
Alika keluar dari kamar dengan jantung berdebar kencang, drama resleting tadi benar-benar membuatnya harus menahan nafas. Apalagi tubuhnya juga berdesir hebat saat tangan lelaki itu menyentuh kulit punggungnya.
Entah kenapa ada rasa gugup sekaligus perasaan senang yang membuncah di hatinya, saat lelaki itu dengan begitu hati-hati membantunya.
Dengan senyuman kecil yang tak lepas dari bibirnya, ia berjalan menuju ruang tamu rumahnya dan bermaksud menunggu Rega di sana, tapi langkahnya kembali ia ayun saat terdengar pintu di ketuk.
Alika membuka pintu, seorang wanita cantik berdiri di depannya, menatapnya dengan penuh selidik. Alika mengingatnya, wanita itu adalah wanita yang bergelayut manja pada sang Bos saat sebelum akad sang sepupu tadi.
"Maaf, mau cari siapa?" tanyanya.
"Calon suamiku!" Ucap wanita itu angkuh. "Tadi aku melihatnya masuk ke rumah ini."
"Calon suami Anda? Masuk kerumah ini?" tanya Alika bingung.
"Rega Arya Prakasa, kau pasti mengenalnya, bukan?" ucap wanita itu.
Deg.
"Kau calon istri pak Rega?" tanya Alika.
"Iya! Kami berdua di jodohkan dan akan segera bertunangan." ucap wanita itu.
Dan entah kenapa itu membuat dadanya terasa seperti terhantam hingga berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Apa kau tidak akan menyuruhku masuk?" tanya perempuan itu lagi.
"Silahkan masuk." ucap Alika seraya membuka lebar pintunya.
Wanita berambut pirang itu mengamati seluruh ruangan rumah, "Bagaimana bisa Rega memilih tinggal di rumah sekecil ini, alih-alih tinggal di hotel." cetus wanita itu.
"Kandang kucing di rumahku saja bahkan lebih besar dari rumah ini" Ucapnya lagi membuat Alika sedikit meradang.
"Anda bisa tanyakan itu padanya secara langsung." ucap Alika berubah ketus.
"Tentu!" ucap wanita itu. "Dan di mana calon suamiku sekarang?"
"Mari, biar aku antar."
Baru hendak mengantar, tapi Rega sudah terlihat berjalan ke arah mereka. "Thalia, kau di sini?" tanya pria itu terlihat kaget.
Rega mencoba menepis, namun wanita itu justru semakin mengeratkan tangannya.
Dan hal itu sukses membuat Alika menghela nafasnya dengan berat. "Maaf, saya permisi duluan ke rumah Za." Ucapnya seraya melangkah pergi, ia tak perduli dengan teriakan Rega yang terus memanggil namanya, ia ingin segera menjauh dari sana dadanya terasa kian sesak melihat kemesraan sepasang insan itu.
"Ada apa denganku ini? Kenapa rasanya begitu menyesakkan melihat mereka." gumamnya pada diri sendiri.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Alika menghela napas panjang sebelum memasuki kamar sepupunya, ia menormalkan wajahnya lalu kemudian masuk menemui Za.
Acara resepsi berjalan dengan lancar, meski sederhana tapi tak mengurangi kebahagiaan kedua mempelai yang tak pernah berhenti menebar senyuman.
Alika tersenyum manis melihat senyuman tak pernah pudar dari bibir sepupunya itu, ia cukup lega akhirnya Za bisa mendapatkan kebahagiaan di hidupnya.
"Alika." Sebuah sapaan dari arah belakang membuatnya menoleh.
Sejenak ia tertegun, menatap penuh tanya pada sesosok wajah tampan yang terasa familiar di matanya.
"Masih ingat padaku? Aku Mario." ucap lelaki itu.
"Mario?" gumamnya, seraya mencoba mengingat.
"Ahhhh sepertinya kau sudah melupakanku, ya." Ucap pria itu lagi kecewa. "Mario Darmawan, si kutu buku yang pernah kau tolong saat di buly di kantin sekolah dulu." Sambungnya.
Kedua bola mata gadis berusia dua puluh satu tahun itu membola, "Kau Mario yang itu!" Pekiknya tak percaya. "Astagaa... kenapa sangat berbeda." Ucap Alika lagi.
Pria itu terkekeh, memang benar, penampilannya kini jauh berbeda dari saat jaman putih abu dulu, kini ia terlihat lebih stylish dengan wajah tampan tanpa kaca mata yang dulu selalu bertengger di dihidung mancungnya.
"Bagaimana? Kau menyukai penampilanku yang sekarang?" tanya pria itu.
Alika mengangguk. "Ya, harus ku akui kau jauh lebih tampan dengan penampilan seperti ini." Ucapnya membuat bibir pria itu melengkung sempurna. "Kau benar-benar membuatku pangling." Imbuhnya.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama, sembari mengenang masa sekolah dulu, sejenak Alika dapat melupakan kekesalannya dan tersenyum lebar pada lelaki di depannya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tak suka melihat kebersamaan mereka.