TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 46


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari Wildan. Sungguh langsung membuat rahang Rey mengeras. Dia sungguh marah karna ternyata laki-laki yang menjadi kekasih adiknya itu telah menyakiti adiknya.


Brak!


Rey menggebrak meja. Dia tidak terima. Dia menatap tajam ke arah Wildan. "Kamu tau apa yang harus kamu lakukan, bukan?"


Wilda menganggukan kepalanya. Dia sudah tau dengan apa yang dimaksud oleh tuannya itu. "Tau, tuan."


"Bagus. Segera berikan pelajaran kepada bocah tengik itu. Buat dia menyesal karna perbuatannya." Tegas Rey. Dia meminta Wildan untuk memberikan pelajaran kepada kekasih adiknya yang tak lain adalah Aldo.


"Baik, tuan. Kalau begitu saya pamit pulang." Wildan berpamitan pulang. Dia harus segera menjalankan perintah tuannya. Karna sepertinya Rey sungguh marah.


"Kenapa hatiku juga ikut sakit?" Lirih Wildan. Dia menggelengkan kepalanya dan langsung bergegas pergi.


Rey juga ikut keluar dari ruangannya. Dia bergegas langsung naik ke lantai atas untuk melihat kondisi adiknya.


"Bagaimana?" Tanya Rey.


"Nona Canika, baik-baik saja, tuan. Dia hanya butuh istirahat yang cukup saja." Jawab dokter setelah memeriksa kondisi Canika. Dia adalah dokter pribadi keluarga Mohana.

__ADS_1


"Terimakasih, dok." Sahut Renata. Dia berterimakasih kepada dokter yang mau datang ke mansion Mohana.


"Sama-sama, nyonya muda. Kalau begitu saya pamit pulang dulu." Ucap Dokter. Dia berpamitan pulang.


"Mari, saya anatar." Pak Bram mengantar dokter pribadi keluarganya itu sampai diteras mansion.


"Terimakasih karna anda sudah mau datang ke sini."


"Tidak perlu berterimakasih, tuan. Itu sudah menjadi tugas saya." Jawab Dokter.


Pak Bram berteriak memanggil supir. Dia meminta supir untuk mengantarkan dokter Ey.


"Antarkan beliau dengan selama sampai ke rumahnya."


Sedangkan itu di kamar Canika terlihat Rey, Renata, dan mama Widia, tengah menunggu Canika.


"Bagimana kondisi Cika?" Tanya Renata saat sudah kembali. Dia baru saja menidurkan Baby twins.


Mama Widia mendongakkan kepalanya. Dia menatap ke arah menantunya. "Panasnya masih belum turun." Jawab mama Widia.

__ADS_1


"Sudah, sebaiknya mama istirahat saja. Biar Canika aku dan mas Rey yang menjaga nya." Ucap Renata. Dia meminta mama mertuanya itu untuk beristirahat saja.


Mama Widia menganggukan kepalanya. Besok pagi dia juga harus menemani suaminya pergi ke luar kota. "Baiklah. Kalau. ada apa-apa, segera panggil mama."


Renata menganggukkan kepalanya. Dia mengantar mama mertuanya itu ke kamarnya.


Rey mengusap wajah cantik adiknya. "Maafkan kakak, kakak janji akan membuat Aldo menyesal." Lirih Rey.


"Ada apa sebenarnya, mas?" Tanya Renata saat sudah berhadapan dengan suaminya.


Rey menghela nafasnya. Dia menceriakan tentang apa yang sedang terjadi kepada Canika.


Renata menggelengkan kepalanya. Dia menutup mulutnya. "Astaga! bagaimana bisa dia melakukan seperti itu? Canika adalah wanita yang baik. Jauhkan laki-laki seperti itu dari Canika, mas."


Rey menganggukan kepalanya. "Semaunya sudah di urus oleh Wildan. Kita tunggu saja kabar dari Wildan.


Rey memeluk tubuh Renata. Dia terlelap karna mungkin kelelahan.


Renata menggenggam tangan Canika saat melihat raut wajah sedih dari Canika. "Syutt.. tenang, sayang. Ini kakak." Gumam Renata. Dia menggenggam erat tangan Canika.

__ADS_1


Setelah memastikan Canika tertidur kembali. Dia juga ikut memejamkan matanya.


Canika membuka matanya saat merasakan ada yang menggenggam tangannya. Dia melirik ke samping yang terlihat ada kakak iparnya yang sedang menggenggam tangannya.


__ADS_2