
Pertemuan terakhirnya bersama Alika membuatnya cukup penasaran dengan gadis itu, dan kesinilah rasa penasaran itu membawanya. Restoran tempat Alika bekerja.
Rega duduk dan memesan makanan. Dia memperhatikan wanita itu dari kejauhan, gadis itu memang berbeda dengan gadis-gadis yang ia kenal selama ini.
Rega tersenyum kala melihat bagaimana ramahnya gadis itu menyambut pengunjung restoran.
"Dia manis kalau tersenyum begitu." Batinnya.
Rega mengambil beberapa foto gadis itu saat beraktivitas di resto, gadis itu sangat pokus bekerja hingga sama sekali tak menyadari keberadaannya.
Sebuah pelukan dari arah belakang mengalihkan perhatiannya, Rega menoleh dan mendapati seorang gadis cantik yang langsung mengecup pipinya mesra.
"Kok gak bilang-bilang mau kesini?" tanya gadis bernama Diana itu.
Ahhhh bagaimana dia bisa lupa kalau anak pemilik resto ini adalah salah satu wanitanya.
"Kan mau bikin kejutan buat kamu, Sayang!" ucapnya berbohong.
"Uhhh Soo sweet banget sih pacarku ini, jadi makin cinta deh." ucap Diana.
Rega tersenyum manis, senyum yang selalu mampu membuat semua gadis bertekuk lutut padanya.
"Harus dong!"
"Tadi aku lihat ada film baru, kata temenku filmnya bagus dan romantis banget, kita nonton yu!" Ajak gadis di depannya.
Belum ia menjawab sebuah notifikasi pesan di ponselnya membuat matanya terbelalak.
π - Sayang... jadi kan kita nonton sore ini?
Pesan yang baru saja dikirim oleh pacarnya yang lain. "Alamak! Kenapa ia melupakan banyak hal hari ini, hanya gara-gara penasaran?"
"Sayang, gimana? Bisakan kita nonton bareng?" tanya gadis di depannya, membuatnya sedikit terkejut.
Rega menggeleng, "Sepertinya tidak bisa sayang." Jawabnya membuat gadis itu cemberut.
"Jangan marah sayang, nanti cantiknya hilang lho," Rayunya. "Aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Inder sore ini, gimana kalau besok saja? Sambil kita belanja, aku akan belikan apapun yang kamu mau." Bujuknya lagi, dan itu berhasil membuat gadis di depannya menatapnya dengan mata berbinar.
"Apapun?"
Rega mengangguk." Apapun." Ucapnya. "Tapi aku harus pergi dulu sekarang, ya."
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, "Iya pergilah, hati-hati di jalan ya."
Rega beranjak dari duduknya, ia berniat untuk memanggil pelayan dan membayar makanannya tapi gadis di depannya melarangnya.
"Gak usah, lagipula kamu kan pacarku, dan ini restoran papaku jadi gak usah bayar" Ucap gadis itu.
"Uhhh baik banget sih pacarku yang satu ini, makasih ya sayang." ucapnya sembari mengecup pipi gadis itu.
"Sama-sama sayang."
"Kalau gitu aku pergi dulu ya."
"Hati-hati ya, Sayang."
Rega melangkah meninggalkan restoran itu!, matanya sempat mencari keberadaan gadis yang menjadi alasan sebenarnya dia kemari, tapi nihil! Ia sudah tak menemukannya bahkan sampai di parkiran ia tak melihat gadis itu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Sementara di toilet yang di khususkan untuk karyawan resto, kuping Alika sudah sangat panas. Beberapa karyawan yang berada di luar bilik toilet yang ia pakai sedang membicarakan dirinya.
Sejak kehadiran Reihan di restoran ini Alika memang menjadi bahan gibahan karena kedekatannya dengan Reihan. Tak sedikit karyawan wanita yang mendadak memusuhinya, mereka iri karena hanya ia yang berhasil dekat dengan pria itu.
Padahal ia sendiri tak mengerti kenapa Reihan hanya baik dan ramah padanya saja sedangkan pada wanita lain sangat dingin bahkan cenderung ketus.
"Kau benar! Masa Reihan yang ganteng itu cuma mau berteman dengan dia, padahal apa kelebihan dia dibanding kita?" Sahut karyawan lainnya.
"Iya padahal cantikan kita kemana mana, dia itu udah pendek, jelek pula apa yang membuat Reihan kita tertarik padanya." timpal lainnya.
