
Rega masih menatapi benda pipihnya, dari semalam ia di sibukkan dengan telpon dari sepupu Queenza.
Dari semalam juga ia terus merasa kalau suara dari balik telpon itu, begitu familiar di telinganya, tapi dimana? Ia pun tak ingat.
Jadilah kini ia menunggu gadis yang katanya akan datang untuk menengok Za yang kini terbaring di ruangan president suite yang berada di belakangnya.
Queenza asisten sekaligus gadis yang di sukai oleh sahabatnya--Inder.
Semalam Sahabatnya itu panik dan meminta bantuannya untuk mencari Za yang tiba-tiba saja pergi dari acara makan malam bersama salah satu keluarga pengusaha terkemuka di kota ini, setelah lama mencari mereka menemukan gadis itu tengah menekuk lutut di tepi pantai.
Entah apa yang ada dipikiran gadis itu hingga membiarkan tubuhnya terguyur derasnya air hujan menyebabkannya mengalami hippotermia dan berakhir tak sadarkan diri.
Rega bisa melihat seberapa besar rasa yang Inder punya untuk gadis itu, pria itu bahkan tak henti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada gadis itu. Ahhh sahabatnya itu sudah jadi budak cinta dari gadis yang bahkan baru dikenalnya beberapa bulan.
Cukup lama ia menunggu hingga sebuah tepukan dari arah belakangnya membuatnya menoleh.
"Kamu!"
Pekikan yang keluar tak hanya dari mulutnya tapi juga dari bibir wanita di depannya.
Mereka terlalu terkejut, sekaligus tak menyangka akan di pertemukan di tempat ini.
Gadis yang beberapa hari ini membuatnya cukup penasaran kini berada tepat di depannya, pandangan mereka bertemu tapi dengan segera gadis itu melengos mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
Wajah si gadis yang menunjukan raut kesal justru membuat senyumnya sedikit terangkat. "Ngapain lo di sini?"
__ADS_1
"Aku mau jenguk saudaraku yang sakit." Ucap gadis di depannya. "Dan kau sendiri? Mengapa berada di sini?" Imbuhnya ketus.
"Saudara?" ucapnya. "Jangan bilang, kalau lo sepupunya Za!" ujarnya menerka.
Dahi gadis di depannya berkerut, "Kau temannya Ivander?" tanya gadis itu, dan ia mengangguk, membuat bola mata si gadis membulat sempurna. "Astagaaa...jadi kau yang bicara denganku di telpon?" Pekik gadis itu tak percaya.
"Jadi kau yang menelpon? Pantas saja aku tak asing dengan suara cemprengmu itu!" Cibir Rega.
"Kau bilang apa? Dasar..." Sepertinya si gadis hendak memaki tapi urung saat seorang pemuda datang diantara mereka.
"Rei... kau lama sekali?" ucap si gadis mendadak manja.
Hueekkk rasanya ia mau muntah, padahal baru saja gadis itu berdebat dengannya bak macan betina, sekarang suaranya begitu manja bak kucing betina yang kasmaran.
"Ehkemm!" Rega berdehem, sekedar memberi informasi bahwa dirinya juga ada disana.
Dan sepertinya berhasil karna gadis itu langsung mengenalkannya pada lelaki yang baru saja datang.
"Reihan."
"Rega."
Aneh bukan? Gadis itu mengenalkan mereka tapi tak mengajaknya berkenalan, benar-benar gadis aneh! Dan lebih anehnya lagi justru gadis itu berhasil membuatnya penasaran hingga diam-diam menyelidikinya.
"Kau mau ikut masuk?" tanya gadis itu pada lelakinya, ahhhh gadis itu bahkan tak berbasa-basi mengajaknya.
__ADS_1
"Aku disini saja." Jawab si pria.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya." Ucap gadis itu lembut, yang diangguki oleh lelaki di depannya.
Huh! Rega mendengkus kesal, dia itu bisa bicara begitu lembut pada lelaki itu tapi kenapa kenapa padanya selalu ketus?
Rega duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan rawat Za, ia menyalakan ponsel dan menscroll asal, untuk mengalihkan kekesalannya.
Tak lama pria bernama Reihan itu juga ikut duduk, ada dorongan yang membuatnya menoleh, menatap kearah lelaki itu.
"Kenapa aku merasa tak asing dengan wajahmu?" cetusnya, membuat pria itu menoleh padanya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Mungkin saja, saya pernah bekerja di beberapa tempat, jadi sangat mungkin kalau kita pernah bertemu." Ucap lelaki itu tenang.
Rega mengangguk mengiyakan, lagi pula ia tak ingin lagi berdebat.
"Kita juga pernah bertemu, saat kau berdebat di jalan dengan Alika." Ucap pria itu lagi.
"Jadi kau pemotor yang waktu itu, ya." ucapnya lirih, "Aku baru ingat pria ini juga yang kulihat bersama gadis itu di bioskop, ternyata mereka sedekat itu." gumamnya dalam hati.
Rega menghela napasnya sepertinya sudah saatnya ia akhiri rasa penasaran ini, ia tak maenggangu pacar orang.
"Eh tapi apa apa benar mereka pacaran?" Batin Rega.
"Huh... Kenapa juga aku harus perduli!"
__ADS_1