
Beberapa hari kemudian.
Setelah terdiam beberapa hari di apartemen Gio. Aulia kini sudah berada di apartemen barunya.
Aulia memulai hidup barunya. Dia tidak ingin merepotkan Gio. Apalagi saat ini Gio sedang banyak pasien. Ya, Prosesi Gio adalah seorang dokter.
"Apa tidak apa-apa, Sayang?" Tanya Gio. Dia khawatir saat meninggalkan kekasihnya sendiri di apartemen nya.
Aulia menganggukan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa. Lagian kenapa juga kan?"
Gio menghela nafasnya. Dia cukup kesal karna Aulia tidak mau ikut bersamanya ke Indonesia.
"Sebaiknya kamu ikut bersamaku saja? Aku tidak mau terjadi sesuatu lagi padamu."
"Sayang.." Aulia menangkup kedua pipi Gio. Dia melihat raut wajah Gio yang terlihat mengkhawatirkannya. "Tidak akan ada terjadi apa-apa, sayang. Percayalah." Lanjut Aulia. Dia meyakinkan Gio untuk tetap pergi ke Indonesia tanpa dirinya.
Bukan tanpa alasan. Aulia menolak ajakan Gio karna dirinya tau, jika ia ikut pergi ke Indonesia. Yang ada nanti malah muncul beritanya lagi.
Gio menghela nafasnya. "Baiklah. Tapi janji padaku? Jika terjadi sesuatu, Langsung telpon aku?" Aulia menganggukan kepalanya.
Setelah berpamitan cukup lama. Gio akhirnya pergi dari apartemen Aulia. Dia pergi tentunya setelah memastikan keamanan kekasihnya. Gio tidak mau ambil resiko lagi.
"Ingat pesanku. Jangan menerima tamu siapapun. Dan jika ada apa-apa, segera kabari aku?"
Cup!
Gio mengecup kening Aulia. Rasanya berat sekali dia berpisah dengan kekasihnya. Rasanya sungguh aneh, Dia juga tidak mengetahuinya.
Aulia tersenyum manis. Dia mengalungkan tangannya ke leher kekasihnya. "Aku akan baik-baik saja. Selagi masih ada kamu, kita semua akan baik-baik saja."
Gio merangkul pinggang Aulia. Dia mengecup kening Aulia beberapa kali. "Baiklah. Hati-hati disini hmm? secepatnya aku akan kembali."
Aulia mengantarkan Gio sampai di lobby. Dia melambaikan tangannya saat mobil Gio perlahan mulai pergi.
Aulia tersenyum manis. Setidaknya kini dia sudah merasakan sedikit tenang. Bukannya dia risih kepada Gio, Hanya saja respon keluarga Gio sungguh menyakitinya. Dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh keluarnya ataupun keluarga Rey. Tapi sekarang? Dia justru diperlakukan demikian, padahal belum terikat apapun.
"Kenapa rasanya aku merindukannya?" Gumam Aulia. Hatinya seakan langsung merindukan sosok Gio. Memang benar kalau Gio telah berhasil menguasai hatinya.
Aulia tertawa kecil saat mengingat bagaimana pertama kali dirinya bertemu dengan Gio. Dan usaha Gio yang mencoba mendekatinya. "Astaga... Ternyata dia secinta itu padaku?" Lirih Aulia. Dia menggelengkan kepalanya saat membuka buku diary Gio yang sengaja dia simpan.
1.
Teruntuk calon wanitaku.
kenapa saat pertama kali bertemu denganmu, hatiku rasanya langsung bergetar. Getaran cinta yang tidak pernah aku rasakan. Wajahmu mengingatkan bagaimana calon ibu dari anak-anakku nanti.
__ADS_1
Jika kita ditakdirkan bersama, apa kamu mau menjadi istriku? ahhh.. shiit! tapi sepertinya kamu sudah mempunyai suami atau pacar?
2.
Menciuummu
Sungguh. Hari ini sepertinya semesta sedang menduunhku. Dia sepertinya mengizinkan kita untuk bersatu, terasa bukan? aku berhasil menciuummu.
3.
Calon istriku.
Setelah melawati beberapa hari. Akhirnya kamu telah sah menjadi calon istriku. Astaga! aku singgah terkejut tapi bahagia. hahaha...
(Begitulah isi diary yang ditulis oleh Gio.)
Membaca itu membuat Aulia tak berhenti-hentinya tertawa. Dia sungguh tak menyangka jika Gio akan menjadi calon suaminya. Bocah kecil yang umurnya masih muda itu tapi sudah siap menjadikannya sebagai seorang istri.
