
Anna, Dewi, Dan Tiara. Mereka bertiga mengunjungi kediaman Mohana. Tentunya mereka bermaksud ingin bertemu dengan twins D.
Keempat bujang Renata Dan Rey, Benar-benar membuat orang akan terpesona. Masih kecil tapi memeliki pesona yang sungguh sangat menggoda.
"Ren, Dimana Dhanesh??" Tanya Anna yang mencari keberadaan baby gemoy itu.
"Dhanesh lagi istirahat." Jawab Renata sambil membenahi kasur yang akan dijadikan perkumpulan baby nya.
Ketiga suster menghampiri Renata, Tentunya dengan ketiga baby twins. Darriel, Danniel, Devans.
Dewi langsung mengambil alih Darriel, Entah kenapa dia jatuh dalam pesona baby kecil ini.
Tiara dan Anna mengambil baby Danniel dan Devans.
Mereka bermain bersama, Lebih tepatnya mengganggu tidur nyenyak ketiga baby itu.
"Aaa... Aku ingin baby juga.. Apa perlu aku menampung bibit unggul seperti ini?" Anna merengek ingin mempunyai baby seperti baby Devans. Pesona sang bungsu, Benar-benar ahh!!!
Tuk!
Dewi menjitak kening lebar Anna, bisa-bisanya Anna berbicara seperti itu.
"Aduh.. Sakit Dewi!!" Ringis Anna mengusap keningnya.
Renata dan Tiara tertawa kecil, Dia tak bisa berpikir bisa-bisanya Anna berbicara seperti itu.
"Nikah dulu Anna, Emang kamu pikir hamil itu gampang?"
"Iya, tuh. Dengerin!" Timpah Tiara sambil memangku baby Danniel.
Anna memutar bola matanya malas, Mereka berempat dilanjutkan dengan mengobrol ringan.
__ADS_1
gerakan tangan Dewi terhenti saat melihat sosok pangeran yang melintas dihadapannya.
"Tutup mulut kamu Dewi! nanti Darriel terkena virus mu!" Ucap Anna yang mengundang gelak tawa.
Dewi mengeram kesal, Dia mengalihkan pandangannya. "Siapa, sih itu?" Tanya Dewi.
Renata mengikuti arah pandang Dewi, "Oh, Itu? Itu sekertaris mas Rey. Namanya, Wildan." Jawab Renata.
"Wildan? Nama yang bagus seperti orangnya..." Gumam Dewi sambil menatap ke arah Wildan.
"Ah, Iya. Apa dia sudah menikah?" Bisik Dewi kepada Renata.
Renata mengangkat pundaknya, Dia tidak tahu status Wildan saat ini. "Sepertinya belum, Memangnya kenapa?" Tanya balik Renata.
"Oh, Apa kamu..." Renata mengangkat halisnya.
Dewi menyenggol lengan Renata, Renata yang melihat itu dia hanya tertawa kecil.
"Nanti akan aku bantu," Sambung Renata.
Renata menganggukkan kepalanya.
"Ahhh... makasih..."
Anna dan Tiara yang melihat itu, Mereka hanya menatap satu sama lain.
Wildan yang sendari tadi mendapatkan tatapan dari sahabat istri Tuannya, Sejujurnya dia cukup risih.
"Apa sudah tuan?" Tanya Wildan.
Rey mengerutkan keningnya, "Kenapa??"
__ADS_1
Wildan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja aku ada urusan sedikit."
"Yasudah, Sana pergi."
Wildan berpamit pergi, Namun saat hendak keluar dari mansion. Lagi dan lagi dia bertabrakan dengan Canika. Adik, Tuanya.
"Aushh!!" Rintih Canika saat keningnya membentrok dada bidang seseorang.
"Kal..."
Deg.
Ucapan Canika terhenti saat melihat siapa sosok yang ada di hadapannya.
Gluk!
Canika menelan air ludahnya dengan susah payah, Bisa-bisanya dia hampir memarahi Wildan. sekertaris kakaknya itu.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Wildan dengan tatapan datarnya.
Spontan hati Canika langsung maraton, Melihat tatapan Wildan sungguh membuatnya tidak bisa bernafas.
"A-aku.. A-aku.." Lidah Canika mendadak kelu, Dia sungguh tidak bisa mengucapkan apapun lagi.
Saat hendak mengucapkan kata lagi, Terlebih dulu Renata memanggilnya.
"Cika, Tumben kamu kesini??"
Kontak mata Canika Dan Wildan terputus, Wildan langsung pergi dari hadapan Canika.
Canika menghampiri kakak iparnya itu, Dia menyalaminya. "Hehe, Iya kak. Aku pusing dirumah, Emm jadi ke sini deh.." Jawab Canika.
__ADS_1
Renata tertawa renyah, "Eumm.. apa karna dia?" Renata mengangkat halisnya.
"Kakak!!" Pekik Canika, Dia sungguh malu!"