
Setelah mendapatkan titik lokasi yang di kirimkan Alika, Rega segera meluncur cepat menuju tempat itu. Kurang dari dua puluh menit mereka sudah sampai di lokasi.
Rega dan Inder dibuat tercengang begitu sampai disana. Bagaimana tidak? Mereka disambut oleh kerumunan warga yang berteriak-teriak bagaikan mahasiswa yang tengah berorasi dalam demo turunkan harga sembako.
Cukup panik, hingga otaknya tak bisa berpikir untuk mencerna situasi yang sedang terjadi, tapi berbeda dengannya Inder sang sahabat justru bergerak cepat merangsek ke tengah kerumunan warga dan berbicara dengan lantang membela wanita yang menjadi alasan berkumpulnya warga di situ.
Wanita itu adalah Queenza, asisten sekaligus gadis yang dicintai Inder, hingga membuat lelaki itu berani melawan seluruh warga yang jumlahnya puluhan itu.
Dengan lantang membela wanitanya yang kini tengah di fitnah dan sebagai pelakor sekaligus simpanan dari seorang pengusaha muda yang cukup terkenal di kota ini.
Rega berdecak kagum saat pria itu mampu membungkam mulut-mulut yang tadi tak henti menyerang wanita malang itu dengan sederet hinaan juga cacian.
Sahabatnya itu memang pantas mendapatkan piala aktor terbaik, yang baru saja di sandangnya sebab aktingnya yang memukau tak hanya di layar kaca tapi kini juga mampu menghipnotis puluhan warga saat dengan lantang ia memproklamirkan sebagai calon suami Queenza. Gadis malang yang kini sedang di terpa hujatan.
Ucapan sahabatnya itu langsung di percayai oleh seluruh warga, apalagi di dukung kedatangan pria gagah yang yang di gosipkan sebagai si pemilik villa yang juga menyanggah semua tuduhan atas dirinya dan Za.
Alhasil semua warga diminta membubarkan diri, meski sebagian dari mereka masih berkasak-kusuk merasa tidak puas dengan penjelasan yang di berikan.
"Lo harusnya dapetin piala oscar, Bro! Semua orang sampai gak bisa menyangsikan pengakuan lo!" Ucapnya yang hanya di tanggapi gelengan kepala oleh Inder.
Pria itu justru terpaku pada punggung wanita yang kini menjauh dan masuk ke dalam vila mewah itu.
"Udah, sekarang dia udah aman." ucapnya.
Inder mengangguk, "Kita balik besok, aja Ga! Telpon Bunda bilang aja kita nginep di lokasi syuting." Ucap Inder seraya berlalu pergi.
__ADS_1
Rega berdecak, sahabatnya itu selalu saja seenaknya jika sudah menyuruh sesuatu, ia tak pernah tahu jika dirinyalah yang akan kewalahan di berondong dengan banyak pertanyaan oleh Bundanya.
🌺🌺🌺🌺
Malam yang mulai merangkak naik membuat Rega mulai sibuk mencari pakaian yang lebih tebal untuknya dan juga Inder, suasana pegunungan yang lebih dingin membuat udara yang masuk terasa menusuk hingga ke tulangnya.
"Hei!" panggilan seseorang dari arah belakangnya membuatnya menoleh.
Wajah cantik alami tanpa polesan make up itu tersenyum manis hingga menampilkan giginya yang putih. "Untukmu dan Inder." Ucap gadis itu seraya memberikan dua selimut cukup tebal padanya.
"Kalian bisa tidur di kamar sebelah sana! Terima kasih karena sudah datang dan menyelamatkan sepupuku." Ucapnya lagi terdengar begitu merdu di telinganya.
Rasanya seperti mimpi bisa mendengarnya berbicara dengan nada lembut seperti ini, selama ini mereka selalu bertemu dalam keadaan yang kurang baik dan selalu bersitegang.
Rega menggeleng, "Ya, sory." Ucapnya. "Bisa tolong cubit tangan gue?" imbuhnya membuat wanita di depannya bingung.
"Untuk apa?"
"Hanya untuk bikin gue yakin, kalau gue gak lagi mimpi bisa ngobrol normal begini sama lo!" ucapnya.
Alika memutar bola mata seraya menghembuskan napasnya kesal, "Kau pikir aku ini tidak bisa bicara dengan normal?"
Rega terkekeh, "Tapi selama ini memang begitu, kan? Kita selalu bicara dengan nada tinggi, dan kau selalu ketus padaku." Keluhnya.
"Itu karena kau yang selalu menyebalkan!" ucap Alika tak mau kalah.
__ADS_1
"Oke. Gue minta maaf kalau begitu." Ucap pria itu.
"Untuk?"
"Karena selalu menyebalkan bagi lo," Ucap Rega lagi seraya mengulurkan tangannya. "Tapi setelah ini bisakah kita jadi teman?"
Sekali lagi Alika memutar bola matanya, bagi dirinya ucapan Rega hanya modus belaka. Entah sudah berapa wanita yang termakan rayuannya dengan cara seperti ini. Pikirnya.
Alika mengabaikan uluran tangan pria itu dan menyerahkan selimut di tangannya. "Ini selimutmu, dan kamar kalian di sebelah sana." ucapnya seraya berbalik melangkah pergi meninggalkan pria itu.
"Hei, Nona! Tawaran pertemananku?" tanya Rega setengah berteriak.
Alika menoleh, lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak berteman dengan pria!" ucapnya.
"Tapi aku sudah membantumu dan juga sepupumu."
Alika mendengkus, ia kembali menghampiri pria itu, "Aku sudah berterima kasih, apa itu tidak cukup? Aku bahkan memberikan kalian selimut, dan tempat untuk bermalam sebagai ucapan terima kasihku," Ucapnya kesal. "Apa kau tidak ikhlas menolong kami?" ujarnya lagi dengan nada yang naik dua oktaf.
Rega menggeleng, "Aku ikhlas. Tapi..."
"Kalau begitu, jangan meminta apapun lagi, " Ujar gadis itu sebelum kemudian berlalu pergi.
Kening Rega berkerut sembari menatap punggung wanita itu, ia masih bisa mendengar gerutuan dari bibir gadis itu, baru kali ini seorang wanita menolak ajakan berteman darinya, pria itu tersenyum, jiwa lelakinya justru merasa tertantang untuk menaklukan si gadis.
"Dia harus jadi wanitaku!" Gumamnya bersemangat.
__ADS_1