
Sinar mentari yang hangat menerpa wajahnya, membuat Alika mulai terusik. Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Ia mengerjap sesaat lalu kemudian kedua bola matanya membulat saat menyadari ada orang lain di tempat tidurnya.
Pria itu! Pria yang semalaman berputar-putar di pikirannya kini berada di depan wajahnya. sangat dekat, hingga ia bisa merasakan embusan napasnya.
Dia? Bagaimana dia bisa berada di tempat tidurku? Kenapa kami bisa tidur di ranjang yang sama?
Ranjang yang sama! Kalimat yang membuat akal sehatnya kembali.
"Aaaaa... Hmppp,"
Mata gadis itu melotot kaget saat lengan besar Rega membungkamnya. pria itu ternyata sudah terbangun juga.
"Kalau kau berteriak semua orang akan datang kemari." ucap lelaki itu dengan suara parau khas bangun tidur. "Dan semua orang akan mengira kita melakukan hal yang bukan-bukan." Imbuhnya.
Alika melotot sebal pada lelaki itu. Tapi, apa yang di katakan lelaki itu benar jika ia berteriak, tak hanya orang tuanya bahkan para tetangga akan berdatangan karena teriakannya. Alika hendak melepaskan tangan besar Rega akan tetapi Rega menahannya.
"Aku akan melepaskannya asal kau berjanji tidak akan berteriak lagi." ujar pria itu lagi.
Alika mengangguk pasti, dan segera menepis tangan Rega yang membungkam mulutnya.
"Kenapa kau tidur di kasurku?" tanyanya dengan suara agak pelan, ia mulai mengintrogasi. "Apa kau sengaja mencari-cari kesempatan, hah!" Imbuhnya.
Yang di tanya malah tersenyum kecil membuatnya semakin kesal saja.
"Kenapa malah tersenyum begitu? Jawab!" desaknya kesal.
Bagaimana tidak kesal, ini bukan pertama kalinya mereka tertidur dalam satu ranjang yang sama.
"Bukankah kau yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu? Kenapa sekarang malah bertanya kenapa aku bisa ada di sini? Kau ini aneh sekali." ucap pria itu santai seraya berbalik menuju pintu kamar.
Aku? Bagaimana mungkin aku yang memintanya menemaniku? Ahhh dia pasti mengarang alasan.
"Tunggu dulu!" sergah Alika seraya menjegal jalan Rega. "Kau pasti berbohong! Bagaimana mungkin aku melakukan itu?" ucapnya tak terima.
"Kalau tak percaya ya sudah." ucap pria itu lagi. "Minggir, aku harus pergi sebelum orang tuamu melihat kita berduaan begini, atau kau ingin aku temani lebih lama di sini? Jika kau mau aku sama sekali tak keberatan." godanya dengan kedua alis yang naik turun.
"Ya, paling-paling kita akan di nikahkan paksa." imbuh pria itu, seraya mendekat perlahan pada Alika.
Alika mundur perlahan, lalu menepi membiarkan Rega berjalan melewati nya.
__ADS_1
"Oh, ya. Hari ini aku sangat ingin jalan-jalan, kau harus menemaniku seharian."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku bos mu! Dan, anggap saja hukuman untukmu karena sudah menuduhku macam-macam" ucap Rega seraya melanjutkan langkahnya membuat gadis itu semakin kesal.
Namun, sesaat kemudian lelaki itu kembali menghentikan langkah kakinya, dan menoleh padanya.
"Emhh... Alika,"
"Ya?"
"Gadis yang kemarin itu, dia bukanlah tunanganku. Kami memang di jodohkan, tapi aku menolaknya. Tak ada hubungan apapun diantara kami. " ucap pria sebelum kemudian berlalu dan menghilang di balik pintu.
Hening. Alika mematung mendengar ucapan bosnya itu. Entah ia harus bereaksi apa? Haruskah ia senang?
Di hatinya memang telah tumbuh perasaan lain pada lelaki itu. Tapi, semalam ia sudah bertekad akan mengubur dan membuang jauh perasaan yang mulai tumbuh untuk pria itu.
Namun, pengakuan sang bos barusan membuatnya seolah di beri harapan.
