TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
Hari Sial


__ADS_3

Hari sudah berganti Rega dan Inder memutuskan untuk pulang kembali ke kota. Bunda sudah beberapa kali menelpon mereka sepanjang pagi hingga siang ini.


"Ayo! Bunda udah nelpon lagi nih!" Ajak Rega pada sahabatnya.


Inder masih belum bergerak, sepertinya pria itu masih menunggu seseorang. Benar saja tak lama terdengar langkah tergesa dari dalam rumah, terlihat Queenza berlari kc ecil menghampiri mereka.


Rega menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya, ia memutuskan untuk menunggu duluan di mobil sampai sahabatnya selesai mengucapkan salam perpisahan dengan wanita yang di cintainya.


Dan ia sendiri mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu disana lalu mengirim pesan itu pada gadis yang tengah berdiri tak jauh dari pintu villa.


🌺🌺🌺🌺


Ting.


Sebuah pesan masuk di ponsel Alika, membuatnya membuka pesan itu dengan segera.


*Aku harus pulang, jangan merindukanku, ya!


Ck! Decak gadis itu seraya menatap pada lelaki yang kini menatapnya dari mobil dengan senyum menjengkelkan.


"Kenapa ada orang yang begitu percaya diri seperti dia?" Batin Alika.


Alika menyimpan kembali ponsel ke sakunya, ia tak berniat membalas pesan dari pria itu, hingga Inder selesai berpamitan dan mobil mereka pergi keluar dari villa itu.


🌺🌺🌺🌺


Sore harinya Za dan juga kakaknya juga memutuskan untuk kembali pulang ke kota, bisa ia lihat binar kebahagiaan di mata sepupunya itu.


Sayangnya mereka tidak bisa berangkat bersama, entahlah, terkadang Alika merasa sikap Raja pada Za itu terlalu berlebihan lelaki itu seperti tak pernah mau di ganggu siapapun saat bersama dengan Za.

__ADS_1


Seperti sekarang, Alika mau tak mau harus ikut bersama Reihan yang di tugaskan untuk mengantarnya pulang Ke kossannya.


Sebelum pulang Raja memintanya untuk tinggal di rumah yang sudah ia siapkan untuk Za. Ia sama sekali tak keberatan, lagipula ia bisa berhemat dengan mengurangi biaya kossan kan?


Hanya saja ia tak tau jika Reihan yang akan mengantarnya pulang, ahhhh perjalanan ini akan menjadi perjalanan panjang yang menguras emosinya.


Hanya ada keheningan di sepanjang perjalanan yang baru setengah nya menuju Ibukota, Alika lebih memilih memandangi pepohonan yang mereka lewati.


Entah kenapa ia begitu enggan untuk memulai pembicaraan dengan lelaki yang pernah dekat beberapa bulang dengannya itu, hatinya masih terasa sakit sekaligus malu jika mengingat kebodohannya.yang telah salah paham dalam mengartikan sikap Reihan padanya dulu, ia merasa terlalu percaya diri saat itu.


Itu jugalah saat tinggal di Villa sebisa mungkin ia selalu menghindari untuk berremu dengan pria itu, selalu saja ada rasa kesal ketika melihatnya yang bisa begitu santai setelah apa yang terjadi di antara mereka, atau mungkin karena hanya dia yang punya harapan lebih terhadap hubungannnya saat itu sedang Reihan sama sekali tak menganggap itu spesial?


Hiks malangnya nasibku. ratapnya dalam hati.


"Maaf!" Sebuah kata yang meluncur dari bibir pria berlesung pipi itu memecah kesunyian di antara mereka.


Lamunan Alika pun buyar, tapi ia bergeming, tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya sekedar menanggapi ucapan maaf Reihan.


"Marah? Ya, aku sangat marah! Bukan hanya merasa di manfaatkan, aku juga merasa dipermainkan olehmu!"


"Kau membuatku terbang dengan semua perhatianmu, kemudian kau hempaskan aku di lubang terdalam!" Ingin rasanya Alika meneriakan semua kalimat itu, sayangnya bibirnya terkatup rapat, semua makian dan cacian itu hanya bisa ia teriakan di hati saja.


"Aku akan terima jika kau membenciku karena itu." Imbuh Reihan lagi.


"Berhenti!" ucap Alika membuat pria itu sedikit tersentak.


"Kenapa? Ini bukan gang tempat tinggalmu?" tanyanya bingung, tapi menghentikan mobil sesuai perintahnya.


"Memang bukan!" ucap wanita di belakangnya seraya membuka pintu mobil dan turun dari mobil mewah itu. "Kau kirimkan saja alamat Za padaku, aku akan ke sana sendiri!" Imbuh gadis itu, mengambil tasnya kemudian berlalu pergi tanpa sempat Reihan cegah.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


"Dia pikir siapa dirinya? Memberi harapan pada orang, memberinya perhatian hingga membuatku punya perasaan lalu kemudian menghempaskanku saat tau kenyataan! Dasar cowok brengsek!" Gerutu Alika sepanjang jalan.


"Dan sekarang seenaknya meminta maaf!.Kau pikir aku akan dengan mudah memaafkanmu? Enak saja." Sungutnya lagi.


Alika berjalan cepat, menyusuri jalanan lengang sebuah komplek perumahan yang sepi. Langkah kakinya terhenti ketika menyadari tak hapal dengan jalanan yang ia lewati, Ia melihat jam yang melingkar di tangannya waktu baru menunjukan pukul sembilan malam, tapi sudah tak ada satupun orang di sana yang bisa ia tanyai untuk sekedar memastikan di mana ia berada.


Ketakutan mulai merasuki benaknya, ahhh andai tadi ia bisa sedikit bersabar lagi, sampai kossan nya saja, setidaknya ia bisa mengusir Reihan saat dirinya sudah di tempat yang aman.


Alika mengamati sekitarnya, senyuman terbit saat melihat sekumpulan orang dari kejauhan, dengan semangat ia menghampiri mereka bermaksud bertanya alamat tempatnya berada saat ini.


Namun, langkahnya melambat dan berhenti saat mencium bau alkohol yang menyengat, ia berbalik sambil berharap para pria itu tak menyadari kehadirannya.


Sayangnya, salah satu dari mereka melihatnya, dan memberi kode pada teman-temannya.


"Heii! Mau kemana, cantik? Bukannya tadi mau nyamperin kita, ya." Ucap salah satu dari mereka setengah berteriak.


Alika mempercepat langkahnya, para pria itu sudah mulai mengikutinya. "Haishh, sial! Tau akan begini lebih baik aku pulang bersama Reihan tadi! Setidaknya aku akan aman sampai ke rumah." Rutuknya dalam hati.


"Yok, sini kita main-main dulu, cantik!" ucap pria itu lagi.


Kini mereka mengelilinginya secara melingkar hingga tak ada celah baginya untuk melarikan diri.


"Mau apa kalian?!" Bentaknya, "Aku tidak mengenal kalian, pergi! jangan ganggu aku!" teriaknya lagi.


"Hahahaha" Para pria itu justru terbahak mendengar bentakannya.


"Kita gak ganggu kok, neng! Kita mau ngajak senang-senang!" ucap pria berbadan kurus di iringi tawa teman-temannya.

__ADS_1


Tubuh Alika gemetar ketakutan, sudah terbayang kejadian buruk apa yang akan menimpanya. "Ahhhhh tolongggg!" Jeritnya ketika salah satu dari mereka berhasil meraih dan mencengkram tangannya.


__ADS_2