
Rega hanya bisa menatap nanar punggung gadis yang sangat di cintainya itu. Ia berhenti berteriak memanggil pujaan hatinya.
Pecuma! Pikirnya.
Hati Alika sedang diliputi kesedihan dan rasa marah yang luar biasa karena sebuah kejadian menyakitkan yang sangat ia sesali. Dan disaat ia coba memperbaikinya, orang tuanya malah membuatnya semakin buruk dengan rencana pernikahan yang bahkan tak pernah ia ketahui.
"Ahhhhh!!" teriaknya melampiaskan semua rasa kesalnya. Semua ini sepenuhnya kesalahan dirinya hingga bisa terjebak dalam situasi rumit ini.
Hujan yang semakin menderas membuat hatinya kian pilu. Bahkan alampun seolah ikut bersedih bersamanya.
Rega memejamkan matanya semua kenangan bersama Alika mulai kembali berputar diotaknya.
Semua tentang gadis bernama Alika Aurora, gadis manis yang mampu menaklukan jiwa liarnya, satu-satunya gadis yang bisa membuatnya merasakan lagi manisnya jatuh cinta.
🌺🌺🌺🌺🌺
Alika menyuruh sopir taksi untuk melajukan kendaraannya, alih-alih langsung pergi ke bandara, ia justru menyuruh sopir memutar arah, mencari tempat untuk bisa melihat Rega dari jauh.
Ia melihat sendiri bagaimana terpuruknya pria itu, hingga membiarkan tubuhnya diguyur derasnya air hujan.
Ingin rasanya Alika kembali menghampiri pria itu, tapi ia urungkan hatinya sudah terlalu sakit karena penghianatan yang dilakukan lelaki itu.
"Rega!" Pekiknya seraya keluar dari taksi dan berlari mendekat saat melihat tubuh Rega ambruk.
"Ga, bangun!" ia berteriak kecil memanggil pria itu, namun tak ada respon.
"Pak tolong saya, bawa dia kerumah sakit!" Teriaknya meminta sopir taksi untuk menolongnya.
Sepanjang perjalanan, Alika tak melepas genggaman tangannya dari pria itu, ia berusaha menyalurkan kehangatan pada lengan pria itu yang terasa membeku.
Dia segera berlari meminta bantuan perawat agar Rega segera mendapat tindakan. Cukup lama ia menunggu saat dokter memeriksa keadaan Rega.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya saat dokter keluar dari ruang perawatan.
__ADS_1
"Kondisi pasien sudah berangsur normal, dia terkena dehidrasi dan juga hippotermia hingga membuatnya kehilangan kesadaran." Ucap dokter. "Tapi sekarang pasien sudah lebih baik, suhu tubuhnya sudah normal."
Alika menghela napasnya lega, "Terima kasih, Dok!" ucapnya.
"Sama-sama, Nona. kalau begitu saya permisi dulu."
Alika segera menghubungi Inder, memberitahukan keadaan Rega, tak sampai dua puluh menit pria itu sudah sampai di rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya, Al?" tanya pria itu.
"Dehidrasi, dan juga hippotermia." ucapnya. "Aku titip, dia ya Inder! Pesawatku akan berangkat setengah jam lagi, sampaikan maafku padanya karena tak bisa menunggunya siuman." Sambungnya datar.
Ia baru akan melangkah ketika suami dari sepupunya itu menjegal tangannya. "Aku tidak akan mencegahmu! Aku sangat mengerti bagaimana hancurnya perasaanmu dan juga orang tuamu! Tapi... apa kau tak bisa memberi Rega kesempatan setidaknya untuk mencari bukti bahwa apa yang terjadi tak seperti yang kalian lihat." Ucap Inder membuat Alika menatapnya.
"Maaf! Aku tak bermaksud membela Rega, tapi aku mengenalnya sejak kecil, dan aku tahu sejak bersamamu dia sudah berubah. Jika dia rela melepas semua haknya sebagai pewaris keluarganya demi kau, apa mungkin dia akan menghianatimu? Terlebih dihari pertunangan kalian." Imbuh pria itu lagi.
"Jika saja ini hanya menyangkut diriku, mungkin aku masih bisa memberinya kesempatan, tapi dia juga menghancurkan hati orang tuaku, dan bahkan saat orang tuaku masih bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya, orang tua Rega justru mempermalukan kami dengan sangat kejam."
