
(Ini alurnya mundur ya guys, kita bahas kehidupan Rega dari kecil😊)
(Happy reading)
Namanya Rega Arya Prakasa, manager artis sekaligus direktur hotel bintang lima di ibukota.
Ia anak tunggal dari seorang pengusaha property, kekayaan orang tuanya tak akan habis walau ia hamburkan setiap hari, tapi Rega justru memilih bekerja pada orang lain, ia lebih memilih menjadi Manager artis alih-alih memimpin perusahaan orang tuanya, kenapa?
Jawabnya hanya satu karena dengan bekerja sebagai manager ia tak hanya mendapatkan uang, tapi juga keluarga.
Semua berawal di sebuah pesta teman sang Mama, Rega yang memang tak pandai berteman memilih duduk sambil menikmati camilan, ia malas untuk ikut bermain bersama teman sebayanya lebih memilih memainkan game terbaru di ponsel kesayangan yang baru dibelikan sang Mama sebagai imbalan supaya ia mau ikut kepesta ini.
Rega Arya Prakasa. Selama ini hidupnya selalu bergelimang kemewahan, apapun yang ia minta akan ia dapatkan, hanya satu yang tak pernah bisa diberikan orang tuanya, yaitu waktu untuk bisa bersamanya.
Rega tumbuh menjadi anak yang arogan, ia enggan bermain dengan orang lain, terbiasa sendiri membuatnya egois.
Saat semua anak bermain berkejaran dengan teman sebayanya, ia justru asyik dengan dunianya sendiri, tak ada satu anak pun yang berani mengajaknya, karena ia pun tak pernah memasang wajah ramah pada teman-teman sebayanya.
Sampai seorang anak laki-laki berlari menghampirinya, dan duduk bersembunyi di belakangnya. Ia hendak beranjak karena merasa terganggu dengan kehadiran anak itu, tapi urung saat anak itu menarik ujung kemejanya.
"Jangan pergi, tetaplah duduk disini atau mereka akan menemukanku lagi." Ucap anak itu pelan.
Kening Rega mengkerut, ia menoleh pada anak itu."Kenapa aku harus menolongmu?"
"Karena kau adalah temanku." Ucap anak itu.
"Siapa yang mau jadi temanmu, percaya diri sekali, kita saja tak saling mengenal."
"Kalau begitu ayo berkenalan, Namaku Ivander, dan mulai saat ini kau jadi temanku, jadi bantu aku bersembunyi dari mereka."
"Mereka? mereka siapa?"
"Bunda dan kakakku! Mereka akan menyuruhku makan, aku sedang malas makan."
Dan benar saja tak berapa lama seorang ibu muda datang menghampirinya, wanita itu tersenyum hangat pada Rega sembari membawa sepiring makanan. "Apa kau melihat anak lelaki berlari kemari, Nak?" tanya wanita itu.
Rega merasakan ujung kemejanya di tarik, membuatnya menoleh kebawah kursi.
Wanita di depannya tersenyum, "Inder sampai kapan kau akan bersembunyi di sana, Nak?"
Inder keluar dari persembunyiannya dengan bibir mengerucut. "Aku tidak mau makan, Bunda. Makanannya gak enak!" keluhnya.
__ADS_1
"Kamu belum mencobanya, sayang! Darimana tau gak enak?" tanya wanita itu, wanita yang dipanggil Bunda itu mengalihkan perhatiannya pada Rega, dan menyodorkan sesendok nasi dengan lauk sayur itu padanya.
"Buka mulutnya, Kak. Biar kita tunjukan pada Inder, kalau makanan ini sangat enak." Ucap Bunda dan entah kenapa Rega menurut, padahal biasanya ia tak suka di perintah.
"Tuh lihat kan? Kakak juga makan, Enak kan Kak?" tanya Bunda, dan ia mengangguk.
Pada akhirnya Inder mau memakan makanannya, Bunda menyuapi mereka berdua hingga makanan itu habis tak bersisa.
Ada rasa aneh yang hadir di hati Rega saat Bunda menyuapinya, ada rasa bahagia hingga ia bisa tersenyum.
Setelah makan selesai Bunda menemani mereka, bertanya banyak hal padanya dan dari sanalah ia tahu kalau Bunda adalah teman Ibunya yang kini entah kemana.
Sejak masuk ke pesta ini ibunya itu begitu sibuk melebihi si empunya pesta sendiri, wanita itu bahkan tak punya waktu untuk sekedar mencarinya, atau memastikan keadaannya baik-baik saja. Ibunya sibuk bersama teman-teman sosialitanya, berbeda dengan Bunda Inder yang kini memilih menemani mereka.
Tak terasa pesta telah usai, dan semua orang mulai berpamitan untuk pulang, Inder bahkan sudah terlelap di pangkuan Bundanya dari tadi, tapi Bunda memilih menemaninya sampai Mamanya datang dan mengajaknya pulang.
🌺🌺🌺🌺
Rega merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia belum bisa terlelap meski hari sudah larut malam. Untuk pertama kalinya ia mulai berpikir tentang hidupnya. Kenapa Ibunya begitu acuh padanya? Kenapa Ibunya tak bisa seperhatian Bundanya Ivander? Kenapa dan Kenapa.
Bagiku banyak pertanyaan muncul diotaknya.
Selama hampir sepuluh tahun ia lebih sering tinggal bersama para pelayannya, setiap ada acara sekolah hanya Bi Asih, pengasuhnya sejak bayi yang selalu mewakili. Mama dan Papanya terlalu sibuk untuk urusan sepele seperti itu.
Perhatian yang diberikan Bunda pada Inder membuatnya iri, ia ingin diperhatikan seperti itu juga oleh sang Mama.
