
Semenjak kejadian itu, Canika kini menjadi seorang pendiam. Tidak ada lagi raut wajah ceria dari wajah Canika. Dia terus mengurung dirinya di dalam kamar.
Melihat sikap adiknya yang berubah. Tentunya sebagai seorang kakak, Rey pasti mengkhawatirkan itu. Sudah berapa kali dia mencoba membujuk adiknya untuk membuka pintu kamarnya. Namun tetap saja, Canika tidak membukakan pintu kamarnya untuk siapapun. Kecuali baby twins.
"Huft..." Rey menghela nafas kasarnya. Dia menatap sendu ke arah istrinya.
Renata mengusap punggung suaminya. "Sabar, mas. Canika butuh waktu untuk menerima semua ini. Perlahan-lahan, dia pasti akan menerimanya." Tutur Renata. Dia mengajak suaminya itu pergi dari kamar adik iparnya.
Mama Widia menatap ke arah Renata seolah menanyakan "Bagaimana? Apa Canika mau turun?"
Melihat tatapan ibu mertuanya. Tentunya dia sudah paham, Renata menggelengkan kepalanya.
"Sudah, mah. Biarkan Canika menenangkan hati dan pikirannya. Dia butuh waktu." Ucap pak Bram sambil memeluk istrinya.
Sama hal nya dengan Canika, di sebrang sana tepatnya di sebuah apartemen elite. Terlihat seorang laki-laki yang tengah menangis dengan di kelilingi banyak nya barang-barang yang hancur olehnya.
Laki-laki itu menangis tersendu-sendu sambil memeluk bingkai foto pernikahannya dulu.
Siapa lagi kalau bukan Wildan? Ya, Wildan. Dia lah yang menjadi sosok laki-laki yang tengah menangis itu.
Semenjak kejadian itu, Wildan merasa kalau dirinya adalah orang yang paling bodoh di dunia. Dia telah menyia-nyiakan wanita sebaik Canika.
"Maafkan, aku..." lirih Wildan sambil mengusap foto Canika.
Sudah berapa kali Wildan mencoba untuk menemui Canika. Akan tetapi, melawan keluarga Mohana, bukanlah hal yang mudah.
Meskipun dia juga bisa menggunakan kekuasaannya. Tapi, Wildan tidak mau Canika semakin benci dirinya.
Melihat kondisi putra nya. Tari menjadi kasihan, dia juga menyesali akan apa yang di perbuat oleh anaknya. Namun jauh dari lubuk hatinya. Tari menginginkan Canika memaafkan dan mau menerima kembali Wildan.
Tari memeluk Wildan. "Kuatkan hatimu, sayang. Semua yang kita perbuat, pasti akan ada akibatnya. Dan sekarang? Lihatlah, kamu menerima akibat dari perbuatanmu sendiri."
"Maafkan aku bu.." Lirih Wildan yang tak mampu mengucapkan kata apapun lagi selain kata maaf.
Tari menangkup kedua pipi wajah anaknya. "Minta maaflah kepada Canika, bukan kepada ibu."
Tari menyeka air matanya. Dia memilih pergi dari apartemen anaknya itu. Entah apa yang ada dalam pikiran anaknya sampai dirinya bisa melakukan hal semenjijikan itu.
Membayangkan senyuman manis Canika saat memberitahukan kalau dirinya sedang mengandung cucu nya. Senyuman itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiran Tari.
__ADS_1
"Maafkan aku, mas. Aku telah gagal mendidik anak kita." lirih Tari memandang lurus ke depan.
Hari-hari terus berlalu. Sampai akhirnya Canika perlahan mau berinteraksi bersama yang lainnya. Dia mulai berbicara walaupun tidak banyak.
Perubahan Canika yang dibantu oleh dokter spesialis, membuat keluarga Mohana sedikit lebih tenang. Mereka tidak lagi mencemaskan kejiwaan Canika.
"Kamu sudah siap, nak?" Tanya mama Widia sambil memegang pundak anaknya.
Canika mendongakkan kepalanya. Dia menganggukan kepalanya.
Dengan perlahan-lahan, Renata dan mama Widia membantu Canika untuk berdiri.
Ketiga wanita cantik itu masuk ke dalam mobil yang menuju ke arah pemakaman.
Ya, saat ini Canika hendak melihat kuburan anaknya. Yang baru saja beberapa hari itu dia kandung.
Tes..
