
Rega keluar dengan wajah berseri, "Kenapa menggodanya selalu menyenangkan." gumamnya mengingat apa yang ia lakukan pada Alika barusan.
Lengkungan bibirnya melebar begitu melihat mobil rombongan keluarganya datang, ia mendekat segera menyambut mereka.
Rega mendekat dan segera membukakan pintu mobil yang berisi keluarga Inder, sebuah pelukan hangat dari Bunda menyambutnya "Bunda sangat merindukanmu." Sebuah kalimat yang mampu membuat senyumannya semakin merekah, "Beberapa hari ini kita sama-sama sibuk sampai tak ada waktu untuk saling menyapa. Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Baik, Bun." jawabnya, seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu lalu beralih pada pria di samping Bunda.
"Ayah pikir kau akan berangkat bersama kami, ternyata kau berangkat lebih dulu, ya." Ucap pria paruh baya itu.
"Dia sedang punya misi, Ayah." Sahut Inder yang baru saja keluar dari mobilnya, membuat semua orang menatap penuh rasa ingin tau.
"Missi Apa?" Tanya Ayah.
"Misi Cinta." Jawab calon mempelai pria itu membuat semua tertawa dan menggodanya.
Seorang Pria paruh baya menghampiri rombongan mereka, mempersilahkan mereka untuk menuju pelaminan.
"Orang tuamu juga ikut bersama kami, Nak." Ujar Ayah. "Sapa lah mereka." Lanjutnya, kemudian melangkah lebih dulu menuju pelaminan.
Wajah Rega berubah masam, orang tuanya? Ia pikir mereka sudah kembali berpetualang di dunia mereka seperti biasanya, mengapa kali ini mereka mau repot-repot?
Rega menghampiri kedua orang tuanya yang baru keluar dari mobil mewah mereka. Namun, wajahnya berubah semakin muram begitu melihat seorang wanita juga ikut hadir bersama mereka.
Rega menghela napas panjang, ia sudah bisa menebak apa tujuan mereka ikut datang kemari. Rega menyapa kedua orang tuanya yang kini tersenyum padanya, melakukan hal serupa yg ia lakukan pada ayah dan Bunda.
"Sayang, lihat siapa yang ikut bersama kami." Ucap sang Mama padanya.
__ADS_1
Mata Rega beralih pada gadis cantik bergaun merah dengan belahan yang cukup rendah di bagian dadanya, "Hai Rega, kita bertemu lagi." Ucap wanita itu begitu pandangan mereka bertemu.
Rega hanya tersenyum kaku lalu mengajak mereka untuk ikut masuk bersama rombongan mempelai pria.
🌺🌺🌺🌺
Acara akad sudah berjalan dengan lancar, tiba saatnya mempelai wanita keluar dengan di dampingi kedua ibunya. Semua mata tertuju pada gadis berkebaya putih itu, wajah Za yang biasanya polos tanpa make up kini terlihat begitu cantik membuat semua mata enggan berpaling darinya.
Kecuali Rega! Mata pria itu justru tak lepas dari gadis di belakang mempelai wanita yang nampak begitu manis dengan kebaya berwarna krem yang melekat pas di tubuh mungilnya.
Mata pria itu bahkan terus mengekor setiap gerak gadis ayu itu dan enggan lepas bahkan hanya untuk sekedar berkedip. Dan itu menarik perhatian wanita cantik bergaun merah yang kini menatap tak suka dengan pemandangan di depannya.
"Siapa wanita itu? Kenapa Rega terus saja memandangnya?" Batin Thalia kesal.
Ia semakin murka kala Rega menarik tangan gadis itu agar duduk di sebelahnya, pria itu tersenyum menggoda pada gadis itu yang justru bersikap kurang bersahabat.
"Apa yang istimewa dari gadis itu? Siapa sebenarnya gadis itu?" Thalia terus saja bertanya-tanya dalam hatinya.
🌺🌺🌺
Alika sudah berdandan rapi dengan pakaian yang sudah ia persiapkan beberapa hari yang lalu, bukan pakaian mewah atau berkelas tapi tampak manis saat melekat di badan mungilnya.
Ia menghampiri sang sepupu yang sudah nampak sempurna dengan dress putih yang sangat pas di badannya.
"Kau terlihat sangat cantik, Al." Ucap wanita yang mendampingi sang sepupu. "Pantas saja Rega sampai tak berkedip melihatmu." Lanjutnya. Itu adalah Ivana. Kakak ipar Za, sekaligus gadis yang beberapa kali terlihat akrab bersama sang bos.
"Ahhhh kenapa aku baru menyadari kalau perut wanita itu membuncit, apa ini berarti dia bukan siapa-siapanya pria menyebalkan itu? Tapi... kenapa mereka terlihat begitu mesra setiap kali bertemu?" Batin Alika.
__ADS_1
*Haishhhh... kenapa juga aku harus perduli apa hubungan mereka!"
Ia menggeleng, menepis pikirannya sendiri.
"Kenapa, Al? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" ucap Ivana.
Alika sedikit tersentak," Tidak, Nona." ucapnya seraya tersenyum canggung. "Aku bahkan melamun sampai tak mendengar apa yang kau katakan tadi, Nona. Bagaimana aku akan tau salah atau tidaknya perkataanmu itu" lanjutnya dalam hati.
"Hei! Jangan memanggilku Nona, panggil aku Ivana, kau saudara adik iparku berarti sodaraku juga." Ucap Ivana.
Alika tersenyum, "Baiklah, Ivana."
"Good." ucap wanita hamil itu seraya mengacungkan ibu jarinya.
Ketukan pintu membuat ketiganya menoleh, seorang pria berparas tampan masuk ke ruangan itu. "Apa semuanya sudah siap, sayang? Sepertinya adiknu itu sudah sangat tidak sabar ingin bertemu mempelai wanitanya." Seloroh lelaki itu, seraya tersenyum manis pada Ivana.
"Tentu, sayang. kami akan segera keluar." Sahut Ivana.
"Ayo, Za! Kita keluar sebelum adik bucinku itu menggerutu dan memaksa menyusulmu di sini." Lanjutnya seraya menggerling pada sang adik ipar.
Za hanya tersenyum seraya beranjak dari tempatnya. "Baiklah, ayo kak!"
Mereka keluar dari ruangan itu, Za berada ditengah-tengah, diapit oleh Alika dan Ivana di kanan dan kirinya.
Semua perhatian para tamu beralih pada tiga gadis cantik yang berjalan menuju tempat resepsi, Alika melepas gamitan lengannya saat Za sudah dekat dengan pelaminan.
Ia menatap sepupunya yang dipenuhi dengan binar kebahagiaan, matanya lalu beredar mencari keluarganya, tapi terhenti pada sepasang insan yang kini bergandengan mesra.
__ADS_1
Alika merengut kesal, entah kenapa ia merasa marah melihat pemandangan di depannya.
"Padahal tadi dia menggodaku habis-habisan, dan sekarang bisa-bisanya dia menggandeng mesra wanita lain di depanku, dasar menyebalkan!"