
"Oh, iya. Can, gimana kalo lu nginep aja di tempat gua? kebetulan orangtua gua lagi ke luar kota."
Canika terdiam sesaat sahabatnya itu menawarkan dirinya untuk menginap di rumah sahabatnya itu.
"Boleh, tapi..." Canika menundukkan pandangannya. Dia lupa kalau saat ini dirinya sudah mempunyai suami.
Imel tersenyum. "Udah, kalo itu biarin gua aja yang bilang," Ucap Imel.
Canika menganggukan kepalanya. Dia ikut masuk ke dalam mobil sahabatnya itu. Sepanjang perjalanan, hati Canika mendadak gelisah. Dia gelisah karna takut wanita yang dicintai suaminya itu berani menginjakkan kakinya di apartemennya.
"BERHENTI!" teriak Canika.
Cit...
Imel menginjak rem mendadak. Dia sungguh terkejut dengan suara sahabatnya itu. "Astaga, Cika! lu ampir aja nyelakain orang lain!" Bentak Imel.
"Maafin gua, Mel. Tapi kayanya gua gak jadi nginep di rumah, lu. Gua duluan pulang ya." Canika turun dari mobilnya Imel.
"Cika! Astaga!" Imel tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Bisa-bisanya dia turun di tengah jalan raya seperti ini.
Tapi saat melihat sahabatnya itu sudah masuk ke dalam taksi, Imel sedikit lega. Dia kembali menjalankan mobilnya.
Sesampainya di apartemen. Canika mulai masuk ke dalam kamarnya. Dia bernafas lega saat melihat tidak ada siapa-siapa di dalam apartemen nya.
Canika langsung membersihkan dirinya. Canika keluar dari kamarnya. Dia menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.
"Dari mana saja, kamu?"
Prang!
__ADS_1
Gelas yang berada di tangan Canika, terjatuh saat dirinya terkejut dengan suara bariton dari arah belakang tubuhnya.
Lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang sudah berada di belakang tubuhnya itu. "Ka-kak?" Lirih Canika.
Dengan tatapan yang tajam. Wildan menatap ke arah Canika. "Aku bertanya. Dari mana saja kamu?"
"A-aku... aku..."
"Jawab yang jelas!" Sentak Wildan.
Canika memejamkan matanya saat mendengar suara keras seperti itu. Sendari kecil, dia tidak pernah dibentak ataupun diperlakukan seperti itu oleh ayah dan kakaknya. Tapi kini? suaminya justru malah sering membentaknya.
"Dari cafe." Jawab Canika dengan menundukan pandangannya.
"Tatap wajahku!" Wildan menangkup kedua pipi istrinya. Dia menatap tajam ke arah istrinya. "Bukannya aku sudah bilang? aku akan menjemputmu! tapi kenapa kamu malah pergi, hah?!"
"Beraninya kamu!" Wildan mengangkat tangannya yang hendak melayangkan tamparan kepada istrinya.
"Sudah, cukup!" Teriak Canika.
"Cukup, kak! aku sudah capek!" Air mata yang sendari tadi di tahan olehnya. Kini lolos begitu saja. "Kamu mau menamparku, kak? tampar kak, tampar!" Canika menunjukkan pipinya untuk ditampar oleh suaminya.
Akan tetapi. Wildan hanya terdiam diri. Dia tidak mengulurkan sepatah katapun lagi. Dia juga menurunkan tangannya.
"Kenapa? kenapa kamu tidak jadi menamparku?" Tanya Canika dengan tatapan sendu nya.
"Sakiti aku secara fisik juga, kak! biar penderitaanku semakin bertambah!"
"Apa aku tidak boleh berkumpul dengan teman-temanku? aku hanya pergi ke cafe untuk menemui mereka, kenapa justru kamu malah marah seperti ini? ada apa, kak? apa kamu hanya ber'acting untuk membuat aku menyerah dan pergi darimu?"
__ADS_1
"Hiks, kamu (Canika menunjuk ke wajah suaminya.) apa pernah kamu memperdulikan perasaanku? istrimu sendiri? dengan kamu berteriak keras seperti itu, apa kamu memikirkan perasaanku?" Lanjut Canika.
Canika berbicara panjang kali ini. Dia mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hatinya. Rasanya sungguh tidak sanggup lagi menahannya.
"Sudah cukup, kak! sudah cukup aku bersabar, aku cukup sabar menerima semua sikapmu. Andaikan saat itu kamu tidak menuruti permintaan kakakku untuk menolongku, semua ini tidak akan terjadi, kak!"
"Tapi apa? kamu yang menurutinya dan kenapa aku yang harus kamu salahkan? semuanya terjadi begitu saja, aku juga tidak mau berada di dalam situasi saat ini. Jika aku mengetahui kamu sudah mempunyai wanita lain, aku akan menyerah terlebih dulu kak!" sambung Canika.
Canika menarik nafasnya. "Yang kamu perdulikan hanyalah wanita itu, wanita yang tidak jelas asal-usulnya!"
Plak!
Wildan tanpa sadar melayangkan tamparan ke wajah cantik istrinya. Dia menatap tidak percaya saat dirinya itu menampar istrinya.
Bukannya menangis, justru Canika malah tertawa renyah. "Bagus, ini kan yang kamu mau dari tadi? menamparku untuk menyadarkan siapa diriku,"
"Ti-tidak! ma-maafkan, aku." Lirih Wildan. Dia memeluk Canika.
"Lepaskan, aku!" Canika melepaskan dirinya sendiri dari pelukan suaminya.
Canika menatap ke arah lain.
"Talak aku!"
...----------------...
Hallo, semuanya. Aku punya rekomendasi novel buat kalian nih, yuk mampir juga👇
__ADS_1