
"Kemana kamu, kak?" Lirih Canika.
Canika bergabung bersama yang lainnya. Dia melupakan sejenak tentang suaminya. Tapi, tetap saja. Pikirannya masih tertuju kepada suaminya.
"Ada apa, Cika?" Tanya Renata. Dia melihat adik iparnya itu banyak sekali melamun. Tidak mungkin rasanya jika dia tidak memikirkan sesuatu hal.
Canika menggelengkan kepalanya. Dia menatap ke arah kakak iparnya itu. "Aku tidak apa-apa, kak. Aku hanya pusing saja." Jawab Canika. Dia mengatakan kalau dirinya baik baik saja. Dan dia hanya pusing saja.
"Kamu yakin?" Canika menganggukkan kepalanya.
Kurang dari satu menit setalah semua orang bermain. Dan datanglah Wildan. Dia menyalami kedua mertuanya.
"Dari mana saja kamu, Wil?" Tanya pak Bram. Dia menanyakan dari mana saja menantunya itu. Pasalnya dirinya juga mengetahui kalau hari ini tidak ada rapat apapun.
"Saya baru menengok ibu saya, tuan." Jawab Wildan.
Pak Bram mengerutkan keningnya. "Kenapa bahasamu masih formal seperti itu?"
Melihat papa dan suaminya. Canika bergegas menghampiri suaminya. "Pah, mungkin mas Wildan masih belum terbiasa." Bela Canika. Dia tersenyum manis ke arah Wildan.
__ADS_1
Tidak ada respon apapun dari pak Bram. Dia hanya menatap ke arah putri dan menantunya itu secara bergantian.
Wildan merangkul Canika. Dia mengecup pipi Canika dihadapan semua orang. "Maafkan aku, pah. Aku masih belum terbiasa."
"Hmmm, ya. Sana bersihkan dirimu. Dan bergabunglah dengan kami."
Wildan menganggukan kepalanya. Dia mengajak istrinya itu untuk mengikutinya.
Saat sudah berada di dalam kamar. Wildan melepaskan rangkulan itu. Dia menatap ke arah Canika. "Jangan salah paham dengan tingkah saya, tadi. Saya hanya tidak mau tuan Bram dan tuan Rey salah paham."
Deg.
Dengan tersenyum getir. Canika menganggukan kepalanya. "Tenang saja, kak. Aku juga tidak menanggapi perlakuan kakak tadi." Canika menghembuskan nafas kasar nya. "Aku akan menyiapkan air hangat untuk kakak." Canika masuk ke dalam kamar mandi. Dia menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Tes...
Air mata yang sendari tadi ditahan oleh Canika. Kini turun begitu saja. Rasanya tidak sanggup, hatinya sungguh sesak. "Apa ini yang dinamakan dengan cinta bertepuk sebelah tangan? kenapa rasanya sungguh sakit!"
Setelah selesai menyiapkan air hangat untuk suaminya. Canika keluar dari kamar mandi, dia menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Airnya sudah siap. Silahkan, kak." Setelah mengatakan itu. Canika bergegas pergi dari kamarnya. Ralat, tapi kamar suaminya. Ahh!! kenapa!!
Ingin rasanya dia berteriak keras. Tapi rasanya tidak bagus. Canika saat ini sedang bersama keluarga nya. Dia tidak mau keluarganya itu malah memikirkan nya.
"Maaf ya lama." Canika menarik kursinya. Dia bergabung dengan yang lainnya. Tak lupa juga dengan Wildan yang ikut serta bersama Canika.
Dengan telaten nya Canika menyajikan makanan untuk suaminya itu. Perlakukan yang sama dilakukan oleh Renata dan juga mama nya.
Melihat itu. Pak Bram terdiam. Dia melihat sosok lain dari dalam putrinya. Dia sungguh tidak menyangka kalau putri kecilnya itu sekarang telah menjadi seorang istri.
Mereka semua makan malam dengan hening. Tidak ada percakapan apapun. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu saja.
"Sepertinya. Kalian harus secepatnya mempunyai anak." Ucap Pak Bram. Dia menatap ke arah Canika dan Wildan.
Deg.
...----------------...
Aku punya rekomendasi novel nih. Yuk mampir:
__ADS_1