Alika menggeram di tempatnya, ya dia akui wajahnya memang tidak terlalu cantik, tinggi badannya juga pas-pasan, tapi bukan berarti mereka bisa menghinanya seperti itu kan.
Ponsel yang bergetar membuatnya merogoh saku jaketnya untuk mengambil benda pipihnya. Nama Reihan yang tampil di layar membuat senyumnya mengembang.
Ponsel yang biasanya ia silent ia maksimalkan volumenya, ia mendapat ide cemerlang untuk membalas hinaan mereka dengan cara elegan.
Dering ponsel yang terus berbunyi dari salah satu bilik membuat ketiga perempuan yang sedang membenahi riasannya cukup kaget, mereka pikir tak ada orang lain ditoilet ini selain mereka bertiga.
Alika keluar dari persembunyiannya, ia sengaja mengangkat telpon Reihan dan mengloudspeaker ponselnya hingga para wanita nyinyir itu bisa mendengar suara merdu Reihan dari ponselnya.
"Ya, ada apa Reihan?" Ucapnya dengan manja.
"Kau dimana? Aku menunggumu di parkiran." Ucap pria itu.
"Ohh...aku sedang di toilet Rei, tunggu sebentar aku segera kesana." Ucap Alika seraya menutup telponnya.
__ADS_1
Ketiga wanita itu memandangnya kesal, sedangkan Alika sudah tersenyum penuh kemenangan. "Maaf, aku duluan ya! Kalian dengar sendiri kan, Reihan kalian yang ganteng itu sedang menungguku di parkiran." Ucap Alika sembari tersenyum lebar.
Ia kembali melangkah menuju pintu keluar, tapi ia berbalik sejenak menatap remeh para wanita itu. "Maaf ya, karena kalian harus kalah dengan wanita pendek dan jelek sepertiku." Ucapnya dengan nada mengejek.
"Sepertinya tidak selamanya kecantikan menjadi tolak ukur pria untuk menyukai seorang wanita, jadi mulai sekarang lebih baik kalian intropeksi diri apa yang salah hingga Reihan lebih memilih dekat denganku yang menurut kalian tak cantik ini." Sambung Alika lalu berlalu pergi dari hadapan mereka.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Alika melangkah cepat menuju parkiran, Reihan sudah menunggu disana.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Ucapnya dengan napas terengah.
Reihan tersenyum. "Tidak apa, Al. Santai saja." ucapnya. "Kita jadi nonton?" tanyanya kemudian.
"Tentu."
"Kalau begitu ayo." Ajak Reihan.
Alika menganguk, ia duduk di belakang Reihan berpegangan pada pinggang pria itu.
"Pegangan yang erat, Al."
"Oke!"
Mereka melaju menuju salah satu bioskop yang berada di sebuah mall terbesar di kota ini.
Film yang akan mereka tonton ternyata sudah dimulai sepuluh menit yang lalu membuat Reihan menyuruh Alika masuk duluan sedang dirinya membeli popcorn dan minuman.
Alika masuk untuk menonton film pilihannya, tiket yang tersisa berada di kursi paling belakang, sejujurnya ia malas duduk di kursi belakang, tapi karena penasaran dengan film ini mau tak mau akhirnya ia ambil lagipula tak ada film lain yang bagus yang sedang diputar saat ini.
Ia baru akan duduk ketika matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
Alika memalingkan wajah dengan sebal, inilah yang membuatnya malas duduk di belakang, banyak pasangan yang memanfaatkan tempat ini untuk bermesraan dan berbuat mesum.
Alika segera duduk di tempatnya ia berusaha pokus pada film dan mengabaikan adegan dewasa yang baru saja ia lihat.
Tak berapa lama Reihan datang membawa camilan dan minuman untuk mereka berdua lalu duduk disampingnya.
Dengan adanya Reihan di sampingnya membuatnya mulai bisa menikmati film yang ia tonton hingga lampu bioskop kembali menyala pertanda film sudah usai.
Alika dan Reihan beranjak dari duduk mereka, Alika kembali mengingat kejadian saat ia datang tadi dan melirik kursi tempat pasangan tadi.
Dan matanya membesar kala melihat siapa lelaki yang ada di kursi tersebut.
__ADS_1
"Ternyata selain menyebalkan dia juga mesum!" Batinnya sembari bergidik.