
"Jadi... kau pria yang menyelamatkan aku semalam?" Ucapnya, setelah ingat kejadian apa yang menimpanya.
"Iya! Dan bukannya berterima kasih, kau malah menganiayaku!"Gerutu Rega. "Dan kenapa kau bisa berada disana? Kupikir kau masih di Villa bersama Za?" Tanyanya, penasaran.
Wajah gadis itu berubah masam, "Semalam Kak Raja menyuruh Reihan mengantarku pulang kekostan, tapi... aku minta turun ditengah jalan. Aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak mengenal tempat itu." Ucapnya mulai menceritakan, "Dan sialnya aku malah bertemu dengan pria-pria brengsek itu." Sambungnya kesal.
Rega mengangguk-anggukan kepalanya, "Jadi kau bertengkar dengan kekasihmu?" tanyanya seraya bangun dari tempatnya.
Alika menggeleng. "Dia itu bukan kekasihku, dia mendekatiku hanya untuk mendapatkan informasi tentang Za." Ucapnya. "Ahhh bodohnya aku percaya begitu saja padanya." Keluhnya.
"Hemptttt." Rega tertawa tertahan yang langsung mendapat tatapan membunuh dari wanita itu.
"Kau menertawakanku?" tanyanya kesal.
"Maaf!" ujarnya. "Apa kau menyukainya?" tanya Rega lagi.
Gadis itu tertegun sesaat kemudian membulatkan mata menyadari sesuatu. "Eh, kenapa aku jadi bercerita padamu." pekiknya.
Rega tersenyum jahil "Tak masalah, aku siap mendengarkan, dan bahkan kalau kau butuh pelukan dengan senang hati aku akan memberikannya." Ucap Rega merentangkan kedua tangannya serta menaik turunkan alisnya
"Modus." Cibir Alika sambil melemparkan bantal pada Rega. Sementara lelaki itu hanya tertawa terpingkal dengan kelakuannya.
"Uhhh" Alika melenguh saat merasakan sakit di kakinya, Ia hendak bangun membuat Rega sigap mendekat. "Lututmu luka, Mungkin semalam kau terjatuh, memangnya kau mau kemana? Biar kubantu."
"Aku mau ketoilet. Aku mau numpang mandi, ya. Badanku rasanya lengket semua." Ucap Alika.
"Ayo! Aku akan membantumu." Ucap Rega.
"Hah?" Alika membulatkan matanya. "Tidak usah aku bisa sendiri!" Tolaknya ketus. "Gak usah modus, ya!"
Rega menghela nafas. "Jangan salah faham, maksudnya aku akan membantu berjalan ke kamar mandi. Bukan membantumu mandi." Ucap Rega, membuat kedua pipi Alika memanas.
Alika tak menolak saat Rega memapahnya menuju kamar mandi.
"Tunggu sebentar disini." Ucap Rega. begitu sampai di depan kamar mandi.
Ia melangkah menuju walk in closed, tak berapa lama ia kembali membawa peralatan mandi dan handuk baru.
"Ini semua baru, kau bisa memakainya." Ucap Rega sembari memberikan Handuk dan peralatan mandi itu padanya.
"Terima kasih." Ucapnya. membuat pria itu tersenyum menggoda. "Tapi Jika kau butuh bantuan, untuk menggosok punggungmu misalnya, Aku juga dengan senang hati akan membantumu" Goda lelaki itu.
"Tidak usah! Terima kasih tawarannya." Ucap Alika ketus, sembari menutup pintu dengan sedikit keras, membuat pria itu tergelak.
"Kenapa dia selalu menyebalkan?" Sungutnya di balik pintu.
Alika menyelesaikan mandinya dengan cepat, kini tubuhnya terasa segar meski lututnya sedikit perih ketika terkena air.
"Ahhhh bagaimana aku bisa lupa?" keluhnya ketika menyadari ia tak mempunyai baju ganti, dan pakaian yang semalam ia pakai? itu tak mungkin bisa ia kenakan lagi, selain kotor juga ada beberapa robekan di sana.
__ADS_1
Cukup lama ia berdiam di kamar mandi, ia bingung tapi untuk bicarakan hal ini pada pria penolongnya, ia juga segan.
Hingga akhirnya sebuah ketukan pintu membuat lamunannya buyar.
"Alika kau masih di dalam?" Ucap seseorang dari balik pintu kamar mandi, itu Rega pria yang menyelamatkannya.
Ceklek. Pintu ia buka dari dalam.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya pria itu bingung, karena gadis itu hanya melongokan kepalanya.
"Aku baru sadar, kalau aku tak bawa baju ganti." Ucap Alika. "Sementara bajuku yang semalam juga tak mungkin kupakai lagi karena sudah sangat kotor dan juga robek."
Rega mengulum senyum, "Jangan khawatir, aku sudah menyuruh anak buahku untuk membeli pakaian untuk mu." Ucapnya santai. "Tapi mungkin membutuhkan sedikit waktu." Sambungnya lagi.
"Baiklah, aku akan menunggu didalam saja." Ucap gadis itu, seraya hendak kembali menutup pintu, namun dengan sigap tangan pria itu menghalau pintu yang hampir tertutup.
"Kau akan kedinginan jika terus berada di kamar mandi!" Ujarnya.
"Tapi aku juga tak mungkin menunggu diluar hanya dengan berbalut handuk kan?" ucapnya.
"Tunggu disini." Ucap pria itu seraya berjalan menuju lemari pakaiannya kemudian kembali dengan pakaian di tangannya.
"Pakai ini dulu, agar kau bisa keluar karna lututmu harus segera diobati." Ucapnya. seraya memberikan pakaian miliknya pada Alika.
