
Rega menemani Inder untuk menemui Raja pramudza, cowok ganteng yang membuat sahabatnya itu cemburu karena kedekatannya dengan Queenza, sayangnya bodyguard yang berjaga di depan cafe melarangnya untuk ikut masuk, membuatnya hanya bisa menunggu di luar dan memperhatikan mereka dari jauh.
"Apa yang sebenarnya ingin di bicarakan pria itu?" batinnya khawatir, saat melihat dengan jelas terjadi ketegangan diantara kedua pria itu.
Terlihat jelas Inder begitu emosi, entah apa yang dikatakan lelaki itu hingga sahabatnya terlihat begitu marah saat keluar dari cafe.
Dari kemarin Rega benar-benar khawatir melihat kondisi sahabatnya, kehadiran lelaki lain di samping Za membuat pria itu kehilangan percaya diri, apalagi pria lain itu terlihat begitu dekat dengan Queenza.
Ia segera beranjak dan menghampiri Inder yang baru saja keluar dari cafe itu, dan ia tahu sahabatnya itu tidak baik-baik saja.
"Kunci mobil gue, mana, Ga?" ujar pria itu, dari wajahnya terlihat jelas kalau pria itu sedang marah.
"Lu mau kemana?"
"Gue lagi pengen sendiri!" Ucap Inder seraya menyambar kunci mobil yang di berikan olehnya.
Rega ikut melangkah, tapi sahabatnya itu dengan tegas melarang siapapun untuk mengikutinya.
Namun, karena khawatir ia tetap mengikuti kemana sahabatnya pergi, dengan menggunakan mobil anak buah Ayah Rangga yang selalu stand by di sekitar mereka.
"Lo mau kemana, Inder?" gumamnya khawatir, saat melihat mobil yang dikendarai sahabatnya itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Ia terus mencoba menghubungi pria itu tapi tapi tak ada jawaban, "Haishhh sial!" Sungutnya saat kehilangan jejak dari sahabatnya itu, ia menyalakan gps, mobil yang dikendarai Inder memakai gps hingga ia bisa melacak keberadaan mobil itu.
Dan... matanya membulat saat melihat titik lokasi mobil itu berada.
Rega bergegas menuju titik lokasi yang ditunjukan GPS, sayangnya ia terlambat, Inder sudah tak sadarkan diri saat ia sampai disana.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Masuknya Za ke rumah sakit membuat Alika memutuskan mengambil cuti beberapa hari untuk menemani saudaranya itu, dan hal itu membuatnya lebih sering bertemu dengan Rega.
Inder sudah menceritakan tentang apa yang terjadi di rumah keluarga pramudza saat makan malam itu, dan ia bisa bayangkan sehancur apa hati sepupunya itu saat mengetahui kalau keluarga lamanya berpikir bahwa ia sudah meninggal.
Tapi kini keadaan Za sudah membaik membuatnya sedikit lega dan memutuskan untuk kembali ke rutinitasnya, apalagi sekarang sudah ada Raja, kakak angkat Za yang merawat sepupunya itu.
Tapi ada yang mengganjal perasaannya, setelah Za sadar Inder dan pria menyebalkan itu justru menghilang, ia tak pernah bertemu mereka lagi, apakah mereka sibuk? pikirnya.
Dan pria itu? Sekarang ia tahu pria itu bernama Rega, manager sekaligus sahabatnya Inder, dari Za ia tahu kalau pria itu juga merintis bisnis kuliner dan perhotelan bersama Inder.
"Kenapa kau menanyakan tentang mas Rega? Apa kau menyukainya?" tanya Za, saat ia bertanya banyak hal tentang pria itu.
__ADS_1
"Menyukainya? Hah yang benar saja mana mungkin aku menyukai laki-laki mesum dan menyebalkan seperti dia, Za!" Elaknya.
"Mesum?"
"Iya! Dia itu laki-laki mesum, Za." ucapnya dengan yakin. "Kau tahu aku pernah memergokinya berciuman di bioskop, benar-benar menjijikan." Sungutnya.
"Dan dia juga yang menabrak motorku waktu itu, dan seenaknya membuang motorku, lalu menggantinya dengan yang baru, bukan itu sangat menyebalkan! Jangankan menyukainya aku bahkan membencinya." Sungutnya berapi-api.
"Jangan terlalu benci pada seseorang, Al. Ingat perbedaan benci dan cinta itu sangat tipis, sekarang benci bisa jadi suatu saat nanti kau jatuh cinta padanya." ujar sepupunya membuatnya merengut dan mengetuk-ngetukan tangan ke nakas yang berada di samping ranjang pasien lalu kekepalanya.
"Amit-amit... jangan sampai aku jatuh cinta sama orang mesum itu."
Za tertawa melihat apa yang di lakukannya, membuat bibirnya mencebik sebal. "Tega sekali kau menyumpahiku jatuh cinta dengan orang seperti itu."
