaku guru kesenian, memecah keheningan di sana.
Kagami ekspresif mendengarnya. Laki-laki tersebut sudah tidak sabar mempelajari alat musik apa yang akan mereka mainkan hari ini.
"Sebelum itu, ibu ada tamu yang ingin diperkenalkan kepada kalian." Mata Buk Ima melirik ke arah pintu kelas. "Silakan masuk, Pak," katanya dengan sopan.
Setelah suaranya selesai, seorang pria tua masuk. Tubuhnya tinggi dengan rambut putih diselimuti uban. Dia memakai kacamata bulat berukuran kecil, membuat penampilan terlihat semakin menarik. Tidak hanya itu, sebuah alat musik yang dia bawa menjadi pusat perhatian setiap murid yang melihatnya. Apalagi Kagami, laki-laki itu menatap dengan mata berbinar dan mulut terbuka tanpa sedikit pun berkedip. Alat musik yang laki-laki itu bawa seolah menghipnotis mereka semua.
Sebuah akordeon menyangga di depan tubuhnya. Alat musik yang berasal dari Jerman itu menarik perhatian Kagami. Dia baru pertama kali ini melihat alat musik tersebut dari dekat.
"Pak, apakah itu akordeon?" Kagami langsung melayangkan sebuah pertanyaan kepada pria tua yang bahkan belum berbicara sepatah kata pun.
Pria tersebut hanya tersenyum mendengarnya.
"Sebentar, Kagami. Nanti akan ada sesi tanya jawab. Untuk sekarang, kita berkenalan dulu sama sosok yang berdiri di samping saya."
Pria tua itu meletak akordeon yang dia bawah ke atas meja guru dengan sangat hati-hati. Setelah itu, dia tersenyum lebar hingga menampakkan gigi ompongnya kepada murid kelas dua A.
Matanya melirik satu persatu murid di hadapannya, kemudian pandangannya berhenti lama melihat wajah Kagami.
"Halo semuanya, apa kabar?" sapa pria tua tersebut.
"Baik ...!" sahut seluruh murid.
"Saya Arka, panggil saja Pak Arka. Pemilik sanggar musik Arka jaya."
Perkenalan Pak Arka membuat seisi kelas bising. Mereka tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Sanggar musik Arka jaya yang sangat terkenal itu? Benaran bapak pemiliknya?" tanya salah seorang siswa.
Kemudian pertanyaan lain membanjiri Pak Arka. Pria tua tersebut hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Ruri, sanggar musik Arka jaya itu apa?" tanya Kagami pada gadis di seberangnya.
Ruri menepuk jidat. "Makanya, rajin-rajin baca berita lama!"