
Dengan perlahan, Canika duduk tepat disamping Wildan yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Canika mencium tangan Wildan, Wildan mengecup kening Canika.
Momen ini yang seharusnya menjadi momen bahagia keluarga Mohana, tapi tidak dengan kenyataannya. Pernikahan ini karna suatu kejadian, entah takdir ataupun apapun itu. Tidak ada yang tau, kecuali author nya. (Wkwk)
"Jaga anak saya, jika kamu tidak bisa menjaganya. Kembalikan kepada saya, jangan sakiti putriku satu-satunya." Ucap pak Bram dengan tegasnya. Dia menepuk pundak Wildan yang kini telah menjadi menantunya.
Wildan tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya.
Canika memeluk mama Widia. "Jaga diri kamu Baik-baik ya, sayang. Jadilah istri yang baik, jangan pernah membantah apapun perintah suamimu. Karna kini, surga mu berada di dalam dirinya." Tutur mama Widia sambil mengusap pundak putrinya.
Canika mendongakkan kepalanya. Dia menatap mama nya. "Cika pasti akan menjadi istri yang baik, maafkan Cika ya, ma. Cika tidak bisa menjadi anak yang baik." Lirih Canika.
"Sayang..." Renata mengusap wajah cantik Canika, adik iparnya. "Kami tidak kecewa padamu, mungkin ini semua sudah kehendak takdir. Terimalah dan jalanilah takdir ini. Kakak yakin kalau kamu pasti bisa menjadi istri yang diinginkan oleh Wildan." Sambung Renata.
Canika menganggukan kepalanya. Dia memeluk kakak iparnya. "Makasih ya, kak. Cika titip mama sama yang lainnya."
"Tanpa kamu titipkan, kakak akan menjaganya."
Setelah selesai berpamitan kepada keluarganya. Canika mendekat ke arah Wildan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." Pamit Wildan. Dia menyalami keluarga yang kini menjadi keluarganya juga.
Wildan mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan apapun.
Canika menatap ke arah jalan. Dalam hatinya dia takut jika nanti suaminya itu sudah memiliki pujaan hatinya.
Sampainya di sebuah apartemen yang ada di kawasan elite. Wildan langsung memarkirkan mobilnya. Dia menghentikan mobilnya.
Tatapannya tertuju kepada Canika yang tengah tertidur lemas. "Kamu wanita yang baik, dan cantik. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa mencintaimu." Batin Wildan.
Wildan keluar dari mobil dengan menggendong tubuh mungil istrinya. Sesampainya di depan pintu apartemen nya. Wildan menekankan beberapa angka password.
Klek...
Wildan masuk ke dalam dengan menggendong tubuh Canika. Dia berjalan ke arah kamarnya.
Dengan perlahan, Wildan merebahkan Canika. "Aku memang tidak bisa mencintaimu, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik." Lirih Wildan.
Setelah itu, Wildan berlanjut ke ruang kerjaannya. Hatinya menjadi sangat gelisah.
Wildan menatap ke layar ponselnya. Dia mengusap sebuah foto seseorang yang ada di pikirkan nya.
__ADS_1
"Aku pasti akan mengecewakanmu, maafkan aku." Lirih Wildan.
Waktu sudah menjelang sore, kini sudah pukul 6 sore. Dan Canika baru saja bangun dari tidurnya.
"Astaga, aku ketiduran?" Kaget Canika saat dia tersadar dari lamunannya.
Canika melirik sekelilingnya. Dalam hati dia bertanya, dimana dirinya saat ini?
"Apa ini kamar kak Wildan?" tebak Canika. Dia terbangun dari tidurnya dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya. Canika bergegas mencari keberadaan suaminya.
"Dimana kak Wildan? Apa dia pergi?" Lirih Canika.
Tatapan Canika tertuju ke arah ruang kerja yang terbuka pintunya. Dengan perlahan Canika mendekat ke arah sana.
Dia melihat sosok yang dia cari, suaminya. Ya, Wildan tengah tertidur pulas di ruangan kera nya.
Senyuman kecil terhias diwajahnya. Canika masuk ke dalam, dia mengambil selimut yang ada di rak samping meja.
"Apa kak Wildan sering tidur disini?" Canika menyelimuti suaminya. Membersihkan ruangan kerja suaminya.
__ADS_1
Malam pertama yang seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan, namun berbeda saat ini.
"Selamat tidur, kak. Maafkan aku yang sudah memperbelit ini, kamu harus terkena akibatnya juga."