
Seketika bola mata Cantika langsung membulat dengan sempurna, dia terkejut sesaat mendengar ucapan sepupunya akan kotak rahasianya.
Vian yang gemas dengan keterkejutan Canika, dia langsung menarik pipi mulus Canika. "Tidak usah menunjukkan ekpresi seperti itu, Cina. Aku tidak membacanya, dan aku tidak mengetahui isi nya."
"Augh!" Rintih Canika, dia mengusap pipinya yang sakit karna cubitan dari sepupunya itu. Dia mengendus kesal dan tentunya bernafas lega, lega rasanya karna Vian tidak mengetahui isi kotak itu.
"Kalau sampai dia tau isi nya, bisa bahaya. Aku harus menyembunyikannya." Batin Canika.
"Oh, iya. Tadi Aunty berpesan untuk kamu tinggal di rumah mommy, aunty tidak mengizinkan kamu tinggal di apartemen ataupun hotel." ucap Vian.
"What?!" Canika menatap ke arah Vian. "Bagaimana bisa? tidak! aku tidak mau tinggal bersama aunty, aku tidak mau!" tolak Canika dengan tegas, membayangkan dirinya tinggal bersama ibunya Vian, sama saja dengan dirinya bu-nuh diri.
Karna pada pasalnya, ibunya Vian adalah seorang wanita yang tidak bisa dibantah apapun itu, dia memiliki sikap yang tegas dan keras. Tidak sedikit orang yang takut kepadanya, contohnya seperti Canika. Dia takut kepada aunty nya sendiri.
Tuk!
Vian menjitak jidat Canika. "Emang kamu pikir mommy menyeramkan? sampai kamu ketakutan seperti itu?"
__ADS_1
"Ck! kamu tidak tau kalau ibu mu itu singa, dia bahkan pernah mematahkan kayu besar dengan sekali ten-dangan. Aghh! tidak mau! pokonya aku tidak mau!"
Keinginan Canika untuk tidak tinggal bersama aunty nya. Justru itu malah menjadi kenyataan, saat ini Canika sudah sampai di rumah besar milik keluarga sepupunya itu.
Vian mengulurkan tangannya untuk membantu Canika turun dari mobil, dia merangkul sepupunya dengan sesekali membisikkan sesuatu.
"VIANNNN!!!" tanpa sadar, Canika berteriak dengan kesal karna bisikan dari Vian membuat Canika geram.
Sedetik kemudian, Canika langsung menutup mulutnya. "Mampus!" umpat Canika.
"Ada apa Canika?"
Canika menegang untuk sesaat setelah mendengar suara tegas aunty nya. Suara yang dia takuti kini kembali terdengar di telinga nya.
Gluk!
Canika menelan ludah nya dengan susah payah, dia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Hehehe, tidak apa-apa, aunty." jawab Canika. Dia bergegas menyalami tangan aunty nya.
Di luar dugaan, aunty nya itu justru malah menarik Canika ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, sungguh hangat. Canika membalas pelukan aunty nya.
"Kamu yang sabar ya, sayang. Maafkan aunty karna aunty kemarin tidak bisa menjenguk mu, jika saja aunty berada di sana. Mungkin kamu tidak akan mengalami hal se-menyakitkan ini." ucap mommy Vian, dia memeluk hangat keponakan itu. Dia ikut merasakan sakit saat mendengar kabar kesakitan Canika.
Tanpa sadar, air mata Canika menetes kembali. Dia mencoba berdamai dengan hatinya, namun rasanya tidak bisa. Hatinya sungguh sakit, dia sakit.
Canika mengusap punggung aunty nya. "Sudah aunty. aku tidak apa-apa, lihatlah sekarang aku sudah membaik. Aku harus bangkit untuk mengejar cita-citaku,"
Heppy (mommy Vian) mengusap air mata keponakannya itu. "Kamu memang wanita yang kuat, kamu luar biasa. Aunty bangga dengan ketegaran hatimu, sayang." Canika membalasnya dengan senyuman.
"Sudah, ayo sebaiknya kita masuk ke dalam." Ajak Vian.
Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam rumah besar yang dulu menjadi tempat tinggal Canika.
Sedangkan itu, di sisi lain. Seorang laki-laki tampan baru saja tiba di negeri orang, dia menggunakan kacamata hitam yang sungguh menambah kesan menawannya.
__ADS_1
"I'm coming, baby."