Tanpa sadar, air mata Canika kembali menetes saat melihat sebuah kuburan kecil yang masih lengkap dengan banyaknya taburan bunga.
"Anakku..." Lirih Canika. Dia turun dari mobil dan langsung menghampiri kuburan anaknya.
Di situ lah, Canika tidak mampu lagi menahan air mata nya. Dia menangis sambil memeluk kuburan anaknya.
Hati ibu mana yang tidak sakit saat melihat anak perempuan rapuh seperti itu? mama Widia merasakan sakit yang luar biasa, dia salah memberikan putrinya kepada laki-laki yang salah.
"Maafkan, mama..." Lirih mama Widia.
Tanpa mereka bertiga sadari, sendari tadi sepasang mata menatap ke arah mereka dengan tatapan sendu.
Terlihat jelas dari raut wajah nya yang tengah menangis. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk wanita yang tengah memeluk kuburan anaknya itu. Namun, banyak nya penjaga, membuat dirinya harus menunggu terlebih dahulu.
Setelah membacakan do'a untuk anaknya. Canika perlahan berdiri, saat hendak membalikan badannya. Terlebih dulu, seseorang di arah belakang berlari dan memeluknya.
Deg.
Tubuh Canika menegang saat mendengar suara yang pamiliar di telinganya. Lebih terkejut lagi saat merasakan pelukan hangat yang sudah lama tidak dia rasakan.
Canika menahan para pengawal yang hendak bergegas melindungi dirinya. Dia meminta pengawal, ibu dan kakak iparnya untuk meninggalkan sebentar.
__ADS_1
Canika membalikkan tubuhnya. Dia menatap ke arah laki-laki yang kini tengah menangis di hadapannya.
Dengan tangan mungil nya. Canika menyeka air mata yang keluar dari mata Wildan. Ya, laki-laki yang berlari memeluk Canika, adalah Wildan.
"Jangan menangis di hadapan makam anakku,"
Wildan memejamkan kedua matanya saat mendengar kata "Anakku,"
"Ma-maaf," Wildan memegangi kedua tangan Canika. "Temani aku bertemu anak kita," Wildan meminta Canika menemani dirinya untuk berziarah ke makam anaknya.
Canika mengangguk lemah, dia menemani Wildan untuk berziarah ke makam anaknya.
Wildan mengusap batu nisan anaknya. "Hallo, sayang. Papa datang... maafkan papa karna papa baru bisa menemuimu, maafkan papa, nak..."
Canika mengalihkan pandangannya. Jauh di dalam lubuk hatinya. Dia sungguh miris melihat perubahan dengan kondisi suami yang akan segera menjadi mantan suaminya itu. Sangat berbeda dari awal yang dia kenal.
Wildan menggenggam tangan Canika. "Lihatlah, nak. Papa membawa mama, dia sangat cantik bukan? dia bidadari, namun bodohnya papa malah menyia-nyiakan mama mu. Maafkan papa.."
Mendengar itu, Canika berdiri dari duduknya. Dia melepaskan genggaman Wildan. "Waktuku sudah habis, lepaskan!"
Bukannya melepaskan, justru Wildan malah menarik Canika ke dalam pelukannya. "Maafkan, aku... ku mohon.. maafkan aku.. aku sungguh tidak kuat, aku ti-tidak sanggup..." Tubuh Wildan ambruk, dia berlutut di hadapan Canika.
Dia memohon untuk Canika mau maafkannya. Dia juga memohon untuk Canika mau menerimanya lagi.
"Bangun, kak!"
"Jangan seperti ini, aku mohon!" Lanjut Canika. Dia meminta Wildan untuk berdiri dari lututnya.
"Maafkan aku,"
"Aku sudah memaafkanmu, kak. Tapi untuk kembali lagi ke padamu, maafkan aku... aku tidak bisa."
"Kita bisa memulainya dari awal, sayang."
Canika melepaskan tangan Wildan. "Hatiku sudah hancur untuk di perbaiki. Semua yang kamu lakukan sungguh membuat hatiku hancur, kepergian anakku cukup membuat aku tersadar kalau aku bukanlah wanita yang kamu inginkan. Maafkan aku, kak. Sampai bertemu di pengadilan."
...----------------...
Hay, semuanya. Sebentar lagi bulan suci ramadhan nih, author mohon maaf lahir dan batin ya kalau author punya salah. Yuk semaunya terus dukung author!
__ADS_1
Mampir juga ke sini, yuk!