
"Masalah? Kaulah sumber masalahku!" Hardik Alika pada lelaki di depannya. "Gara-gara kau uangku sekarang lenyap, dan sekarang kau malah membentakku!" Sambungnya.
Tangisnya kembali pecah, membuat lelaki didepannya iba dan menarik tangannya menuju mobil miliknya.
Alika tak berontak ia menurut dan masuk kemobil lelaki itu. Lelaki itu melajukan mobilnya sesaat dan menepi di tempat yang tak terlalu ramai.
"Minumlah!" ucapnya sembari menyodorkan sebotol air mineral padanya, Alika tak lantas mengambil ia justru menatap laki-laki itu.
"Heii... ini masih baru! Lihat tutupnya masih tersegel!" seru lelaki itu seolah mengerti kekhawatirannya.
Alika meneguk air itu hingga tinggal setengahnya. "Sepertinya menangis membuat tenggorokanmu kering!" Sindir lelaki itu membuatnya melayangkan tatapan tajam.
"Maaf! Aku hanya bercanda!" ucap pria itu lagi sembari memperlihatkan giginya.
Lelaki itu mulai bertanya banyak hal padanya, ia pun menjawab semuanya dengan jujur bahwa ia baru saja kehilangan uang yang tadinya akan ia pakai untuk menebus motor maticnya.
Mungkin karena iba lelaki itu bersedia memberinya waktu, membuatnya berpikir kalau ternyata lelaki itu tak seburuk yang ia duga!
🌺🌺🌺🌺🌺
Sementara Rega setelah mengantar gadis penabrak mobilnya semalam ia baru ingat tentang motor matic gadis itu.
"Semoga saja motor itu masih ada di bengkel!" Harapnya cemas.
"Lagipula bagaimana bisa aku lupa tentang motor itu? Dan kenapa pemilik bengkel juga tak menghubungiku?" keluhnya pada diri sendiri.
Rega memarkirkan mobilnya di parkiran bengkel langgananya, dan langsung disambut oleh pemilik bengkel.
"Wahhh benar-benar kejutan pagi-pagi sudah kemari, Bos! Kenapa mobilnya?" tanya pria berkepala plontos itu.
Rega menggeleng. "Gak kenapa-napa! mobil gue aman, tapi ada yang mau gue tanyain sama lo!" ucapnya seraya mendekat, pemilik bengkel itu mempersilahkannya untuk duduk.
"Mau tanya apa, Bos?"
"Soal motor, yang gue kirim sehari sebelum gue benerin mobil di sini. Gimana? Sudah beres?" tanyanya pada si pemilik bengkel.
"Motor?"
"Iya motor yang waktu itu gue suruh anak buah lo buat bawa." Tutur Rega.
__ADS_1
"Ohhh... motor yang hancur itu?" ucap pemilik bengkel itu.
"Memangnya motornya hancur banget, ya?"
"Tuh motornya!" Ucap pria itu menujuk motor matic di belakangnya. "Sepertinya sebelum kecelakaan juga udah ada yang rusak kayaknya bos!" Jawab pemilik bengkel lagi.
"tapi motornya Masih bisa diperbaiki kan?" tanyanya cemas, Bisa dibayangkan seberapa murka gadis itu kalau tau motornya tak bisa diperbaiki.
Eh? kenapa juga dia harus perduli? Bukankah itu bukan kesalahannya? Itu murni kesalahan gadis itu yang tidak hati-hati.
Tapi... mengingat gadis itu semalam membuatnya iba juga.
"Bisa sih! Tapi mungkin harus banyak yang diganti." ucap pemilik bengkel itu. membuyarkan semualamunannya. "Emangnya itu motor milik siapa, bos? pacarnya si bos? Atau calon pacar?" tanya pria itu lagi penasaran.
Rega menatap pria itu. "Kepo!" ucapnya.
membuat pemilik bengkel itu mencebik kesal.
"Yaelah si bos," cibir pria itu sebal "Saran gue bos, mending kasih yang baru aja, biar lebih cepet, pasti tuh cewek seneng bos." ucap pemilik bengkel itu lagi, Rega berpikir sebentar, sepertinya itu bukan ide yang buruk.
