TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 92


__ADS_3

"Biarkan aku saja yang merawat Ega," ucap Imel kepada Canika, sahabatnya.


Canika menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ega biar aku yang merawatnya. Aku yang membawa dia dan harus aku juga yang merawatnya." jawab Canika dengan raut wajah serius nya.


"Tapi, bagaimana dengan Authy Happy dan Vian? apa mereka sejuta kamu membawa Ega ke mansion mereka?"


Untuk ini, Canika terdiam diri. Dia sendiri tidak tahu bagaimana nanti respon Aunty Happy dan Vian, apa mereka akan menerima kalau Canika membawa Ega ke mansion? Canika rasa tidak, karna Authy Happy sendiri melarang keras jika orang asing masuk ke dalam mansion nya.


Imel menepuk pundak Canika, dia tersenyum hangat kepada sahabatnya itu. "Sebaiknya kita beritahukan dulu kepada Vian, sepupumu itu berhak mengetahuinya." Imel menghela nafasnya sesaat. "Jangan sampai Vian mengetahuinya dari orang lain, bisa saja kamu di tuduh sebagai penc*lik 'kan?" lanjut Imel.


Canika mengangguk, dia setuju dengan membicarakan hal ini kepada sepupunya. Dia juga harus meminta bantuan kepada Vian untuk membantu Ega lepas dari paman dan bibi jahat nya itu.


"Baiklah, kalau begitu aku titip Ega." ucap Canik yang langsung berlalu dari hadapan Imel.


~


Saat tiba di mansion sepupunya. Dia menghentikan langkah kakinya sesaat melihat sepupunya yang sudah berada di hadapannya. Terlihat dia seperti akan mengintrograsi dirinya.

__ADS_1


Gluk!


"Kenapa tatapan Vian seperti itu? apa ada yang salah dengan diriku?" batin Canika.


Canika mencoba menetralkan dirinya. Dia dengan langkah yang perlahan menghampiri sepupunya. "Hehehe, Vian... sedang apa kamu di sini?" tanya Canika sambil cengegesan.


Vian tanpa ekspresi, dia memilih untuk tetap diam tanpa menjawab ucapan Canika. Dia sendiri kesal kepada sepupunya itu karna bisa-bisanya dia bertanya seperti itu. Jelas-jelas dirinya sedang menunggu kedatangannya.


"Vian?" panggil Canika.


"Masuk!"


"Kemana Aunty Happy? kenapa kondisi mansion sangat sepi?" tanya Canika sambil melihat sekeliling mansion yang terlihat sangat sepi, hatinya menjadi cemas.


"Mommy sedang berada di belakang." jawab Vian, dia menarik pergelangan tangan Canika. "Ikut denganku, ada yang mau aku bicarakan kepadamu!"


Tanpa menunggu persetujuan Canika, Vian membawa Canika pergi menuju lantai atas. Saat sudah berada di lantai atas, Vian melepaskan tangan sepupunya itu. Dia menatap lekat wajah Canika.

__ADS_1


"Ada apa Vian? kenapa kamu menarik tanganku? dan ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Canika dengan menggebu-gebu, dia mengusap pergelangan tangannya yang sakit karna tarikan dari sepupunya itu.


"Bagaimana bisa kamu menyetujui untuk membawa anak itu, hah?!"


*Deg.


"Bagaimana Vian tau*?"


"Jangan bod0h Canika! mata ku banyak, aku bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh sepupuku ini!" ucap Vian, dia menjitak jidat Canika.


"Aawss! sakit Vian!" ringis Canika sambil mengusap jidatnya. "Tapi bagaimana bisa kamu tau? tadi di taman tidak ada siapapun, dan ken--"


"Bukannya aku sudah bilang, Canika?" potong Vian dengan kesal.


Canika menggaruk tangannya yang tidak gatal, dia memutar bola matanya dengan malas. "Ya, jadi apa yang mau kamu bicarakan?"


Vian menghela nafasnya. "Bagaimana bisa kamu membawa anak orang begitu saja? ini bukan negara yang dimana kekuasaan keluargamu bisa mempengaruhi hukum, jangan membahayakan dirimu sendiri!" tegas Vian.

__ADS_1


Bukannya takut, justru Canika malah tertawa. "Hey, jangan cemas seperti itu. Apa kamu lupa kalau kak Rey it--"


"Ah, sudahlah lupakan!"


__ADS_2