
Resepsi pernikahan Za dan Inder berjalan dengan lancar sesuai yang di harapkan semua orang.
Pesta dengan dekorasi megah itu bahkan menjadi tranding topic di nusantara. Alika menatap kebahagiaan sepupunya dengan penuh haru, akhirnya setelah banyaknya cobaan yg mendera, Za bisa mendapatkan kebahagiaan.
"Semua orang sedang bahagia, kau malah menangis di sini. " sapaan dari suara tak asing itu membuatnya segera menyeka air matanya, ia menoleh mendapati pria berlesung pipit itu tengah menatapnya dengan senyuman.
"Aku menangis karena bahagia, apa kau tidak bisa membedakannya?" ucapnya.
Pria itu kembali tersenyum menampilkan lesung pipinya yang menawan. "Lama tak bertemu, Al. Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. " jawab Alika.
"Mau jalan-jalan?"
"Hah?"
"Aku tau tempat bagus di hotel ini, dari tadi ku perhatikan kau tetlihat tak nyaman di sini. "
Alika diam sejenak, tak d pungkiri ia memang merasa tak nyaman berada di tengah-tengah orang-orang kalangan atas seperti ini. ia merasa terasing.
"Ayo." ajak Reihan seraya menggandeng tangannya.
πΊπΊπΊπΊ
Reihan mengajaknya ke belakang hotel, ada taman kecil di sana, cukup nyaman untuk mengistirahatkan kakinya yang mulai terasa pegal.
mereka duduk di sebuah kursi yang memang disediakan di sana.
"Maafkan aku," ucap Reihan memulai pembicaraan membuat wanita itu menoleh padanya.
"Maafkan aku untuk semua yang terjadi diantara kita." imbuhnya lagi penuh penyesalan.
__ADS_1
"Kau sudah minta maaf saat itu, lagipula semuanya sudah berlalu, untuk apa terus membahasnya." ucap Alika.
"Karena, sepertinya kau belum memaafkanku." ucap Reihan. "Kau selalu menghindariku." imbuhnya kemudian.
Alika terdiam, tak di pungkiri selama ini sebisa mungkin dia memang menghindari untuk bertemu dengan Reihan. Ada rasa malu dan marah yang bercampur di benaknya setiap kali bertemu pria itu, membuatnya selalu berusaha menghindar.
"Maukah kau memaafkanku, Al? Bisakah kita mengulang semuanya dari awal lagi?"
Pertanyaan dari Rehan membuatnya menatap pria itu, "Mengulang dari awal?" tanyanya tak mengerti.
"Aku ingin kita dekat lagi seperti dulu, aku ingin kita berteman lagi, dan bahkan aku ingin lebih dari itu."
Apa ini? Apa Reihan sedang menyatakan perasaannya padaku?
Sesaat mereka saling menatap dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga suara dari arah belakang membuyarkan lamunan mereka.
"Di sini kau rupanya!"
"Apa kau tidak lihat? Kami belum selesai bicara." geram Reihan yang merasa tidak senang dengan perlakuan pria berhidung mancung itu.
Rega menatap pria itu tak acuh, "Benarkah? Maafkan aku Tuan asisten, tapi kalian bisa bicara lagi nanti setelah acara ini selesai. Za sedang menunggunya sekarang." Pria dengan berparas rupawan itu mengalihkan perhatiannya pada gadis di sampingnya.
"Ayo, Al! Za sudah menunggumu." ucapnya.
Reihan menatap gadis di depannya. "Bolehkah aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sebelum kau pergi, Al?" tanya Reihan penuh harap.
"Aku sudah memaafkanmu, Rei." ucap Alika. "Kita bisa berteman lagi seperti dulu."
Reihan mendengkus, bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan.
"Kau sudah mendapatkan jawabanmu, bukan? Izinkan kami pergi sekarang, Tuan asisten. " ucap Rega seraya menarik tangan Alika agar mengikutinya.
__ADS_1
Reihan ingin menghentikan mereka, tapi sebuah notifikasi pesan dari sang Tuan muda membuatnya harus menahan diri.
π©--- Kau dimana, Rei? Aku melihat gadis itu keluar dengan tergesa-gesa, dan perasaanku mengatakan aku harus mengikutinya. Temui aku di parkiran hotel sekarang!
Reihan menghela napasnya dalam, tugasnya mendampingi sang tuan muda belum selesai, untuk saat ini ia harus mengesampingkan kepentingan pribadinya dulu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Suara hingar bingar pesta resepsi masih riuh terdengar, Alika mengikuti langkah pria di depannya.
Dahinya mengernyit heran saat pria itu justru membawanya keruangan lain di hotel ini.
"Kenapa kita kesini?" tanyanya saat pria itu membawanya ke sebuah ruangan vip hotel ini.
"Kau merasa lelah kan? Kakimu pasti terasa pegal." ucap pria itu.
Pria itu menuntunnya dan mendudukannya di sofa yang berada di ruangan itu, membuatnya makin penasaran. Ada apa dengan pria ini?
"Aku tidak apa-apa." ucap Alika. Ia lekas berdiri, "Ayo! Bukankah Za sedang menungguku?" ajaknya.
Rega terkekeh kecil, "Sebenarnya... tidak juga," ucap pria itu seraya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Mereka masih sibuk menyalami tamu undangan."
"Maksudmu?"
"Aku hanya membuat alasan agar kau mau pergi bersamaku. " katanya.
"Hah?"
"Kalau tidak berbohong seperti tadi, kau pasti tidak akan mau pergi dari sana." ucap lelaki itu lagi membuatnya semakin kebingungan.
"Tapi, kenapa?" tanyanya kemudian. "Kenapa kau ingin aku pergi dari sana?"
__ADS_1
"Karena... aku tak suka melihatmu bersama pria itu! Aku tak suka melihatmu dekat dengan pria lain, apa kau sudah paham?"