"Aku tunggu diluar, kau bisa memanggilku kalau sudah selesai." Ucapnya lagi lalu keluar dari ruangan itu.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Ia memakai pakaian itu, walau bagaimanapun lelaki itu sudah berbaik hati menolongnya dan kini memberi pinjaman pakaian untuknya. "Ternyata dia baik juga." Gumamnya dalam hati.
Ia keluar dari tempat itu bersamaan dengan Rega yang juga baru saja kembali masuk ke kamar, pria itu berdiri mematung menatap dirinya membuatnya merasa tak nyaman.
"Ekhem!" Ia berdehem, membuat pria itu segera tersadar, dan berjalan menuju sofa kemudian menaruh sesuatu disana.
Lelaki itu kemudian kembali mendekat dan membantunya berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu, namun sebelum benar-benar sampai di sofa, kakinya terjegal sesuatu hingga membuat langkahnya menjadi oleng dan akhirnya membuat keduanya terjatuh dengan posisi dirinya menindih tubuh pria itu.
Deg...Deg..deg...
Jantungnya terasa berpacu dua kali lipat, mata mereka terkunci satu sama lainnya, membuat mereka berada di posisi itu cukup lama.
"Sepertinya kau begitu nyaman dengan posisi begini?" Ucap Rega dengan nada menyebalkan, membuatnya segera bangkit dari posisi itu.
Ia duduk dengan perasaan canggung, sementara lelaki disampingnya menatapnya dengan senyum
"Aku membelikan sarapan." Ucap Rega mencairkan suasana, seraya membuka bungkusan makanan. "Kau pasti lapar, dari semalam belum makan." Ucapnya lagi, sembari menyodorkan sebungkus nasi uduk padanya.
"Mau ku suapi?" tanya lelaki itu dengan senyum jahilnya melihatnya masih tak bergerak, Membuatnya segera menggeleng. "Aku bisa sendiri." Jawabnya, membuat lelaki itu mengulum senyum.
Ia mulai meraih makanannya dan mulai makan.
__ADS_1
Selepas sarapan Rega memberikannya obat yang diberikan dokter semalam, juga dengan telaten mengobati lututnya yang terluka, membuatnya tersenyum sembari memperhatikan apa yang dilakukan oleh lelaki itu.
"Ternyata dia baik juga! Apa selama ini aku sudah salah sangka sama dia? Dia masih mau menolongku juga dengan lembut mengobatiku, padahal selama ini aku selalu ketus padanya." Batin Alika.
"Selesai!" Ucap Rega, menyadarkannya dari lamunan.
"Makasih!" Ucapnya tulus.
Pria itu tersenyum, "Sama-sama." Ucap Rega. "Oh, ya! Tadi Za telpon, maaf kuangkat tanpa menunggu ijinmu. Sepertinya dia khawatir banget sama kamu." Ucap Rega sambil memberikan ponsel miliknya, membuatnya mengingat tujuan awal Rei mengantarnya.
"Ya ampun! Aku lupa kabari dia." pekiknya, seraya menerima benda pipih itu dan mencari kontak Za, untuk menghubungi sepupunya itu.
"Aku sudah bilang kalau kamu sedang bersamaku, jadi dia minta aku mengantarmu." Ucap Rega membuatnya menatap pria itu.
"Tadi Za udah sharelock, tapi kayaknya bukan tempat kostan kamu yang dulu, kamu pindah rumah?" Tanya lelaki itu, lagi.
Ia menggeleng, tapi kemudian mengangguk, "Kak Raja membelikan rumah untuk Za, dia ingin Za punya tempat tinggal yang aman dan juga nyaman, Jadi dia meminta aku menemani Za disana!" Ucapnya.
"Wahh, keren! Beruntung banget Za, beda emang kalau sultan." Ucap Rega. "Kayaknya Raja sayang banget sama, Za." tanyanya lagi.
Ia mengangguk mengiyakan, meski ada yang terasa janggal dengan sikap kak Raja yang ia nilai berlebihan terhadap sepupunya itu.
Ketukan pintu membuat keduanya menoleh serempak, Rega segera bangkit lalu berjalan untuk membuka pintu dan kembali dengan membawa paperbag milik brand terkenal, lalu menyerahkan padanya.
"Ini, pakaian gantimu! Setelah itu kuantar ketempat Za." Ucap Rega. membuatnya menerima paperbag itu.
"Terima kasih." Ucapnya tulus. "Ternyata kau tak seburuk yang ku pikirkan." Imbuhnya membuat lelaki itu tersenyum.
"Memangnya aku seperti apa dalam pikiranmu?"
"Hah? Maksudku dulu kau selalu menyebalkan." Akunya.
"Dan sekarang?" tanya lelaki itu sambil menatapnya.
"Ku rasa kau cukup baik." Ucap nya gugup.
"Dan tampan!" Sahut pria itu.
"Apa?"
"Aku baik dan juga tampan, bukankah begitu?" Ucap pria itu percaya diri. "Dan kau sangat beruntung bertemu denganku." ucapnya lagi.
Alika memutar bola matanya membuat pria itu tergelak.
"Aku ralat ucapan ku, kau masih menyebalkan!" sungutnya seraya mendorong lelaki itu mundur, dan menutup pintu kamar.
Assalammualaikum, apa kabar semua๐๐ semoga di beri kesehatan ya.
Hari ini aku kasih dua bab ya๐ maaf belum bisa up rutin lagi, setelah ini aku usahakan untuk bisa update tiap hari.
__ADS_1
Makasih yang masih setia stay di sini, beberapa bab mungkin masih ada yang ngulang di novelnya Za karena kisah ini emang gak bisa lepas dari mereka.
Jangan lupa tekan like sama komennya ya, lov u all๐๐