Terjerat Pesona Luwina

Terjerat Pesona Luwina
Luwina kemarkas black shadow


__ADS_3

Setelah Zero mengantarkan Luwina pulang dan makan malam bersama. Pria itu memastikan jika Luwina sudah dalam keadaan baik baik saja . Dengan perasaan engan dia harus meninggalkan luwina malam ini . Tapi sayangnya wanita itu hanya menatap nya dengan menampilkan wajah imutnya .


" Aura ...ayo lah aku tidak ingin kau melihat mereka . Biar aku dan David yang mengurus mereka oke ." Bujuk Zero kepada Luwina .


" Tidak aku ikut ... aku ingin membayar hutang dari pria itu ." Jawab Luwina dengan tegas .


Melihat ketegasan yang dari ucapan Luwina zero hanya bisa menghela nafas . Dan terpaksa membawa luwina kemarkas yang berada dipinggir kota .


" Aura ... apa aku yakin ini sudah malam apa kau tidak lelah .?" Zero bertanya lagi dengan nada cemas . Dia juga tidak ingin Luwina tahu jika dia disana banyak anggota yang saling menggunakan kan.


" Eemm tentu.... aku sering ikut kak David kemarkas jadi aku rasa itu tidak jauh berbeda." Sahut Luwina sambil memakai jaket hitam . Wanita itu terlihat lebih menawan saat berpakaian seperti saat ini . Dia mengunakan celana jeans hitam dan juga kaos berwarna merah dengan jaket hitam.


Zero hanya bisa menggeleng lemah melihat penampilan Luwina yang berbeda . Dia bisa merasakan aura yang jauh lebih kuat lagi . Hampir menyamai aura milik Noela saat ini .


"Baik lah ....ayo berangkat Jackson sudah menuggu kita." Ajak Zero dengan terpaksa . Dia telah mengirim pesan kepada Zus untuk menjauhkan para wanita yang ada disana .Agar Luwina bisa bergerak dengan nyaman tanpa adanya para wanita yang akan mengganggunya . Kedua nya turun dari lantai atas dengan aura yang dingin .


" Bos ... apa yakin membawa Luwina kesana?."Jackson bertanya dengan berat hati . Dengan adanya Luwina dia pasti tidak akan bisa bermain dengan para anggota wanita disana .


" Diam lah ...jangan banyak tanya ." Jawab Zero dengan sedikit geram .Dia sudah berusaha untuk membujuk Luwina tapi gagal .

__ADS_1


" Apa yang sedang kalian berdua bisik kan ayo pergi jika kalian tidak jadi pergi aku pergi sendiri ." Seru Luwina yang sudah berada didekat mobil . Sedangkan kedua pria itu hanya bisa menghela nafas kasar .Keduanya hanya bisa berjalan menuju mobil dengan menunduk lesu .


Setelah berkendara hampir 1 jam mereka sampai disebuah bangunan tua . Ketiga nya turun dari mobil yang sudah terparkir rapi . Zero diam diam melirik kearah Luwina melihat reaksi dari wanita yang ada disampingnya .


" Aura ....apa kau merasa takut dengan ini?." Zero bertanya dengan lembut .


" Tidak ... aku sudah katakan kau sudah terbiasa dengan ini . Aku sering ikut Kakak saat berlatih ." Jawab Luwina dengan biasa saja . Tidak ada jejak takut dari mata jernih itu yang ada hanya tatapan awas .


Mendengar jawaban itu kedua pria itu hanya bisa saling pandang. Sepertinya benar bahwa luwina sudah terbiasa dengan situasi ini .


" Ya ...sudah ayo David masih ada didalam menunggu kita ." Sahut Zero dengan tegas . Tidak ada lagi jejak raut khawatir lagi dari wajah pria itu.Dengan langkah mantap ketiga melangkah kedalam menyusuri lorong yang gelap .


" Selamat datang...." Ucap mereka dengan serempak .Membuat Luwina tertegun dengan apa yang di lihatnya saat ini.Jika dari awal Zero mengatakan kan kemarkas mungkin dia akan terkejut .Dengan suasana yang saat ini dirasakan .


" Terima kasih ..." Jawab Luwina dengan sedikit canggung .


" Ayo ... jangan hirau kan mereka ." Ajak Zero pria itu menatap tajam para anggota nya hanya tersenyum canggung .


Sedangkan di tempat tahanan berada David sedang duduk menikmati drama yang dilakukan oleh ketiga tawanannya. Ketiga nya lagi lagi berdebat saling menyalahkan .

__ADS_1


" CK ... CK ... kalian ini bisa diam tidak . Telinga ku rasanya sakit mendengar suara kalian ." Seru David sambil mengorek telinga nya dengan malas .Disampingnya Zus hanya bisa tersenyum miring melihat ketiga nya .


" Tuan kami bisa memberikan apa pun asal kau mau menjelaskan kami ." Enrico berteriak dengan keras . Pria itu tidak menyerah untuk bisa melepaskan diri .


" CK ... orang ini masih saja bertekad tanpa tahu situasi ." Lirih Zus dengan geram .


" Kalian harus melepaskan kami... jika tidak Eddelwis akan menghancurkan kalian . Mereka pasti sudah tahu jika kami telah hilang . Jadi cepat lepaskan kami sebelum kalian menyesal ." Ucap Enrico dengan sarkas . David dan Zus hanya mencibir mendengar ancaman dari pria tidak tahu malu itu.


" Eddelwis .... apa hubungan mu dengan mereka .?" David bertanya dengan mencibir .


" Tentu saja ...aku mitra mereka .bagaimana apa kalian bisa melepaskan kami saat ini . Dan juga kalian bisa menikmati hidup dengan keuntungan dari mereka ." Saru Enrico dengan percaya diri . Apa lagi melihat David berminat dengan Eddelwis .


" Cih... menjengkelkan Aahh kenapa mereka lama sekali . Aku ingin sekali bermain dengan mereka saat ini." Seloroh David dengan nada bosan .Akhirnya pria itu berdiri menghampiri Margaretha yang saat ini sedang meringkuk ketakutan .


"CK .... kasihan sekali wajah cantik ini hanya menjadi ajang jual beli ." Ucap David dengan kejam sambil mengangkat dagu Margaretha .


" Bedeb4h apa yang akan kau lakukan kepadanya.?" Debora berteriak dengan keras .


" Aahh ... tidak ada . "Jawab David dengan tenang . " Lagi pula dia sudah tidak ada harganya untuk dijual ." Lanjutnya dengan menghempaskan wajah Margaretha .

__ADS_1


__ADS_2