"Oke! Ide lo bagus juga." Ucap Rega, ia segera menelpon seseorang
🌺🌺🌺🌺
Selepas dari bengkel ia segera meluncur menuju gang tempat ia mengantar Alika kemarin, setelah sebelumnya mampir ke showroom dan memilih motor matic yang akan dibelinya untuk Alika.
Sepertinya takdir sedang berpihak padanya karena gadis yang ia cari baru saja keluar dari gang tersebut, sepertinya akan berangkat bekerja.
Rega menghentikan mobil silvernya tepat di dekat gadis itu, membuat si gadis menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Mau berangkat kerja?" tanyanya. "Aku ke sini..."
"Tak perlu mengantarku! Aku sedang buru-buru." Ucap gadis itu memangkas apapun yang ingin disampaikannya.
Rega tersenyum miring. "Kenapa kau sangat percaya diri kalau aku akan mengantarmu?" ucapnya membuat pipi si gadis memerah dan itu terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Kalau begitu minggir! aku mau cari ojek!" ucap gadis itu berubah ketus.
Rega menarik tangan gadis itu dan menyerahkan sesuatu di tangannya.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya gadis itu.
"Itu kunci motormu!" ucap Rega tersenyum manis. Dan senyumnya melebar seiring datangnya mobil box yang membawa motor pesanannya.
Dua orang pria menyerahkan motor pesanannya pada gadis itu. Rega melihat alis gadis itu menyatu.
"Ini bukan motorku!" Seru Alika.
Rega menyuruh kedua pria tadi untuk pergi. "Heii kubilang ini bukan motorku!" Pekik wanita itu lagi.
"Ini memang bukan motormu, tapi bukankah motor ini lebih bagus dari motormu." Ucapnya santai, sembari tersenyum lebar.
"Maksudmu?"
"Aku sengaja membelikanmu motor baru agar kau lebih nyaman menggunakannya." Ucap Rega lagi, "Sebentar lagi pasti dia akan memelukku sambil mengucapkan terima kasih!" batinnya.
Namun, alih-alih mendapat pelukan gadis itu justru menatapnya tajam. "Lalu motorku kau kemanakan?" tanya gadis itu lagi.
Rega mengangkat bahunya. "Di buang, mungkin."
"Di buang?" pekik Alika, membuatnya berkerut heran.
"Kau tau betapa berharganya motor itu bagiku? Kau tau betapa susahnya aku mendapatkan motor itu? Apa kau tau, Hah?" hardik gadis itu.
Rega mengerutkan keningnya. "bukankah seharusnya dia senang dibelikan motor baru? Kenapa dia malah marah?" pikirnya.
"Dengarkan aku nona? Motormu itu sudah banyak kerusakan sebelum kecelakaan itu terjadi, dan kecelakaan kemarin memperparah kerusakannnya, itu sebabnya aku membelikanmu motor baru." Tutur Rega menjelaskan.
"Lagipula apa istimewanya motor bututmu itu?" ucap pria itu membuat emosi wanita di depannya benar-benar meledak.
"Motor yang kau bilang butut itu adalah barang pertama hasil jerih payahku, dan seenaknya saja kau membuangnya." Bentak Alika.
"Orang kaya sepertimu memang tak akan pernah mengerti tentang menghargai sesuatu, Ini ambil kembali motormu aku tidak membutuhkannya!" ucapnya lagi seraya mengembalikan kunci motor yang di berikan lelaki itu tadi.
Rega mengejar gadis itu berniat untuk meminta maaf, tapi gadis itu tak menanggapinya hingga sebuah motor berhenti di depan mereka dan menawari gadis itu tumpangan, sepertinya mereka sudah saling mengenal.
Rega menggeram kesal saat Alika justru lebih memilih untuk pergi bersama pemotor itu, sepertinya gadis itu benar-benar marah padanya.
"Maaf kami pergi dulu." Ucap pemuda itu, dan berlalu dari hadapannya membuatnya kesal.
__ADS_1
"Sial! Siapa lelaki itu?" geramnya.