
Beberapa hari tinggal di kampung ini benar-benar terasa menyenangkan bagi Rega, apalagi kedua orang tua Alika memperlakukannya dengan sangat baik.
Dari mereka ia bisa melihat kasih sayang tulus orang tua pada anaknya, tak seperti dirinya yang hanya akan di anggap ada ketika di butuhkan saja.
Kedekatannya dengan Alika juga mengalami kemajuan yang cukup menyenangkan, berhari-hari tinggal dalam satu atap membuat hubungan mereka jauh lebih baik. Rega kini juga punya panggilan lain untuk sekedar menggoda gadis itu, 'Eneng' panggilan kesayangan kedua orang tua Alika, tapi akan menjadi ejekan yang akan berujung pertengkaran kecil jika Rega yang memanggilnya dengan nama itu.
"Eneng, tolong bikinin aku kopi dong!" pinta Rega di pagi ini.
Alika menatap tak suka pada bosnya itu, dari kemarin tiba-tiba saja sang bos memanggilnya dengan sebutan itu.
"Bisa berhenti memanggilku dengan sebutan itu?" protesnya. "Itu terdengar seperti kamu sedang mengataiku." Imbuhnya.
Rega menatap gadis itu dengan kening berkerut. " Kenapa? Bukankah itu panggilan kesayangan dari orang tuamu? Apa aku tak boleh memanggilmu dengan nama itu juga?" tanyanya.
Sejak semalam ia sudah mencari tau tentang arti kata itu, Eneng' adalah panggilan untuk anak gadis dari kasta menengah ke atas, bisa diartikan juga sebagai panggilan kesayangan dari orang tua untuk anak gadisnya, hingga ia pun ingin memanggil nya dengan sebutan itu. Tapi, kenapa sekarang Alika malah bilang dia seperti merasa di katai? Apa ada yang salah?
"Bukan tak boleh, tapi... "
"Apa?"
"Caramu melafalkannya membuat kata itu jadi memiliki arti yang berbeda!" ucap gadis itu.
Kening Rega semakin berkerut, kedua alisnya bahkan hampir menyatu, menandakan kerasnya ia berpikir.
__ADS_1
"Ck! Kau tau, dalam bahasa sunda salah pelafalan berbeda pula artinya." tuturnya menjelaskan.
Alika menghela napasnya lagi saat pria itu menatapnya curiga. "Neng, dan Eneng itu adalah dua kata yang artinya sangat jauh berbeda." imbuhnya.
"Maksudnya?"
"Neng memang adalah sebutan untuk memanggil anak perempuan, tapi Eneng itu beda, Eneng artinya anak kerbau jadi jika kau terus memanggilku seperti itu, sama saja mengataiku sebagai anak kerbau." ucap gadis itu seraya mengerucutkan bibirnya.
Rega mencoba mencerna penjelasan dari gadis di depannya, lalu tertawa setelah menyadari kekeliruannya.
"Sekarang sudah mengerti, kan."
Rega mengangguk.
"Ini Kopimu, dan berhenti memangilku dengan sebutan seperti itu." ucap gadis itu seraya memberikan secangkir kopi padanya.
"Rega!!" teriak Alika. "Ishhh dia benar-benar menyebalkan!"
🌺🌺🌺🌺
Hari-hari menyenangkan itu kini harus berakhir, Pagi ini Rega dan Alika harus kembali ke kota. Esok acara resepsi Za dan Inder akan di adakan di Ibukota, jadi mereka harus ikut kembali sore ini bersama pasangan pengantin baru itu agar bisa ikut menghadiri pesta tersebut.
"Neng pamit, ya, Bu." ucap Alika seraya mencium tangan ibunya.
__ADS_1
"Cepat-cepat pulang, tengokin ibu sama bapak lagi ya, Neng." ucap sang ibu seraya memeluk putri satu-satunya itu.
"Kalau bisa mah kamu teh balik lagi kesini kalau acara pestanya neng Za sudah selesai, ikut saja pulang sama Bibi kamu tidak usah tinggal lagi di sana." sambung ibu dengan deraian air mata.
Alika menghela napasnya berat, selalu begini setiap kali ia akan kembali ke jakarta setelah menengok orang tuanya. Pasti akan penuh dengan drama dan tangisan sang ibu yang tak rela melepasnya untuk kembali.
"Neng, kan harus kerja, Bu." ucapnya.
"Sudah atuh, Bu. Kasihan si Neng, masa tiap mau pergi kerja di tangisin terus, seperti mau pergi perang saja." tegur bapak.
"Iya, Bu. Sudah jangan nangis terus."
Ibu mengangguk pelan, tangisannya sudah mereda, "Kamu jaga diri ya, Neng. Jangan lupa makan, sholatnya juga di jaga, jangan terlalu capek juga, nanti kalau kamu sakit siapa yang mau rawat di sana."
"Iya, Bu."
Rega menatap interaksi anak dan ibu itu dengan senyum pahit, seandainya ibunya juga seperti itu.
Drama perpisahan itu di akhiri salam perpisahan dan ucapan hati-hati di jalan. Alika menatap kebelakang mobil yang ia tumpangi, ibu dan ayahnya masih saja di halaman, menatap kepergiannya seraya melambaikan tangan.
"Kau sangat beruntung punya orang tua yang sangat menyayangimu." ujar Rega.
Alika mengalihkan perhatiannya, "Ya, aku memang merasa sangat beruntung, mereka sangat menyayangiku, meski terkadang mereka sangat berlebihan. Tapi semua orang memang seperti itu kan?"
__ADS_1
"Tidak juga," pangkas Rega. "Kau tau, ada beberapa anak yang kadang harus berulah hanya demi mendapatkan perhatian dari orang tuanya, tapi tetap saja orang tuanya lebih memilih tenggelam dalam kesibukan mereka." ucapnya lagi.
"Kau harus bersyukur punya orang tua yang sangat perhatian dan menyayangimu." imbuhnya yang mendapat anggukan dari Alika.