
Canika tersenyum getir saat melihat raut wajah kaget suaminya. Dia merasa kalau dirinya adalah wanita yang paling bodoh karna dia mau saja memainkan drama yang pada akhirnya akan menyakiti hatinya.
Rencana Canika yang awalnya ingin membuat Wildan mencintainya. Namun ternyata salah, kehamilan ini tidak bisa merubah sosok Wildan.
Canika menggelengkan kepalanya. Dia menyeka air mata yang lolos begitu saja.
"Stop! jangan maju, kak!" Teriak Canika saat Wildan yang hendak menghampirinya.
Wildan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Can! ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa menjelaskannya!"
"Cih, tidak seperti yang aku lihat? apa hah? kamu pikir aku buta? dengan kalian berpelukan seperti itu, apa lagi yang di salahpahamkan?"
Canika melirik sinis ke arah wanita berkerudung itu. "Miris sekali anda, nona. Anda wanita yang berkerudung, tapi kenapa perlakuan anda seperti itu? ja-lang berkedok kerudung!"
Plak!
Wildan melayangkan tamparannya ke wajah cantik Canika. Dia tanpa sadar tersurut emosi saat mendengar kata ja-lang keluar dari mulut Canika.
"Ca?" Wildan menggenggam tangannya yang baru saja menampar wajah cantik istrinya.
Tidak pernah terbayangkan kalau kejadian seperti ini akan terjadi dalam rumah tangga Canika. Dia baru saja mendapatkan tamparan keras dari suaminya sendiri.
"Aku membencimu, Wildan!" Dengan menggenggam pipi yang baru saja di tampar oleh suaminya. Canika berlari ke arah berlawanan. Dia berlari sambil menangis.
__ADS_1
Seketika itu juga Wildan menjadi panik. Dia panik saat tersadar kalau kondisi istrinya itu sedang hamil.
Wanita berkerudung itu meminta Wildan untuk mengejar istrinya. Dia sadar akan posisinya. Dia juga salah karna perlakuan tadi, membuat rumah tangga seseorang menjadi berantakan.
Wildan berlarian sambil melihat ke sekelilingnya. Dia mencari keberadaan istrinya. Hati Wildan menjadi gelisah memikirkan Canika.
"Cika, kamu dimana?" Lirih Wildan. Dia mencoba menghubungi ponsel Canika, tapi tidak bisa terhubungi.
"Damn!" Wildan mengeram kesal saat jalanan terhalang oleh warga yang berkumpul. Sepertinya terjadi kecelakaan.
"Permisi, pak. Ada apa ini, kenapa semua orang berkumpul?" Tanya Wildan ke pada salah satu orang yang berada di sekitar situ.
"Oh, ini pak. Ada korban tabrak lari,"
Jantung Wildan mendadak berdetak kencang saat melihat kain baju yang dikenakan oleh istrinya, terlihat di sela-sela kerumunan orang.
Wildan mencoba berpikir positif, mungkin saja itu orang lain yang kebetulan memakai pakaian yang sama dengan istrinya.
Wildan menerobos kerumunan itu, dia berdesakan dengan orang-orang untuk melihat siapa korban kecelakaan itu.
DUAR!
Bak tersambar petir. Wildan sungguh terkejut saat melihat siapa yang menjadi korban tabrak lari itu.
__ADS_1
"TIDAK!!!" Teriak Wildan. Dia menerobos semua orang, yang kini dia berada di tengah-tengah kerumunan bersama istrinya.
Wildan menggelengkan kepalanya saat melihat da-rah yang keluar dari sela-sela kaki Canika. Wildan menepuk-nepuk pipi Canika.
"Tidak, sayang! bangun!" Wildan mencoba menyadarkan istrinya itu. Tanpa sadar, air matanya menetes. Dia menangis sambil memeluk istrinya.
"Panggilkan ambulance, sialan!" Teriak Wildan dengan raut wajah murka nya.
Tak lama kemudian, sebuah ambulance datang dan langsung membawa Canika dengan Wildan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Wildan terus berteriak agar ambulance ini berjalan dengan kencang. Dia tidak mau istrinya mengalami hal buruk.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepada istriku! kalian yang akan saya cari!" Ucap Wildan sebelum membawa Canika ke dalam ambulance.
Semua orang yang berkerumun tadi, seketika menjadi kaget dan takut saat mengetahui kalau korban itu adalah anak seorang CEO terkenal dan adik dari CEO MHN GROUP.
"Aku mohon bertahanlah sayang," Wildan menggenggam erat pergelangan tangan Canika.
...----------------...
Hay, semuanya. Yuk mampir ke sini juga!
__ADS_1