Suara pintu yang tertutup menyadarkan Alika dari lamunan nya. Alika menghela napas panjang. Kenapa Rega menolak wanita yang nyaris sempurna seperti Thalia? Dan, apa maksudnya mengatakan hal itu padanya? Apa pria itu tau perasaannya? Apa pria itu menolak perjodohan ini karena mempunyai perasaan yang sama dengannya? Apa pria itu sedang memberinya harapan? Itu sebabnya Rega memberinya penjelasan agar ia tak salah paham?
"Kenapa dia harus menolak gadis itu karenamu? Kau harus ingat berapa banyak gadis yang ada di sekitarnya sekarang! Dia tentu tak akan mau kehilangan kebebasan karena ikatan pertunangan, itulah alasannya menolak perjodohan itu, karena dia ingin bebas berhubungan dengan banyak wanita." batinnya mengingatkan diri sendiri.
"Ya, pasti itulah alasannya.Tapi untuk apa dia menjelaskannya padaku?"
πΊπΊπΊ
Suasana sejuk pedesaan dan angin sepoi -sepoi yang membelai wajah Alika membuat gadis itu memejamkan mata menikmati udara pagi ini, sudah sangat lama ia tak menghirup udara sebersih ini. Selepas sarapan tadi sang bos memintanya untuk menemaninya jalan-jalan, akhirnys ia memutuskan untuk mengajaknya ke tempat ini--- tempat bermainnya dengan Za semasa kecil dulu.
Angin pesawahan yang berhembus membuat rambut Alika yang terurai mulai berayun-ayun. Rega tersenyum, menatap Alika yang terlihat begitu cantik dengan rambut tergerai seperti itu.
Tak lupa ia mengabadikan apapun yang di lakukan gadis itu dengan kamera yang ia bawa, lelaki berhidung mancung itu tak mau melewatkan moment berharga ini.
"Kau, memotretku?" tanya Alika tiba-tiba.
"Siapa yang memotretmu? Aku sedang memotret keindahan alam ini." sanggah pria itu.
Padahal jelas sekali kalau tadi dia memotretku.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tidak percaya?" tanyanya lagi, ketika Alika tak melepas pandangannya.
Alika menggeleng, ia sedang tak ingin berdebat.
"Kalau kau ingin aku memotretmu, bilang saja." ujar Rega kemudian, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Siapa juga yang ingin di foto olehmu." gerutunya seraya melangkahkan kaki menjauh dari tempat mereka.
Rega tersenyum melihat reaksi Alika, entah mengapa menggoda gadis itu kini menjadi hobi barunya, mendengar gerutuannya, melihat bibirnya yang mengerucut sempurna membuatnya gemas. ingin rasanya ******* habis benda tak bertulang itu.
Rega menggelengkan kepala menepis pikiran kotornya, Alika bukan gadis seperti itu.
"Kita akan kemana lagi?" tanyanya, setelah mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.
"Terserah kau. Bukankah kau yang ingin jalan-jalan." ketusnya.
"Tapi kau adalah tuan rumah, bukankah seharusnya kau merekomendasikan tempat yang bagus untuk ku kunjungi."
"Ini perkampungan, tak ada apapun yang istimewa yang bisa ku tunjukan, di sini hanya ada pesawahan, pegunungan, dan sungai. Kau mau kemana?"
"Kemanapun, asal bersamamu." ucap lelaki itu asal, tapi berhasil membuat gadis itu menatapnya penuh tanya.
"Aku hanya bercanda, Al." ucapnya seraya tertawa. "Kau ini tak punya rasa humor sama sekali, ya." imbuhnya seraya mendahului langkah Alika.
Alika menghela napasnya, sekali lagi lelaki itu berhasil membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Bercanda katanya? Tahukah dia candaannya itu membuat hatiku hampir melayang.
Assalammualaikum π Hai... masihkah ada yang stay di sini?
Setelah tergantung selama beberapa waktu, Alhamdulillah akhirnya punya semangat lagi buat lanjutin kisah ini π
Maaf ya, karena kesibukan di rl yang cukup menyita waktu dan pikiran baru sekarang aku bisa lanjutin novel ini lagi π
Semoga kalian masih sudi membaca kisahnya mas Rega dan Alika.
Insya allah ke depannya rutin up lagi.
Terima kasih buat kalian yang masih stay π jangan lupa like dan komennya ya ππ
__ADS_1