Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Terbangun


__ADS_3

Lama Kagami terdiam melihat Alita menangis di balik lipatan tangannya. Beberapa menit setelahnya, bahu gadis tersebut tidak lagi bergetar disertai isak tangisnya perlahan menghilang. Punggungnya turun naik secara pelan menandakan jika Alita tertidur.


Kagami tidak tahu apa yang membuat Alita menangis hingga dia terlelap di sebelahnya. Namun, saat ekor matanya menelisik lagi menatap sekeliling, Kagami pun baru menyadari bahwa dia berada di rumah sakit.


Laki-laki yang tengah terbaring lemah itu kembali perhatikan Alita, kemudian beralih menatap Mirai yang sama sedang tertidur di sebuah sofa. Infus di tangan kanannya serta ubun-ubun yang diperban, mengingatkannya pada wajah kedua preman yang datang ke kosnya. Kagami ingat, merekalah yang terakhir kali dia lihat sebelum sadar dirinya berada di rumah sakit.


'Apa yang terjadi padaku? Luka di ubun-ubun ini, mungkinkah dua preman itu penyebabnya?' Kagami bergumam sembari berpikir keras.


Dia akan mengetahui jawabannya nanti, setelah temannya bangun dari tidur dan menanyakan semuanya. Untuk sekarang Kagami sengaja membiarkan mereka beristirahat, wajah kedua temannya terlihat sangat kelelahan.


Kagami menarik napas pelan, merasakan tubuhnya yang teramat kaku dan sakit. Kelopak matanya terkulai, perlahan menutup seraya mengingat serpihan memori yang tadi dia lihat.


Gambaran seorang wanita paruh baya bertahi lalat di pipi kanan nyaris terlukis sempurna di pikirannya. Saat wanita tersebut tersenyum, matanya juga ikut tersenyum lalu tahi lalat di pipinya terangkat. Manis. Sungguh senyumannya manis dan menenangkan. Setiap mengingatnya, hati Kagami perlahan menghangat.


Lalu dia juga melihat seorang pria berjanggut tipis memegang sebuah akordeon. Di sebelah pria tersebut ada seorang anak laki-laki yang sangat menikmati saat akordeon di tangan pria itu dimainkan. permainan pria itu sangat bagus, Kagami bisa menilai dari jemarinya yang bergerak menekan setiap tuts dan mengerakkan bellow.


Jika benar sosok pria tersebut adalah ayahnya. Kemungkinan besar Kagami memiliki darah seorang musisi. Jadi soal dia bisa bermain akordeon saat praktik pelajaran seni bersama pak Arka, semuanya bukanlah kebetulan. Saat itu alam bawah sadar Kagami lah yang telah menuntunnya menekan tuts dan menggerakkan bellow akordeon yang berada di dekapan.


Gambaran lain yang Kagami ingat adalah rumah berwarna kuning. Dalamnya juga terdapat warna yang sama, tidak lupa banyaknya alat musik di sebuah ruangan menarik perhatiannya.


Gadis kecil yang melakukan panggilan video bersamanya bernama Lia. Dia memiliki suara yang sangat cempreng dan suka heboh sendiri. Namun, Kagami merasa dia adalah gadis yang baik. Sudut bibir Kagami terangkat ketika dia mengingat serpihan-serpihan kecil dari memorinya. Menyimpannya secara hati-hati agar suatu saat dia bisa melihat jelas sosok yang terlukis buram itu.


Kagami semakin bersemangat, kini tujuannya untuk mencari asal usulnya sudah mendapatkan langkah awal yang cukup bagus. Saking bahagianya, rasanya Kagami hendak berterima kasih pada dua preman yang telah memukul kepalanya. Namun itu mustahil, karena berterima kasih pada kejahatan tidaklah benar.


Puas mengingat memori kecilnya, Kagami kembali membuka mata, dan langsung menoleh ke arah Alita. Namun, dia sontak terkejut mendapati wajah Alita yang basah disertai ingus bertatapan ke arahnya. Bukankah gadis tersebut sedang tertidur barusan?


Alita mengerjap beberapa Kali. Kagami pun demikian. Mereka saling tatap seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Karena sama-sama terkejut.


"Aaa ...! Kagami udah bangun!" Alita bangkit dar duduknya dengan heboh lalu menyambar tisu untuk segera membersihkan ingusnya.

__ADS_1


Mirai yang sedang terlelap langsung terperanjat. "Apa? Maaf aku ketiduran!" Nyawanya langsung terkumpul kemudian mendekat ke arah Kagami.


"Kagami kenapa bangun? Tidak maksudku kapan kamu bangun?!" Alita masih heboh, dirinya teramat malu karena Kagami sempat melihat wajahnya ada lelehan ingus.


"Kagami kamu jangan banyak bergerak. Kamu baru selesai dioperasi," nasihat Mirai.


