TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 47


__ADS_3

Pagi harinya. Canika sudah pergi dari kamarnya. Dia membiarkan kedua pasutri itu untuk tidur bersama.


Canika menghampiri keponakannya. Dia memangku Dhanesh yang sudah tampan. "Astaga. kamu kenapa bisa setampan ini??" Canika mengecup pipi gemul Dhanesh.


Mama Widia menghampiri Canika. "Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya mama Widia. Dia menanyakan tentang bagaimana keadaan Canika.


Canika tersenyum lirih. Dia menundukkan pandangannya.


Mama Widia langsung memeluk anaknya. Dia menepuk pundak anaknya. Canika menangis.


"Hiks... mah.. A-aldo khianati aku.. dia tidur sama cewe.. Hiks..." Tangis Canika pecah. Niatnya kembali ke jakarta untuk menemui kekasihnya namun ternyata salah.


Canika salah menjaga hatinya. Kekasihnya tidak setia kepadanya.


"Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Biarkan dia menerima akibatnya nanti. Sekarang sebaiknya kamu tata kembali hatimu." Tutur mama Widia. Dia tidak mau anaknya itu larut dalam kesedihan.


Canika menganggukan kepalanya. Memang jika dipikir-pikir, dia tidak pantas menangisi laki-laki seperti Aldo.


Mama Widia melihat sekeliling. "Dimana Renata?" Tanya mama Widia. Dia mencari menantunya.


"Masih di kamar, kak Rena dikurung sama kak Rey."


"Astaga... anak itu!!" Geram mama Widia.


Canika tertawa ringan. Dia kembali memangku baby Dhanesh.


Dia membawa Dhanesh untuk berjemur. Namun saat ke luar dari kamar baby, matanya terlebih dulu tertuju kepada seorang laki-laki tampan yang tengah berjalan ke arahnya.


"Dimana, tuan Rey?" Tanya sekertaris Wildan. Ya, laki-laki tampan itu adalah sekertaris Wildan.


"Ka-kakak Rey masih dikamarnya." Jawab Canika.

__ADS_1


Wildan terdiam sebentar. Dia melirik ke arah banyak Dhanesh yang anteng dalam pangkuan Canika.


"Mau kemana?" Tanya Wildan.


"Aku mau nge jemur baby Dhanesh." Jawab Canika. Hatinya sungguh tidak bisa dikondisikan. Hatinya berdebar kencang.


"Ayo aku antar."


Deg.


Canika tidak bisa berkata-kata apapun lagi saat baby Dhanesh berpindah ke tangan Wildan.


Dia menyusul langkah kaki Wildan.


"Astaga! apa ini yang dinamakan dengan wisata masa depan?" Canika tersenyum geli.


Dia menjemur sebentar baby Dhanesh. Dia memangku baby Dhanesh.


"Kakak tidak ke kantor?" Tanya Canika.


Uhuk!


Uhuk!


Uhuk!


"A-apa?" Kaget Canika. Dia tersedak saat Wildan memberitahukan kalau Papanya meminta Wildan untuk menjaganya. Astaga!


"Apa telingamu sedang bermasalah?"


Canika menggelengkan kepalanya. Dia harus berbicara dengan papanya. Bisa-bisanya papanya meminta Wildan menjaganya. Emangnya dia anak kecil?

__ADS_1


Sedangkan itu Renata baru saja membuka matanya. Dia terheran-heran karna kini dia sudah berada di dalam kamarnya. Astaga! pasti suaminya itu yang memindahkannya.


Saat hendak turun dari kasurnya. Terlebih dulu tubuh Renata dicekal oleh suaminya. "Sebentar lagi."


"Astaga... mas! lepaskan."


Bukannya melepaskan justru Rey malah mempererat pelukannya. Hingga akhirnya Renata terpaksa menemani Rey untuk tertidur kembali.


Beruntungnya hanya tidur. Tidak diawali dengan keringat. Setelah memastikan suaminya tertidur. Renata berjalan dengan perlahan masuk ke kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya.


Kurang dari 15 menit Renata keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang sudah segar. Renata mengeringkan rambutnya. Dia mengoleskan sedikit lipbalm dan juga bedak tipis ke wajahnya.


"Sayang?" Panggil Rey dengan suara seraknya. Dia melihat istrinya sudah sangat cantik.


Renata menghampiri Rey. Dia mengecup pipi suaminya itu. "Sudah pagi sayang. Ayo bangun!" Renata meminta Rey untuk bangun. Dia membuka gorden kamarnya.


"Cium aku!" Pinta Rey.


Cup!


"Lagi!!"


Cup!


"Lagi!!"


Cup!


"Lagii!!"


"Astaga... Mas!!" Kesal Renata.

__ADS_1


"Sekali lagi."


Cu-eummmmmm!!!!


__ADS_2