Aulia menutup buku diary itu. Dia dengan perlahan beranjak dari duduknya.
"Aussstt..." Rintih Aulia. Dia merasakan perutnya kencang. Aulia mengusap perutnya. "Kamu merindukannya? Tahan sebentar ya, nanti kita akan bertemu lagi."
Perutnya seakan merespon perkataan Aulia. Kini tidak ada lagi keram ataupun kencang. Dia berjalan ke arah dapur.
Saat di dapur. Aulia tidak melihat sama sekali bahan masakan.
Ya, Aulia lupa membeli bahan masakan lagi. Dia lupa kalau hari ini dia belum membeli bahan masakan apapun. Ya karna saat itu dia masih dalam proses mual yang tidak bisa menghirup aroma-aroma dapur.
"Sebaiknya aku beli saja sendiri." Aulia naik ke kamarnya. Dia mengambil tas kecilnya dan mulai keluar dari apartemen.
Aulia berjalan dengan hati-hati. Dia masuk ke dalam lift. Saat sudah turun di lantai bawah, Aulia langsung berjalan menuju pusat perbelanjaan.
Aulia memilih beberapa bahan masakan. Tapin tatapan Aulia tertuju kepada seorang nenek-nenek yang terjatuh. Dia langsung bergegas menghampiri nenek-nenek itu.
"Oh astaga. Anda baik-baik saja?" Aulia membantu nenek itu untuk berdiri.
Nenek itu mendongakkan kepalanya. Dia menatap Aulia dengan wajah yang tersenyum manis. "Terimakasih, Nak. Terimakasih karna sudah membantu Nenek."
Aulia membalas senyuman nenek-nenek itu. "Sama-sama, Nek. Lain kali hati-hati, ya."
Setelah memastikan nenek itu masuk ke dalam mobilnya. Aulia kembali menuju toko. Namun saat hendak berbalik, Dia dikejutkan dengan sebuah motor yang melintas.
Aulia mengusap da-da nya. "Astaga."
Tanpa melihat ke arah lain. Aulia langsung bergegas berjalan maju, Tapi sebuah mobil jepp hitam langsung menabraknya.
__ADS_1
Brak!
"Aaaaaaghhh!!!" Teriak Aulia diiringi dengan teriakan semua orang yang melihat Aulia tertabrak.
Semua orang langsung bergegas mendekat ke arah Aulia.
Tatapan Aulia mulai buram. Dia merintih sakit di perutnya. "Anakku.." Lirih Aulia yang perlahan kesadaran nya mulai hilang. Aulia pingsan.
Sedangkan itu. Gio yang baru saja sampai di Indonesia, Dia langsung merasakan hatinya tidak tenang. Rasanya ada yang mengganjal dihatinya tapi dia juga tida mengetahui apa itu.
"Ada apa Gi?" Tanya teman kerjanya.
Gio menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sudah ayo jalan."
Gio dan temannya itu langsung menuju rumah sakit yang membutuhkan tenaganya. Ya, Gio dipindahkan tugas ke Indonesia untuk membantu beberapa pasien. Karna rumah sakit itu sendiri kekurangan dokter.
Saat sampai di rumah sakit. Gio langsung menangani pasien. Dia melupakan ponselnya yang terus berdering. Terlihat nama pemanggil itu adalah Aulia.
kurang dari 15 menit. Gio telah selesai memeriksa 2 pasien. Dia mengobrol sebentar dengan kepala rumah sakit.
"Gio?" Panggil seseorang.
Gio membalikan tubuhnya. "Ada apa?" Tanya balik Gio.
Bara memberikan ponselnya kepada Gio. "Ini ada panggilan."
Gio mengerutkan keningnya. Siapa yang menelpon ke ponsel Bara dan malah kepadanya? Gio mengambil ponsel Bara.
"Ha--"
Deg.
Betapa terkejutnya Gio saat mendengar suara yang cukup membuat hatinya berhenti berdetak. Dia terkejut saat mendengar sebuah kabar yang sungguh membuat raganya seakan langsung hilang.
"Tidak!!" Teriak Gio. Dia langsung berlari keluar dari rumah sakit.
Bara yang melihat itu, Dia langsung menyusul temannya. "GIO..."
"Tidak!!! Aulia ku baik-baik saja!! Tidak!!!"
----------------
Hay. Salam hangat dari author. Seperti biasa, Mohon dukungan dan support nya dari kalian semua untuk novel author.
LIKE+KOMEN+VOTE
__ADS_1
TEBARKAN BUNGA KALIAN 🌹🌹