Za terkekeh, "Tapi Mas Rega itu baik kok, walau memang sedikit playboy."
"Ahhh sudah, sudah! Kenapa jadi terus membicarakannya." Sergahnya.
"Oh, iya, aku lupa kalau saudaraku ini sudah punya pacar, siapa namanya? Rei, ya kalau tidak salah? Kenapa kau tidak membawanya dan mengenalkannya padaku?" tanya Za.
"Dia itu bukan pacarku, dia hanya teman kerjaku!" ucap Alika. "Sudah ah, aku mau pulang dulu, sampai nanti Za." Pamitnya.
"Sampai nanti, Al."
Alika mengejar pria itu, dan benar saja pria itu ada di sana berdiri cemas sambil menatap kosong pada pintu ruangan itu.
Alika mennghampiri pria itu, "Sedang apa kau di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya membuat pria itu menoleh.
belum menjawab seorang wanita datang dan langsung memeluk Rega, Alika tak tau siapa wanita yang kini sedang tersedu dalam pelukan lelaki menyebalkan itu, tapi entah kenapa ia merasa tak suka melihat interaksi mereka.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Rega membawa Alika ke tempat yang sedikit jauh dari ruangan rawat Inder setelah menenangkan Ivana, kakak perempuan Inder.
"Inder meminum dua gelas minuman beralkohol tinggi, sedang sejak kecil dokter sudah memvonisnya punya alergi yang parah terhadap alkohol!"
"Tubuhnya akan langsung memberi reaksi penolakan, biasanya hanya muntah jika dalam jumlah sedikit, tapi... sepertinya pikirannya sedang kacau sampai ia sengaja menyakiti diri sendiri!" ucapnya menjelaskan saat wanita di depannya menanyakan tentang siapa yang berada di ruangan rawat itu.
Rega juga menceritakan tentang pertemuan Inder dengan Raja, dan juga meminta Alika untuk menyembunyikan sakitnya Inder pada sepupunya.
Alika setuju, sepupunya baru saja membaik dia tak ingin menambah beban pikiran sepupunya.
__ADS_1
Alika pamit pulang setelah memastikan keadaan Inder baik-baik saja, besok ia juga harus kembali bekerja jadi dia butuh istirahat cukup malam ini.
Dengan di antar Rega, Alika pamit pada perempuan yang ternyata adalah kakaknya Inder, sebenarnya ia sudah berusaha menolak tawaran Rega, tapi pria itu bersikeras untuk mengantarnya pulang.
"Sampai sini saja, terima kasih ya." Ucap Alika saat sampai di gang dekat rumahnya.
Alika berbalik, tapu tanpa di sangka pria itu menyusulnya dan mensejajarkan langkah mereka.
"Kau mau kemana?" tanyanya heran.
Tak langsung menjawab pria itu justru membuka jaketnya dan memakai kan jaket itu di tubuhnya. "Eh!" pekik Alika kaget.
"Cuacanya dingin, gak bagus buat tubuh." ucap pria itu seraya tersenyum begitu manis padanya.
Alika bahkan sempat terpesona dengan senyuman itu.
"Kenapa? Terpesona ya, sama wajah tampan Gue?" ucap pria itu percaya diri.
"Hah!"
Alika berdecak seraya mengalihkan perhatiannya pada arah lain, ia mencercepat langkah mendahului lelaki itu, tapi dengan cepat lelaki itu menyetarakan langkah mereka.
"Gw anter sampe depan rumah! Gak baik anak gadis jalan sendirian malam-malam." ucapnya.
Alika tak mengiyakan ataupun menolak, hari memang sudah cukup gelap dan juga sepi jadi harus di akui ia butuh seseorang untuk menemaninya pulang.
"Ini rumahmu?"
"Tempat kossan ku lebih tepatnya." ucapnya.
Rega mengangguk-angguk memperhatikan sekeliling tempat tinggal perempuan itu, "Emangnya nyaman tinggal di tempat kayak gini?"
tanya lelaki itu lagi.
"Nyaman aja sih! Dan yang penting harganya juga bisa di jangkau olehku."
Rega menatap gadis di depannya, wanita, wanita yang berkencan denganya selama ini kebanyakan berasal dari kalangan atas, tak pernah terlintas di pikirannya ada seorang gadis yang bisa tinggal di tempat sesederhana ini, dan harus berjuang sendiri untuk hidup.
Dan mungkin itulah yang membuatnya tertarik pada gadis ini, karena dia berbeda dari gadis-gadis yang ada di sekitarnya.
Assalamualaikum, apa kabar semuanya๐ Maaf ya baru bisa up lagi, gak tau kenapa kemaren-kemaren ide buat cerita ini buntu banget, apalagi badanku juga tiba-tiba drop, jadi baru bisa up lagi sekarang.
__ADS_1
Makasih buat yang masih stay di novel ini, semoga kedepannya bisa lancar up rutin lagi, lovyu All๐