Hari berikutnya ia mencoba merengek, ia meminta Mamanya membatalkan acara arisannya di bali, tapi alih-alih dituruti Mamanya justru mengabaikan dan menjauhkan akan membawa banyak oleh-oleh dari sana sepulangnya nanti.
Rega berhenti merengek, orang tuanya memang tak akan bisa seperti Bunda Inder.
Rega kembali pada kehidupannya, meski kini ada yang berbeda, Inder beberapa kali datang berkunjung ke rumahnya, ingin bermain bersamanya.
Awalnya ia merasa risih, ia terbiasa sendirian, tapi lama kelamaan kehadiran Bunda dan Inder memberi warna tersendiri dalam kehidupannya, sekarang ada yang selalu memasakkan makan siang untuknya, menemaninya mengerjakan PR, ada tempat untuknya mengeluh, dan ada yang mengajarinya mana yang salah dan mana yang benar.
Pertemanannya dengan Inder memberi dampak yang positif baginya, kini sepulang sekolah rumah keluarga prasetya lah tujuannya untuk pulang, karena di sana ia merasakan arti keluarga yang sebenarnya.
Rega hanya pulang kerumahnya saat orangtuanya pulang saja, selebihnya ia tinggal bersama keluarga prasetya setelah mendapat izin dari orangtuanya. Bunda dan Ayah bahkan menyiapkan kamar khusus untuknya yang sama persis dengan Kamar Inder, ia tak pernah dibedakan, mereka bahkan menyuruh Rega memanggil mereka Ayah dan Bunda sama seperti panggilan anak-anaknya.
Rega tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, tak ada lagi Rega si anak arogan dan egois, kedekatannya dengan keluarga prasetya benar-benar merubahnya menjadi lebih baik. Dan para pelayan di rumahnya yang paling merasakan perubahan itu, tak ada lagi yang membentak mereka saat mereka melakukan kesalahan, tak ada lagi lemparan barang saat sang Tuan muda ada dalam kemarahan.
Tinggal bersama membuat Rega, Inder dan Ivana sangat dekat layaknya saudara. Tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama, terutama Rega dan Ivana, karena sejak Remaja Inder sudah sibuk dengan syuting.
__ADS_1
Pria itu sangat menggilai dunia seni peran sejak masih kanak-kanak dengan bakatnya yang menonjol tak sulit untuknya mendapatkan peran utama dalam sebuah sinetron ataupun film.
Menginjak usia remaja kedekatan Rega dan Ivana semakin intens tak jarang mereka menghabiskan malam minggu berdua karena keduanya masih sama-sama jomblo, dan tak jarang juga Ivana memintanya menemaninya ke pesta-pesta teman-temannya.
Hingga ada rasa lain di hatinya untuk wanita itu, dan malam ini ia akan menyatakan perasaan yang sudah lama ia pendam.
Rega sudah memakai pakaian terbaiknya, pemuda berusia tujuh belas tahun itu sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk gadis yang sudah ia kenal selama hampir delapan tahun belakangan ini.
Rega melangkah menuruni anak tangga, rumah dalam keadaan sepi Ayah sedang keluar kota sementara Bunda menemani Inder syuting.
"Wahh mas Rega udah rapi, mau ngapelin pacarnya ya mas?" Seru Bi irah.
"Ganteng gak Bi?"
"Ganteng dong Mas! Wong bangun tidur saja mas udah ganteng kok, apalagi sudah rapi begini, tambah ganteng." Ucap Bi irah lagi membuatnya semakin percaya diri.
"Bibi lihat Vana, gak?" tanyanya.
"Non Vana, ada di halaman belakang Mas. sedang bersama tamunya." Ucap Bi irah.
"Tamu? Vana sedang ada tamu?"
Bi irah mengangguk. "Iya Mas! dari tadi sore malah." Ucap Bi irah lagi.
Ucapan Bi irah membuatnya penasaran, ia melangkah menuju halaman belakang rumah keluarga prasetya dan mendapati Ivana tengah bersandar pada seorang pria.
Rega mematung, cinta pertamanya harus pupus bahkan sebelum diungkapkan. Ia masih berdiri di sana menyaksikan kemesraan dua insan yang sedang dimabuk asmara, hingga tanpa sengaja Ivana menyadari keberadaannya.
Sempat kaget tapi gadis itu segera menguasai diri dan menghampiri Rega. "Kau di rumah? Kupikir kau pergi juga." Ucap Ivana sedikit kikuk.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Rega sedikit sinis, gadis itu menggigit bibir bawahnya gugup. "Dia... Razka! Teman komunitasku, dan juga..." Jawab Ivana
"Pacarmu?" Pangkas Rega. Gadis itu mengangguk.
Ivana menggenggam tangan Rega. "Ga! Jangan dulu bilang ke ayah dan Bunda kalau aku sudah punya pacar!" Ucap Ivana dengan wajah memohon.
"Kau tahu aku tak bisa berbohong pada mereka!" Ucapnya tegas.
"Hanya sebentar saja, Ga! Sampai aku lulus SMA setelah itu aku sendiri yang akan mengenalkannya pada mereka." Ucapnya lagi. "Please Ga! Cuman sampai kita lulus SMA, hanya beberapa bulan lagi." Imbuh Ivana dengan wajah melasnya.
Rega menghela napasnya. "Hemhh, Baiklah!" Ucapnya.
__ADS_1
Ivana memeluk lelaki itu. "Kau memang saudara laki-laki terbaikku!" Ucapnya.
Ada sedikit sesak saat mendengar kata saudara, ya ia harus sadar diri Ivana hanya menganggapnya saudara dan cinta pertamanya harus layu bahkan sebelum mekar.