"Maafkan aku Inder! Tapi aku tak bisa memaafkannya kali ini." Ucap Alika seraya melangkah menjauh.
"Aku sudah bilang padanya, aku yang akan menghubunginya, aku pergi dulu, Inder! Sampaikan salamku pada Za dan calon bayi kalian."
Inder hanya bisa menatap punggung Alika yang mulai menjauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Hari sudah berganti pagi ketika Rega membuka matanya, ia mengedarkan pandangan keseluruh ruangan serba putih itu.
"Ahh syukurlah lo sudah sadar! Sebentar gue panggil dokter dulu!" ucap Inder seraya beranjak meninggalkannya.
Rega memegangi kepalanya yang terasa pening, ia tak ingat mengapa bisa sampai diruangan ini, yang ia ingat semalam ia berada dijalan ditengah derasnya air hujan setelah bertengkar dengan Alika.
Alika? Ia masih berharap wanita itu membatalkan kepergiannya, dan memberinya kesempatan yang ia minta semalam.
__ADS_1
Seorang dokter beserta perawat datang bersama Inder yang mengekor dibelakangnya. Dokter memeriksanya secara keseluruhan, menanyakan apa yang ia rasakan saat ini lalu meresepkan obat.
"Kenapa gue bisa ada disini?" tanyanya pada sahabatnya setelah dokter pergi.
"Lo pingsan dijalanan! Gimana gak dibawa kerumah sakit!" Cibir Inder.
"Lo buntutin, gue?" tanyanya lagi penasaran, bagaimana bisa Inder menemukannya dijalan itu dan membawanya kerumah sakit.
"Kurang kerjaan banget gue harus buntutin lo!" Cibir sahabatnya.
"Lalu dari mana lo tahu gue pingsan disana?"
Rega melihat pria itu menghela napasnya. "Alika yang bawa lo kesini! Dia telpon gue, bilang kalau lo ada dirumah sakit, sedangkan dia harus pergi."
Rega tersenyum getir. "Jadi dia tetap pergi? Dia sama sekali gak niat kasih gue kesempatan!" desahnya. "Tapi setidaknya sekarang aku tau, kau masih perduli padaku." Sambungnya dalam hati.
Inder menepuk pelan bahunya. "Biarkan dia menenangkan dirinya sejenak, lebih baik lo pokus cari bukti sebelum nyokap lo benar-benar nikahin lo sama cewek itu. Masalah Alika kita bisa mencarinya nanti, jika dia jodoh lo sejauh apapun dia pergi dia pasti bakal balik lagi ke elo." Hibur Inder.
"Lo lihat gue!"ucap Inder. "Berapa tahun gue nyari Za? Tapi ....lo sendiri yang jadi saksi bagaimana Tuhan justru menyatukan kami dengan cara yang tak terduga."
"Dan Raja? Bertahun-tahun dia bersama Raisa, tapi jika memang bukan jodoh tetap saja mereka berpisah. Jadi percayalah jika Alika memang jodoh lo, dia pasti akan kembali." Ucap Inder lagi.
"Sejak kapan lo jadi bijak begini?" Cibir Rga, membuat sahabatnya itu tersenyum.
"Gue ini calon Daddy, jadi udah sepatutnya gue bijak. " Ucapnya percaya diri.
"Sekarang lebih baik lo makan dulu, atau apa perlu gue suapin" Goda Inder, seraya memberikan semangkuk bubur yang dibawa perawat tadi.
Rega menggeleng. "Gue bisa makan sendiri," Ucapnya.
"Ya sudah, gue keluar bentar buat telpon istri gue!" Ucap Sahabatnya lagi, yang ia angguki.
Rega hanya mengaduk-aduk bubur yang ada di tangannya itu. Pikiran dan hatinya masih saja dipenuhi penyesalan.
__ADS_1
Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, ia tak akan pernah membiarkan perempuan itu masuk kerumahnya dengan alasan apapun. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan kini ia hanya bisa menerima kenyataan bahwa sekali lagi ia harus kehilangan wanita yang ia cintai, dan kali ini ia bahkan harus kehilangan dengan cara yang menyakitkan.
Rega menatap wajah Alika yang berada di layar ponselnya. Bibirnya sedikit melengkung mengingat kembali bagaimana semua kisah ini berawal.