"Oh tidak, di mana Ruri? Ruri?! Kenapa dia tidak ada di sini?!" Alita baru menyadari jika Ruri tidak berada di sana.


Kagami dibuat bingung oleh temannya. Seharusnya dia yang banyak bertanya, tetapi kenapa mereka yang heboh dengan sendirinya.


"Apa, sih, ribut-ribut. Ini rumah sakit, jaga suaramu jangan terlalu berisik, Alita!"


Ruri masuk ke dalam ruangan tempat Kagami dirawat seraya berkacak pinggang. Dia langsung menjitak kepala Alita. Suara gadis tersebut menggema sampai ke lorong rumah sakit.


Alita mengusap bekas jitakkan Ruri. "Maaf, aku terkejut Kagami sudah bangun. Bukankah obat biusnya masih tersisa satu jam lagi? terus kamu pergi ke mana, Ruri?"


Ruri menghela napas lalu menggeleng. "Lu kebanyakan nangis sampai lupa waktu. Ini memang sudah waktunya Kagami bangun. Lu masih hidup?" cibirnya kepada Kagami.


Mirai terkekeh pelan. "Ruri pergi membeli makanan tadi, Alita." Dia menjawab pertanyaan Alita yang belum dibalas Ruri. "Jadi, Ruri, mana makanannya?" tagih Mirai, perutnya sudah teramat kosong sekarang.


Belum sempat Ruri menjelaskan, seseorang masuk sambil menenteng dua bungkusan besar di kedua tangannya. Dia tersenyum ramah.


"Maaf mengganggu. Boleh aku bergabung bersama kalian?" tanya laki-laki berjas putih itu kemudian meletakkan barang bawaannya di sebuah meja.


"Terima kasih atas bantuannya. Lu boleh pulang."


Tanpa aba-aba Ruri langsung mendorong laki-laki tersebut, memaksanya untuk keluar dari ruangan tempat mereka berada.


"Aku mau kenalan sama teman-teman kamu juga, Kacamata manis." Vikram memaksa.

__ADS_1


"Berisik! Lu pergi sana. Nanti dicarii Pak Arkais!" Ruri menutup pintu rapat-rapat setelah berhasil mendorong Vikram keluar.


Suasana hening beberapa detik tercipta di antara mereka. Ruri memerhatikan satu persatu raut wajah temannya. Tengang dan penuh tanya. Terutama Kagami dan Alita.


"Kacamata manis? dia siapa, Ruri?" tanya Alita sambil memperbaiki ikatan rambutnya.


"Setahu aku, orang yang memanggil kamu dengan sebutan itu hanya ada satu orang," celetuk Kagami.


Ruri menghempas tubuhnya ke sofa lalu menyilangkan kaki. "Berisik. Jangan banyak bicara, terutama buat orang yang baru saja selesai dioperasi." Dia mendelik menatap Kagami. "Kebetulan itu memang sangat menakutkan," lanjutnya.


Ruri menghela napas berat. "Dia Vikram, mahasiswa magang di rumah sakit ini. Secara kebetulan saat pulang dari kantin gue ketemu sama dia. Jadi, ya, karena dia tawarin bantuan jadi gue terima aja," tutur Ruri.


"Mahasiswa magang? Ternyata dia setua itu, ya," celetuk Alita seraya membuka bungkusan yang tadi laki-laki tersebut letak.


"Makanlah, kalian pasti lapar. Terutama kamu, Alita." Ruri menekan nada bicaranya.


"Apa yang terjadi?" Akhirnya Kagami memiliki kesempatan untuk bertanya.


Ruri bangkit dari duduk, menyambar salah satu minuman yang tadi dia beli. "Gue udah tahu semuanya. Tadi sebelum ke kantin gue ketemu Tirta."


Ruri menceritakan semua yang Tirta katakan kepadanya. Setelah mendengar cerita tersebut, aneh sekali tidak ada raut geram sedikit pun di wajah Kagami selaku korban. Sedangkan Alita tetap melanjutkan makannya seolah tidak mendengar apa pun. Lain lagi dengan Mirai yang tercengang hingga aktivitas makannya terhenti.


"Aku tahu ini akan terjadi. Gagas pasti tidak akan diam setelah apa yang aku lakukan padanya."


Nada bicara Kagami yang terdengar biasa saja hingga membuat Alita jengkel mendengarnya.


"Lalu, kenapa kamu masih melakukan tindakan nekat itu walau sudah tahu akibatnya? Kamu sama saja dengan menggali kuburan sendiri, Kagami," cibir Alita tak suka.


"Karena Gagas memotretku diam-diam?" tukas Alita cepat memotong bibir Kagami yang hendak bergerak.

__ADS_1


"Aku tahu semuanya," lanjut Alita lagi.


__ADS_2