
Wildan perlahan melepaskan tangan Canika. Air matanya mengalir begitu saja setelah mendengar kata Pengadilan dari mulut Canika.
"Kenapa, tidak ada kesempatan kedua untukku?" lirih Wildan, dia mendongakkan kepalanya menatap ke arah Canika.
Bukannya menjawab, justru Canika malah mengambil daun yang berada di bawahnya. "Kamu lihat ini," Canika memperlihatkan daun itu kepada Wildan.
Canika meremas daun itu sehingga membuat daun itu menjadi hancur. "Lihat, apa bentuk nya sama seperti sebelumnya?"
"Ini gambaran hatiku, kak. Setelah apa yang kamu lakukan kepadaku, dan membuat anakku pergi. Hatiku menjadi sangat hancur, kamu telah berhasil menghancurkan harapanku." Lanjut Canika sambil membuang. daun itu. Setelah mengatakan itu, Canika pergi dari hadapan Wildan. Dia masuk ke dalam mobil, Canika melirik sekilas ke arah belakang.
Melihat mobil yang ditumpangi Canika mulai hilang dari pandangannya. Wildan terduduk lemas sambil memegangi lutut nya. Perkataan Canika tadi sungguh menggema di telinganya.
"Aku memang bodoh! aku bodoh!" Lirih Wildan. Dia memukvl kepalanya sendiri.
Sedangkan itu, Canika yang kini sedang di dalam perjalanan. Dia tidak mengatakan apapun kepada mama maupun kakak iparnya. Dia hanya terdiam sambil menatap ke arah jalanan.
__ADS_1
"Apa ini mimpi, kak? jika memang ini mimpi, aku tidak ingin tertidur lagi."
Renata menoleh ke arah Canika. Dia menggenggam tangan Canika. "Ini bukan mimpi, sayang." Renata menangkup wajah Cantik Canika. "Semua yang menyakitimu, semua yang membuatmu sakit hati. Ambil hikmah nya, sayang. Terkadang, skenario yang kita buat, tidak bisa melawan skenario yang Allah buat. Kuatkan hatimu, semuanya sudah kehendak takdir Allah." Tutur Renata sambil mengusap punggung adik iparnya itu.
Mendengar tutur kata kakak iparnya. Canika memejamkan matanya sambil meneteskan air mata nya. Dia bisa saja kembali kepada Wildan, tapi? hatinya sudah terlalu hancur untuk di perbaiki.
Dia akan berusaha untuk ihklas untuk menerima kenyataan ini. Pernikahan yang baru dia bangun, harus hancur dengan seperti ini.
Sesampainya di mansion utama. Ke-tiga wanita cantik itu langsung di sambut dengan teriakan dari baby twins.
Seolah mengerti perasaan aunty nya. Devans si bungsu justru merengek ingin di gendong oleh Canika.
"Uti... uti..."
"Astaga, apa tadi?" Canika menatap terkejut saat Devans memanggilnya uti.
__ADS_1
Renata tersenyum melihat itu. "Devans memanggilmu, uti sama dengan aunty."
"Uti... uti..." baby Devans mengulangi perkataannya yang memanggil Canika dengan sebutan uti (aunty)
Canika mengecup pipi gembul Devans. Dia memeluk keponakannya itu. "Kenapa aku baru mengetahui kalau keponakan gemul ku ini sudah bisa memanggilku?" Canika membawa tubuh Devans ke dan membawa nya masuk ke dalam mansion.
Di sana, Canika bergabung bersama suster yang tengah menjaga baby twins. Untuk sesaat, pikiran dan hati Canika terobati dengan tingkat lucu baby twins.
Renata merangkul mama mertuanya itu. "Jangan terus menangis dan merasa bersalah, mah. Canika wanita yang kuat. Lihatlah, senyuman Canika telah menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja."
Mama Widia menganggukkan kepalanya. Benar kata menantunya itu. Canika adalah wanita yang kuat, dia kuat menerima semua cobaan hidupnya. Tidak pernah terbayangkan oleh mama Widia kalau putri nya akan tersenyum lagi.
"Kamu anak yang kuat, nak. Mama bangga kepadamu, semoga suatu saat... kamu akan menerima kebahagiaan yang luar biasa."
...----------------...
__ADS_1
Hallo, semuanya. Yuk mampir ke sini: