TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
EPISODE 72


__ADS_3

Kurang dari 15 menit, Wildan keluar dari kamarnya yang sudah lengkap dengan setelan kantornya.


Dengan senyuman yang mengembang, Canika menyambut suaminya. "Suamiku sungguh tampan." Ucap Canika sambil membenarkan dasi suaminya. Dia mempersilahkan suaminya itu untuk duduk.


Canika menyajikan masakannya untuk suaminya. Dia merasa senang karna pakaian yang dia siapkan, dikenakan oleh Wildan.


"Makanlah, mas."


Wildan perlahan mulai memakan masakan Canika. Untuk pertama kalinya, dia memakan masakan istrinya. Karna jujur, Wildan tidak pernah merasakan masakan istrinya. Atau lebih tepatnya, dia menjauh dari masakan istrinya itu.


Damn!


Dugaan Wildan selama ini sangat salah, masakan yang dimasak oleh Canika, sungguh lezat. Tidak ada yang bisa Wildan katakan sekarang, dia langsung melahap semua masakan yang dibuat oleh istrinya.


Melihat itu, Canika sungguh terharu. Baru kali ini masakannya tidak sia-sia. "Terimakasih, kak. Terimakasih karna sudah berpura-pura seperti ini."


Setelah selesai makan. Wildan memuji masakan istrinya. Masakan yang sama persis seperti ibunya. "Kamu hebat sayang, terimakasih ya."


Cup.


Wildan mengecup kening Canika. "Aku berangkat kerja dulu, kamu hati-hati disini ya? kalau ada apa-apa, langsung kabari aku?"


Canika menganggukan kepalanya. "Iya, mas."

__ADS_1


Wildan berjongkok tepat dihadapan perut Canika. "Hay, baby. Jaga bunda kalian ya? jangan rewel!"


"Baik, ayah!" Jawab Canika sambil menirukan suara anak kecil.


Tentu saja itu membuat Wildan tertawa. Dia mengusa kepala istrinya. "Aku pergi ya?" Wildan mengecup kening Canika.


Canika mengantarkan suaminya sampai di parkiran. Dia menyalami tangan suaminya.


Saat baru selangkah Wildan melangkahkan kakinya. Canika terlebih dulu memanggilnya.


"Mas!"


Wildan langsung menoleh ke arah istrinya. "Ada apa, sayang?"


"Kapan?"


"Mungkin nanti sore,"


"Baiklah, kabari aku ya?"


Wildan menjalankan mobilnya. Dia keluar dari area apartemen. Canika melambaikan tangannya saat suaminya itu mulai menghilang dari pandangannya.


"Andai saja ini kenyataannya, mungkin aku akan menjadi wanita yang beruntung karna bisa mendapatkan suami sepertimu, mas." Lirih Canika. Dia kembali ke dalam apartemennya.

__ADS_1


Sedangkan itu, di sisi lain yang tepatnya di sebuah rumah sederhana. Terlihat seorang wanita yang menggunakan kerudung hitam, sedang menangis sambil memeluk sebuah foto.


Wanita berkerudung itu menangis sambil menyebut sebuah nama. Entah nama siapa, tapi yang jelas. Terlihat sebuah foto yang dimana disitu adalah masa sekolahnya dulu, foto dirinya dan seorang laki-laki.


"Kenapa kamu tega, kak? kamu sudah berjanji untuk menjadikanku sebagai yang pertama dan yang terakhir, tapi sekarang? kamu justru malah sudah menikah... hiks.. kenapa takdir yang Allah berikan sungguh sakit? aku tidak mau kehilanganmu, kak! kamu hanya milikku!" Ucap Wanita itu sambil menangis.


Kembali lagi ke Wildan dan Canika.


Sepanjang perjalanan, Wildan hanya melamun. Pikirannya kini sungguh tidak bisa diajak kerja sama, di sisi lain pikirannya selalu terputar dengan adegan pagi tadi.


Tapi di sisi lain, pikirannya tertuju dengan seorang wanita yang dia cintai.


"Damn! kenapa harus seperti ini!"


Dia mungkin akan menjadi suami yang berdosa, suami yang durhaka. Dia mengingat kembali dengan posisi ibunya yang merasakan hal yang sama seperti Canika.


"Maafkan aku, Bu. Maaf jika suatu saat aku menyakiti perasaanmu, aku sudah tidak bisa lagi. Mungkin sampai bayi itu lahir, baru aku akan menceraikannya." Lirih Wildan.


Tanpa sadar, air matanya ikut menetes.


...----------------...


Hay, salam hangat. Yuk mampir juga ke novel temenku!

__ADS_1



__ADS_2